Cari Blog Ini

Laman

Powered By Blogger

Senin, 28 Desember 2009

cinta sepotong mimpi

Dapatkah seseorang mencinta hanya karena sepotong mimpi? Mustahil. Namun, adikku semata wayang mengalaminya – setidaknya itu yang diakuinya. Gadis yang dicintainya adalah Lala, adik sepupunya sendiri. Wajar, bukan? Bahkan, menjadi halal saat kedua orang tuaku kemudian berpikir untuk meminangnya.

Semua berawal dari penuturan Jamal. Ia bilang, ia memimpikan Lala sebagai gadis yang diperkenalkan Ibu kepadanya sebagai calon istrinya. Kami sudah saling mengenal, Bu,” kata Jamal dalam mimpi itu dengan malu-malu. Gadis itu pun mengangguk dengan senyum malu-malu pula.

Sebenarnya Jamal tidak terlalu meyakini gadis itu adalah Lala. Wajahnya samar terlihat. Namun, Jamal merasakan aura gadis itu cukuplah ia kenal. Hebatnya, ini diperkuat oleh ayah kami. Di malam yang sama, beliau bermimpi tentang Jamal yang duduk di kursi pelaminan bersama Lala! Apakah ini pertanda? Entah. Hanya saja, sejak itu aku merasakan pandangan Jamal terhadap Lala berubah.

Mereka sebenarnya teman bermain di waktu kecil, namun tak pernah bertemu lagi sejak remaja. Keluarga Lala tinggal jauh di Surabaya, sementara kami di Jakarta. Kami jarang berkumpul, bahkan saat lebaran, sehingga kenangan yang dimiliki Jamal tentang Lala adalah kenangan di masa kecil dulu sebagai abang yang kasih kepada adiknya. Kasih dimana sama sekali tak terpikirkan untuk memandang Lala sebagai gadis yang pantas dicintai, bahkan halal dinikahi. Namun, mimpi itu mampu menyulap semuanya menjadi…cinta (?).

Mari katakan aku terlalu cepat menyimpulkan sebagai cinta. Barangkali saja itu hanya pelangi yang tak kunjung sirna mengusik relung hati adikku. Pelangi yang mampu merubahnya menjadi sok melankolis hingga membuat kami sekeluarga khawatir melihat ia kerap termenung menatap kejauhan, untuk kemudian mendesah perlahan.

“Mungkin kau harus menemuinya di Surabaya,” kata Ibu.

”Rasanya tak usah, Bu. Masak hanya karena bunga tidur aku menemuinya,” jawab Jamal.

”Barangkali saja itu pertanda.”

”Bahwa Lala jodoh saya?”

”Bukan. Bahwa sudah lama kau tak mengunjungi mereka untuk bersilaturahmi. Biar nanti Mbakmu dan suaminya yang menemanimu kesana.”

Jamal tertegun sejenak untuk kemudian mengangguk.

Wah, pintar sekali Ibu membujuk. Padahal tanpa sepengetahuan adikku yang pendiam itu, Ibu menyerahi kami tugas untuk ”meminang” Lala. Ibu betul-betul yakin mimpi itu sebagai pertanda sehingga memintaku menanyakan kepada Lala tentang kemungkinan kesediaannya dipersunting Jamal.

”Kenapa tidak minta langsung saja pada Paklik? Biar mereka dijodohkan saja,” kataku waktu itu.

”Ah, adikmu itu takkan mau.”

”Tapi…”

”Sudahlah. Ibu tahu Jamal belum terlalu dewasa. Kuliah saja belum selesai. Tapi setidaknya ia memiliki penghasilan dari usaha sambilannya berdagang, ‘kan?”

“Bukan itu maksudku. Apa Ibu yakin Jamal mau dengan Lala? Barangkali saja mimpinya hanya romantisme sesaat.”

Ibu tercenung. Aku yakin Ibu belum memastikan ini. Yang beliau tahu hanya Jamal yang bertingkah aneh. Itu saja. Selebihnya ia perkirakan sendiri. Sepertinya justru Ibulah yang ngebet ingin meminang Lala.

”Kupercayakan semua itu padamu.”

Walah! Berarti tugasku berlipat-lipat! Selain memastikan kesediaan Lala, aku pun harus memastikan perasaan adikku sendiri.

***

Ia diam. Sudah kuduga reaksinya begitu jika kutanyakan tentang kemungkinan perjodohannya dengan Lala.

“Kamu mencintainya?” Aku mengganti pertanyaan. Kali ini Jamal malah terkekeh.

”Mungkin… Entahlah. Rasanya tak wajar.”

Tentu saja tak wajar! Bagiku, mencinta karena sepotong mimpi hanya omong kosong. Lagi pula Jamal tak tahu seperti apa wajah dan kepribadian Lala dewasa ini. Aku pun tak tahu.

“Santai saja, Mal. Tak usah dipikirkan. Yang penting kita tiba dulu di sana,” kata Bang Rohim, suamiku.

***

Setiba di Surabaya, kami disambut keluarga Lala hangat.

”Wah, iki Jamal tho? Oala, wis gedhe yo?!” ucap Bulik.

Jamal hanya tersenyum. Apalagi saat pipi gendutnya dijawil Bulik seperti saat ia kanak-kanak dulu.

”Mana Lala, Bulik?” tanyaku saat tak mendapati anak semata wayangnya itu.

”Ada di dapur. Sedang bikin wedhang.”

Aku segera ke dapur. Aku sungguh penasaran seperti apa Lala sekarang. Kulihat seorang gadis di sana. Subhanalah, cantiknya! Ia mencium tanganku. Hmm, santun pula. Cukup pantas untuk Jamal. Tapi, aku harus menahan diri. Kata Bang Rohim, butuh pendekatan persuasif untuk menjalankan misi ini. Aku tak yakin aku bisa sehingga menyerahkan sepenuhnya skenario kepadanya.

Tak banyak yang dilakukan Bang Rohim selain meminta Lala menjadi guide setiap kami bertiga pergi ke pusat kota. Ia melarangku membicarakan soal perjodohan, pernikahan, pinangan atau apapun istilahnya kepada Lala. Katanya, kendati kami keluarga dekat, sudah lama kami tidak saling bersua. Bisa saja Lala memandang kami sebagai ”orang asing”. Upaya melancong bersama ini demi untuk mengakrabkan kembali Jamal, Lala dan aku. Kiranya ini dapat memudahkanku saat mengutarakan maksud kedatangan kami sesungguhnya nanti.

Malam ini saat dimana aku diperbolehkan suamiku mengungkapkan semuanya kepada Lala. Seharusnya memang begitu. Tapi Jamal mendahuluiku. Tak kusangka ia serius dengan perasaannya. Ia utarakan semuanya. Tentang mimpinya, tentang jatuh cinta, bahkan tentang pinangan.

“Mungkin Dik Lala menganggap ini konyol. Abang juga merasa begitu. Tapi, setidaknya sekarang Abang yakin dengan perasaan Abang. Jadi, mau tidak kalau Lala Abang lamar?”

Bukan manusia kalau Lala tidak kaget ditembak seperti itu. Ia tampak galau. Seperti aku dulu. Sayang Lala tak merespon seperti aku merespon pinangan Bang Rohim dulu.

“Maaf, Mas. Aku terlanjur menganggapmu sebagai kakak. Rasanya sulit untuk merubahnya.”

Berakhirlah. Sampai di sini saja perjuangan kami di Surabaya. Jamal tersenyum mengerti, namun kuyakini hatinya kecewa. Cintanya yang magis tak berakhir manis. Kami pulang ke Jakarta dengan penolakan.

Sejak hari itu, Jamal tak terlihat lagi melankolis. Ia kembali sibuk dalam aktivitasnya. Adikku itu benar-benar hebat. Kendati patah hati, ia tak mau larut dalam perasaannya. Bahkan, belakangan aku tahu ia belum menyerah. Setidaknya penolakan itu berhasil mengakrabkan kembali Jamal dengan Lala. Mereka berdua kerap berkirim SMS sekedar menanyakan kabar ataupun saling bercerita. Jamal betul-betul memandang ini sebagai peluang untuk mengubah pandangan Lala terhadapnya.

Waktu kian berganti hingga masa dimana Jamal mengutarakan lagi keinginannya itu. Sayang ditolak lagi. Begitu berulang hingga tiga kali.

Ayah dan Ibu prihatin melihatnya. Mereka tak bisa berbuat banyak. Keinginan mereka untuk menjodohkan saja keduanya Jamal tolak.

”Syarat orang yang menjadi calon istriku, haruslah tulus ikhlas menjadi pendampingku. Atas kemauannya sendiri, bukan pihak lain!” Begitu alasannya selalu.

Terserahlah apa katanya. Tapi ini sudah menginjak tahun kelima Jamal memelihara cinta tak kesampaian ini. Usianya kian mendekati kepala tiga. Cukup mengherankan ia tetap memeliharanya terus. Rasanya tak layak cinta itu dipelihara terus. Ia harus diberangus. Lala bukanlah gadis terakhir yang hidup di dunia. Untuk itu Ibu, Ayah dan aku kongkalikong untuk membunuh cinta Jamal. Sudah saatnya ia mempertimbangkan gadis-gadis lain. Kebetulan ada yang mau. Pak Haji Abdullah sejak lama ingin bermenantukan Jamal dan menyandingkannya dengan Azisa, anak sulungnya. Kami susun perjodohan tanpa sepengetahuan Jamal. Lantas, kami sekeluarga berusaha ”menghasut” Jamal untuk memperhitungkan keberadaan Azisa, temannya sejak SMU itu.

Alhamdulillah berhasil. Hati Jamal mulai terbuka untuk Azisa sehingga saat Pak Haji Abdullah meminta dirinya menjadi menantu, ia tak punya lagi pilihan selain mengiyakan.

***

Kesediaan Jamal memang sudah didapat, namun anehnya ia tak kunjung juga menentukan tanggal pernikahan. Kali ini naluriku sebagai kakak turut bermain. Rasanya Jamal tengah menghadapi masalah yang tak dapat dibaginya kepada siapapun, termasuk Azisa. Saatnya aku menjadi kakak yang baik untuknya.

”Entahlah, Mbak. Rasanya aku tak siap untuk menikah.”

Mataku terbelalak saat Jamal mengutarakan penyebabnya.

”Apa pasal?” tanyaku agak jeri. Aku tak berani membayangkan jika Jamal tiba-tiba membatalkan perjodohan. Keluarga kami bisa menanggung malu!

”Rasanya Azisa bukan jodohku.”

Aku semakin terkesiap. Aku mulai menduga-duga arah pembicaraannya.

”Lala-kah?” tanyaku. Jamal mengangguk pelan, namun pasti.

”Sebenarnya mimpi tempo hari itu tak sekonyong datang. Aku memintanya kepada Tuhan. Aku meminta Dia memberikan petunjuk tentang jodohku kelak. Dan yang muncul ternyata Lala!”

Aku kembali terdiam. Aku benar-benar payah. Sudah setua ini, masih saja tak dapat menjadi kakak yang baik buat Jamal. Aku bingung harus menanggapi bagaimana.

”Maafkan jika selama ini Mbak tak bisa menjadi kakak yang baik, Mal. Bahkan untuk masalahmu satu ini pun Mbak tak bisa menjawab. Hanya saja, kita tak akan pernah benar-benar tahu apa yang kita yakini benar itu sebagai kebenaran, Mal. Termasuk mimpimu. Mbak tidak tahu lagi harus menganggapnya omong kosong ataukah benar-benar pertanda. Kalaulah mimpi itu pertanda, pasti banyak sekali maknanya.”

”Kamu memaknainya sebagai cinta dan jodoh, Ibu memaknainya sebagai silaturahmi dan Ayah memaknainya sebagai tipikal istri ideal bagimu. Bukankah Azisa pun tak berbeda jauh dengan Lala? Mimpi itu nisbi, Mal.”

Jamal hanya mendesah pelan sambil memandang kejauhan. Mukanya masam. Mungkin tak menghendaki aku bersikap tak mendukungnya.

”Mungkin,” lanjutku, ”ini hanya masalah cinta saja. Mungkin hatimu masih hidup dalam bayangan Lala dan tak pernah sekali pun memberi kesempatan untuk dimasuki Azisa. Kau hidup di kehidupan nyata, Mal. Sampai kapan akan menjadi pemimpi?!”

Aku tersentak oleh ucapanku sendiri. Tak kuduga akan mengucapkan ini. Bukan apa-apa. Beberapa waktu lalu kami mendengar kabar Lala menerima pinangan seseorang. Kendati menyerah, aku yakin Jamal masih memiliki cinta untuk Lala. Ia pasti sakit. Aku betul-betul kakak yang tak peka. Aku menyesal. Aku peluk Jamal, menangis sesal.

Jamal turut menangis. Isaknya berenergi kekesalan, kekecewaan, kesepian, keputus-asa-an, bahkan kesepian. Aku terenyuh. Betapa ia menderita selama ini.

“Besok kita batalkan saja perjodohan dengan Azisa, Mal. Itu lebih baik ketimbang kau tak ikhlas menjalaninya nanti. Itu katamu tentang pernikahan, ‘kan? Kita bicarakan dulu dengan Ayah dan Ibu.”

Kupikir ini yang terbaik. Tak bijak rasanya tetap berkeras melangsungkan perjodohan di saat Jamal rapuh begini. Di saat Jamal terluka dan bimbang pada perasaannya. Biarlah keluarga kami menanggung malu bersama.

“Tidak. Kita teruskan saja. Aku ikhlas menjalani sisa hidupku bersama Azisa. Mungkin aku hanya membutuhkan sedikit menangis saja. Aku pergi dulu ke rumah Pak Haji untuk membicarakan ini. Assalamu’alaikum.”

Kutatap kepergian Jamal dengan perasaan tak tentu. Kalau diingat semua ini terjadi karena mimpi. Ya, Allah apakah benar mimpi itu pertanda-Mu? Jikalau benar kenapa sulit sekali terrealisasi? Jika pun tidak benar kenapa banyak orang mempercayai?

Aku terpekur. Maafkan aku adikku. Aku hanyalah insan, yang tak mampu menerjemahkan segala misteri-Nya, bahkan yang tersurat sekalipun. Aku hanya berusaha. Dia tetap yang menentukan. Maafkan aku.

mata merah,mati marah

"Dia belum tidur-tidur juga?", Ibu bertanya padaku perihal bapak yang masih terjaga.
"Sepertinya dia memang tidak pernah tidur". Sudah lama aku selalu mendengar suaranya. Siang sampai siang lagi. Tak pernah berhenti.
"Kenapa ya dia berlaku seperti itu?"
"Ibu tidak tahu? Seluruh peristiwa yang terjadi, sepertinya menjadi urusannya"
"Yang pasti, dia telah lupa sesuatu!"
"Apa itu?"
"Tidur!"

Aku dan Ibu berdebat soal bapak yang mondar-mandir di depan televisi. Kegelisahan
senantiasa terpancar dari gerakan yang dibuatnya. Entah itu dari caranya melipat sarung, atau gerakan jemarinya yang mengepal dan membuka seperti memompa sesuatu. Aku cemas dengan hal itu. Sebab waktu aku hendak donor darah, suster di rumah sakit memintaku untuk mengepal dan membuka telapak tangan, katanya biar darahnya mengalir lancar. Aku cemas darah bapak akan terus menerus mengaliri sekujur tubuhnya bahkan meledakkan jantungnya sendiri.

"Mata bapak merah lho". Aku beranikan diri untuk menegurnya.
"Namanya juga kurang tidur, Yon. Aku juga merasakan mataku perih".
"Kenapa bapak tidak tidur saja?"
"Tidur? Aku tidak akan tidur lagi, Yon".
"Tiap orang perlu istirahat pak. Jangan paksakan diri!", protesku.
"Aku sudah banyak menghabiskan masa istirahatku. Sekarang saatnya berjaga-jaga!"
"Memang mau ada apa pak?", aku semakin tak mengerti.
"Kamu tidak akan tahu kalau tidak mengalami sendiri".
"Apa itu? Mimpi?"
"Bukan. Tetapi suara peringatan".
"Bapak tidak tahu siapa yang memperingatkan bapak?"

Bapak hanya menggeleng perlahan. Matanya tampak membara ada rasa sakit dan marah terpancar . Aku lihat urat-uratnya begitu nyata. Bapak seperti mayat berjalan.

Ibu membuat susu hangat. Katanya itu obat mujarab untuk orang insomnia. Segelas besar, biar bapak cepat "tepar". Dengan senyum manis, seperti biasanya, ibu mendekati bapak. Dipeluk dan dicium tangannya. Sebenarnya ibu dari beberapa hari lalu sudah mencoba meluluhkan penjagaan bapak yang terlalu. Dia tidak ingin suaminya menjadi orang yang aneh bagi kehidupan rumah tangga ini. Tapi sampai sekarang dia belum pernah bisa menjadikan bapak sebagai seorang yang wajar menurut pemikirannya.

"Minum dulu pak susunya. Mumpung masih hangat".
"Aku tidak sedang haus bu, nanti saja".
"Apa perlu aku buatkan kopi?"
"Tidak usah bu, aku cuma tidak bisa tidur saja. Tidak ada masalah besar".
"Itu masalah besar, pak", ibu mulai berterus terang memprotes bapak.
"Bapak tidak ingin aku jadi janda kan?"
"Ibu ini apa-apaan sih? Justru aku ini berjaga dari segala kemungkinan yang ada!", bapak mulai meninggi.
"Memangnya bapak dengar apa sih?"
"Suara peringatan untuk senantiasa berjaga-jaga".
"Bapak tidak tanyakan kembali siapa yang meminta?"
"Aku yakin itu suara suci". Datar bapak bicara.

Kali ini kami semua diam. Tak ada lagi yang mau untuk bicara. Dunia pun seperti menghentikan laju detik-detik jam tua di sudut ruangan. Aku hilang akal. Ibu pun demikian. Bapak tak dapat ditahan. Kemauannya sudah sedemikian keras. Kami hanya bingung bagaimana fisik bapak yang sudah tua itu mampu di “forsir” demikian.

+++

Mata ibu merah. Sudah seharian dia menangis. Kelopak matanya sembab hingga kurasakan hawa di dekatnya pun jadi lembab. Sekarang aku yang kena giliran jaga, sebab fisik ibu tampak lemah. Kematian Bapak, meskipun kami selalu mewaspadainya lantaran dia tidak mau tidur, terjadi dengan cara yang tidak pernah kami perkirakan. Saat itu kami sedang makan malam, dia tiba-tiba berdiri.
"Mau kemana pak?"
"Ada suara ketukan, kalian tidak dengar? Sepertinya ada tamu".
Aku dan ibu berpandangan. Kami tidak mendengar apa-apa.
Belum tegak dia berdiri, matanya terbelalak lebar dan tubuhnya kejang. Kami segera menghambur ke arahnya.
"Kenapa pak?", tanya kami bersamaan. Berulang-ulang.
"Kenapa kalian menipu aku?!", teriaknya.
Aku dan ibu kembali berpandangan. Siapa yang dibilang telah menipu bapak? Kami? Menipu apa?

Sebelum semua itu terjawab, tubuh bapak limbunng. Tangan kami cepat menangkap tubuhnya sebelum dia terjatuh.

Saat itu, Bapak kelihatan dalam keadaan marah sekali. Tetapi kami tak pernah bisa mengerti sampai hari ini apa yang telah membuatnya begitu marah. Tak berapa lama, dia sudah tak bernyawa. Ibu pun meraung sejadinya. Aku mengguguk menahan sengguk. Dalam hati berkecamuk. Pertanyaan kami tak pernah lagi bisa dijawab. Aku pun menaruh dendam. Entah pada siapa. Yang jelas bukan pada Tuhan yang di tanganNya sudah digenggam nyawa bapak untuk dibawa pulang. Ah, aku tak mau berpikiran sejauh itu, malam ini biar aku tenangkan ibu sebelum melapor ke ketua RT dan mengabari tetangga.

Mata ibu masih merah, bahkan setelah wajahnya memucat putih, mata itu semakin kelihatan merah. Seperti api yang sedang membakar langit malam. Menyala-nyala. Aku sampai harus menundukkan pandangan jika dekat dengannya.

"Bu, sudah malam. Tidurlah…", pintaku.
Ibu hanya menggeleng pelan.
"Kasihan bapak, dia tidur sendiri di kuburnya yang sunyi"
Aku bergidik mendengarnya. Kumohon pada Tuhan agar ibu bisa bertahan.
"Bapak sudah pulang ke rumah yang tenang. Ibu harus ikhlaskan dia", kucoba untuk menenangkan pikirannya. Meskipun aku tahu ibu takkan pernah bisa tenang. Ada hal yang ingin dia sampaikan kepada bapak dengan caranya sendiri. Sebagai anak, aku tak harus mengetahuinya.

Akhirnya sebelum malam tergelincir di kaki fajar, dia sudah tertidur. Meskipun tak begitu pulas. Matanya masih bergerak-gerak meski sudah tertangkup pelupuk. Aku pergi ke kamarku sendiri. Sekedar merebahkan penat yang sudah sangat berat menggelayut di punggungku. Sejak tadi malam aku bekerja keras mengurus pemakaman bapak.

+++

Kamar ini masih kukenal. Bahkan sepertinya tidak pernah lepas dari pandanganku sejak dulu. Warna dindingnya yang hijau muda (bapak dulu yang memilihkan catnya; katanya warna hijau muda itu warna seorang remaja yang tumbuh dengan berbagai harapan) sekarang sudah tampak kusam dan berlumut di sana-sini. Ada bau pengap. Sepertinya jendela dengan kisi-kisi dari kayu itu sudah lama tak pernah dibuka. Bau apek dari celana, jaket jins, dan kaus oblong warna hitam yang menggantung menyeruak semenjak pintu kamar ini terkuak.

Ada yang sudah lama pergi? Aku tak ingin diam lama di kamar itu. Rasanya hawa di dalam kamar itu begitu dingin untuk tubuhku yang kurasakan kian rapuh. Pikiranku kembali melayang pada beberapa masa silam.

Pada sebuah rumah mungil. Hasil jerih payah seorang guru – bapakku - yang hanya punya keinginan sederhana. Mempunyai rumah tangga yang bahagia. Menjadi imam di dalam majelis kecil bernama keluarga. Dengan penuh rasa tanggungjawab dipeliharanya kami dari segala dampak buruk pergaulan ibu kota. Namun pada akhirnya, dia sendiri mengalah pada nasib yang tidak menentu. Alih-alih mencari tambahan penghasilan keluarga, dia terlibat pemalsuan dokumen kelulusan seorang pejabat. Maka, sekitar empat tahun lebih dia terpaksa meninggalkan seorang istri yang cantik dan anak yang berangkat remaja. Keduanya menganggap bapak sebagai seorang penipu.

Selama di penjara bapak tak pernah tahu, istri cantiknya pernah dengan sangat terpaksa ikut rapat di suatu villa di daerah Puncak dengan ketua yayasan pendidikan tempatnya bekerja demi sebuah permohonan pembebasan uang pendidikan anak tunggal mereka. Dan bapak juga tak pernah tahu anak remajanya merasa rumah mungil tempat tinggalnya seperti neraka belaka.

Tapi kemudian - entah apa itu namanya - karena kesadaran atau hanya sekedar menghibur bapak sebagai orang yang kalah perang, aku dan ibu menutup rapat semua peristiwa yang telah berlalu di belakangnya. Hingga beberapa hari sebelum kematiannya bapak merasa mendengar suara-suara yang mengingatkan dirinya untuk senantiasa berjaga-jaga.

+++

Sebelum pintu kamar kututup, ada yang berbisik lirih dari dalam kamar itu. Aku terbelalak menatap pada kaca jendela. Ada bayangan di sana. Bayangan dari masa kelam yang ibu dan aku sembunyikan. Mungkin dia lah yang membisikkan rahasia kami kepada bapak.

Jakarta, Oktober - November 2006.

penyesalanku

Bulan maret 2009 adalah awal dari kisah ku ini. Aku jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang menurut ku layak untuk dicintai. Usut demi usut ternyata dia mempunyai masa lalu percintaan yang tak menyenangkan. Ia mencintai seorang gadis yang tak pernah menyatu. Aku tak tahu mengapa mereka tidak menyatukan cinta kasih mereka. Padahal mereka sudah saling mengetahui satu sama lain bahwa mereka saling mencintai. Namun itu adalah satu keberuntungan untukku.Satu bulan pendekatan telah aku lakukan dengannya. Aku merasa ia menyimpan satu kesempatan untuk ku. Namun ternyata aku salah. Hati ini seakan hancur ketika ia tidak sedikitpun mencintaiku. Karena ia belum bisa melupakan gadis dalam masa lalunya. Aku coba beri pengertian untuk hati ku sendiri. Ku tenangkan gejolak cinta ini. Dan akupun mampu melakukannya.Beberapa minggu berselang ia bertaruh dengan sahabatku. Siapa yang kalah dalam pertandingan ia harus mengungkapkan cinta pada orang yang ia sayang. Ia pun kalah dalam pertandingan itu dan akhirnya menyatakan cintanya padaku. Aku curiga, secepat itukah ia menerima ku? Karena pada waktu itu sudah berhembus kabar tentang hubungan ku dengan dia. Dalam kecurigaan ku tak dapat ku berfikir. Dalam sempitnya waktu tak sempat ku menerka-nerka apa yang telah terjadi. Yang ada dalam pikiranku saat itu adalah aku akan menghapus masa lalunya. Dengan keyakinan itu aku terus melangkah dan menerima cintanya. Bahagia memang tak terkira saat itu. Kita jalan berdua mengelilingi kota jogja.Beberapa bulan setelah kebahagiaan itu satu kejujuran terlontar dari bibirnya. Ia bilang pada ki “ay, sebenernya waktu aku nembak kamu itu nggak ada rasa ma kamu Tapi setelah kita jalan berdua aku baru tau lok aku juga sayang sama kamu.” Kejujuran itu membuat aku hancur untuk yang ke dua kalinya. Walaupun akhirnya ia juga mencintaiku namun tetap sakit ini tak bisa dipungkiri.Empat bulan sudah kami bersama. Suka duka kita lalui. Hingga akhirnya kita naik ke kelas XI. Aku tak menyangka jika aku bisa sekelas dengannya. Teman-teman sekelas ku belum mengetahui hubungan ini. Hanya beberapa yang memang sudah mengikuti kisah ku dari awal. Di kelas XI aku duduk dengan seorang cewek yang tingkahnya sangat bertolak belakang dengan ku, Sebut aja namanya Tia. Aku cewek yang cenderung tomboy sedangkan dia cewek yang terlalu feminin. Aku dan Tia sudah seperti kakak-adik. Semua keluh kesahku aku curahkan kepadanya. Sampai suatu saat cowok ku jujur kembali pada ku. Ia mencintai Tia. Aku fikir ini hanya sementara, karena ia hanya melihat sosok Tia seperti teman kecilnya. Hingga cowok ku menunjukan sebuah sms yang membuat ku tak dapat menahan air mataku. Sms dari Tia. Selama ini ternyata Tia mencintai cowok ku. Untuk ketiga kalinya hati ku tercabik-cabik dan ini yang paling parah.Sejak kejadian itu aku selalu curiga pada mereka berdua. Mereka bermain skap didepan ku. Seolah-olah mereka tidak saling memperhatikan namun ternyata mataku melihat sedikit lirikan di mata mereka. Hancur seketika aku melihat itu. Aku masih menyayangi cowok ku, so aku beri kesempatan padanya bahwa ia akan melupakan Tia. Namun saat semesteran, aku dapat berita dari temanku yang mengetahui masalah ku. Ia bilang kalau setiap hari ia masuk ke ruangan Tia dan parahnya cowok ku duduk di samping Tia. Ya Allah, kenyataan apa lagi ini yang aku terima! Hati ku terlalu sakit untuk menerima semua ini. Akhirnya aku putuskan untuk menyudahi kisah ku dengannya. Awalnya ia tak mau namun aku yang memintanya dan ia mengabulkannya.Setelah aku tak mempunyai status lagi dengannya, ia sempat menjauhi ku. Krena kau tak sanggup di cuekin olehnya, aku memintanya agar tak menjauhi ku. Ia pun mau walaupun membutuhkan waktu yang lama untuk meyakinkannya. Semenjak itu aku dan dia tetap menjalin komunikasi. Dalam setiap smsnya selalu menyesali dirinya. Ia menyadari begitu berartinya aku dalam hidupnya. Namun semua terlambat, aku sudah nyaman dengan kehidupan ku sekarang. Terlalu takut hati ini untuk menerimanya kembali.

Kamis, 24 Desember 2009

ghost of love

“Vin, besok jangan lupa bawa catatan kimia, fisika, matematika, and biologi ya,’’ kata Adit.
‘’Iya deh,,iya..,’ ‘ sambungku.
‘’Eits,,wait !oh ya,catatan jepang juga ya..,’’ kata Adit lagi.
‘’Iya…,’’ jawabku singkat.
‘’Jangan lupa lho…,’’ katanya lagi.
‘’Iya Dit….iya…,’’ jawabku singkat lalu kututup HP-ku. Habisnya,temanku yang satu ini paling recok deh. Kalau bicara sama dia,aku bisa gondokan nih…tapi,dia itu teman aku yang paling baik lho. Ada satu lagi temanku yang namanya Rian, hubungan kami bertiga sangat akrab.

Esoknya, saat istirahat,aku dan Rian pergi ke kantin untuk makan. Beberapa saat kemudian Adit tidak muncul juga. Kami berdua keheranan, padahal biasanya kami bertiga makan sama-sama. Sampai waktu istirahat berlalu, Adit tidak muncul juga. Jadi aku dan Rian memutuskan untuk beranjak masuk kelas. Saat pulang sekolah pun kami tidak melihat Adit. ‘’Mana sih ni anak??’’ gerutu Rian, kami berdua makin heran,dan Rian mengusulkan untuk pergi ke rumah Adit.

Kami sampai di rumah Adit, pengurus rumahnya yang membukakan pintu untuk kami.Mak Tita menyuruh kami langsung naik ke kamar Adit saja.
‘’Dit..napa lu?,’’ sapaku saat melihat Adit terbaring. ‘’Lagi sakit nih…,’’ jawabnya lemas. ‘’Tumben..Lu bisa sakit juga ya…,’’ ejek Rian.
Kami bertiga pun tertawa secara serentak. Habisnya Adit tuh yang biasanya overacting paling semangat dan paling recok. Aku dan Rian tak menyangka kalau rupanya Adit bisa jatuh sakit juga.
‘’Sakit apaan sih lu?,’’ tanyaku.
‘’Mau tau aja Lo…,’’ jawabnya sombong.
‘’Dasar lu! lagi sakit pun sombongnya minta ampyuun, ntar gak bisa sembuh lho…,’’kata Rian membelaku.
‘’Ada aja…,’’ kata Adit.
‘’Dasar lu…,’’ kata Rian sembari menggelinya.
‘’Eh guys, Gue punya pertanyaan nih..’’ kata Adit.
‘’Iya, apaan?,’’ tanyaku. ‘’Kalo Lo hidupnya tinggal sehari, apa yang mau Lu lakuin?’’ tanyanya.
‘’Kalo gue, mau pergi ke tempat favorit gue and ngehabisin hari gue di sana,’’ jawabku singkat.
‘’Kalo gue, mau tidur aja deh jadi gue gak bakalan menderita waktu gue lagi sekarat,’’ kata Rian.
‘’Oh,,.iya donk,,habisnya hobi lo kan molor aja…,’’ ejekku.
‘’Nah,gimana kalo lo Dit?,’’ tanyaku padanya. ‘’Kalo gue… gue pingin ngehabisin waktu yang ada bersama cewek yang gue suka,’’ jawabnya dengan muka yang sedih.

Dan ia menatapku. aku merasakan kalau tatapan itu ada maksudnya. Habisnya tatapan itu aneh. Sedangkan Rian terus merecokinya dengan cewek yang ia sukai itu, aku sih tidak begitu peduli, habisnya aku sudah tau kalau Adit suka sama seorang cewek. Namun aku penasaran juga, jadi aku juga ikut-ikutan Rian merecokinya. Tapi Adit tak pernah mau mengatakanya,
Kami berdua menghabiskan sore itu di rumah Adit dan berbincang-bincang dengannya. Saat hari sudah mulai gelap aku dan Rian pun berpamitan.

***

Liburan kali ini Rian pergi ke luar kota bersama keluarganya. Jadi tinggal aku dan Adit yang tak punya rencana kemana-mana. Akhirnya Adit mengajakku untuk pergi ke kampung halamannya. Dan aku setuju saja, di sana banyak padang rumput yang hijau yang penuh bunga. Aku sangat menyukai tempat itu. Kami berdua bermain di sana setiap hari dan kurasakan kalau aku mulai menyukai Adit. Tapi aku tak tahu bagaimana perasaan Adit terhadapku. Jadi kupendam saja perasaanku ini.

Lagipula aku sudah berjanji akan berpacaran dengan Rian setelah ia kembali dari liburannya. Jadi hubunganku dengan Adit adalah tidak mungkin. Tak mungkin aku mengingkari janji ku dengan Rian dan mengatakan pada Rian kalau aku menyukai Adit. ‘’Tidak mungkin,’’ pikriku.
Dan aku tetap melewati hari-hariku bersama Adit dan berharap bahwa hari-hari ini tidak akan pernah berakhir. Namun waktu tetap berjalan dan waktu liburan tinggal satu hari lagi.

Esoknya, Adit mengajakku ke padang rumput dan kami menghabiskan waktu bersama di sana. Kami berbincang-bincang dan tiba-tiba Adit memelukku dari belakang dan kudiami saja. Ia memelukku erat-erat tanpa berkata apa-apa. Sesaat kemudian aku memanggilnya dan ia tak menjawab. Jadi kupanggil lagi ia tetap tidak menjawab. Aku pun menjadi heran.

Tiba-tiba Adit jatuh dan tak sadarkan diri. Aku menjadi takut dan kubawa ia ke rumah sakit terdekat.Dokter mengatakan kalau ia kena serangan jantung. Dari dulu ia punya penyakit jantung bawaan dan penyakitnya bisa kambuh kapan saja. Aku masih tak percaya atas penjelasan dokter dan aku berusaha masuk ke kamarnyadan memanggilnya.Namun ia tak menjawabku, air mataku menetes tanpa kusadari.

‘’Apakah ini saat-saat yang tidak ingin aku alami ini harus terjadi sekarang?,’’ tangisku dalam hati. Hatiku menjerit ketika aku kehilanagan orang yang kusuka. Aku bukan saja kehilangan tubuhnya,namun juga jiwanya. Aku berpikir bahwa aku masih bisa melihatnya, menyentuhnya dan akrab dengannya meskipun hanya sebagai teman.

Namun sekarang aku tidak memilikinya lagi, baik sebagai teman ataupun pacar aku merasa sangat terpukul. Namun aku masih mempunyai satu hal yang tak bisa direbut siapapun dan apapun yaitu kenangan bersamanya, selamanya aku akan mengingat hari-hari dimana aku bersama Adit.
Saat Rian pulang dari luar kota ia juga merasa sedih akan kepergian Adit. Namun,itu semua berlalu dengan cepat. Aku dan Rian saling melengkapi dan memahami. Aku sudah tak begitu sedih lagi akan kepergian Adit karena ada Rian yang senantiasa di sampingku dan menghiburku. Ia mengisi hari-hariku dan sekarang aku sudah bisa menerima kehilangan Adit dan keberadaan Rian.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa sifat Rian mulai berubah. Aku bisa melihat sifat Rian menjadi sama seperti sifat Adit. Mungkin Rian berusaha meniru gaya Adit,pikirku pada awalnya. Tapi lama kelamaan hal itu semakin mejadi-jadi. Aku tak mungkin salah membedakan yg mana Adit dan Rian. Akhir-akhir ini aku merasakan keberadaan Adit pada diri Rian atau itu hanya perasaanku saja?.

Tapi tak mungkin sikap Rian dan Adit sangat berbeda, meskipun kalau Rian meniru gaya Adit, kadang-kadang pasti ada juga kesalahan sikap Rian menjadi perhatian tapi tak selembut Adit. Rian biasanya bisa mengubah suasana menjadi seru dengan pamer-pameran, Namun Adit bisa mengubah suasana menjadi romantis dan akhir-akhir ini Rian menjadi lembut dan hangat, aku bisa merasakannya. Ini bukan sikap Rian yang biasanya sikap ini sama seperti sikap Adit.

Setahun setelah kematian Adit, aku dan Rian pergi ke padang rumput yang berbunga di desa Adit, aku teringat setahun yang lalu ketika aku dan Adit bermain di sini di padang rumput ini. Ia memetikkan aku setangkai bunga lili yang putih bersih. Sekarang datang kemari bersama Rian, anehnya kali ini Rian yang memetikkan bunga untukku dan bunga itu sama dengan yang Adit berikan padaku setahun lalu.

Rian juga melakukan hal sama seperti Adit setahun lalu. Ia memelukku, Aku tak tahu siapa yang memelukku Rian ataukah Adit. Wajah yang kulihat adalah Rian, tubuh yang memelukku adalah Rian tapi mengapa kurasakan kehadiran Adit? yang kurasakan adalah kehangatan Adit. Aku heran aku berpikir ini adalah Adit, pasti Adit, Aku yakin.

‘’Dit, apakah ini lo?,’’ tanya ku pada Rian. Aku menatapnya lekat-lekat dan ia tersenyum padaku. ‘’Iya Vin. Ini gue Adit,’’ jawabnya. Aku tak bisa lagi menahan air mata ku. Aku tak pernah tahu bagai mana Adit bisa ada di tubuh Rian, tapi yang pasti kulakukan adalah memeluknya erat-erat. Kalau bisa aku tak mau melepasnya sudah lama aku kehilangan dia.

‘’Vinada yang mau gue katakan sama lo, gue dari dulu suka sama lo. Maaf ya kalo gue baru bilang sekarang. Mungkin udah telat tapi Vin gue datang untuk mengatakannya.Gue mau lo tahu kalo gue suka sama lo Vin,” terangnya sambil diakhiri dengan jeritan sembari memelukku erat-erat.

‘’Iya Dit,gue udah tau kok. Gue juga suka ma lo’’ ujarku sambil menatap matanya. Dulu gue suka sama lo Dit. Sampai sekarang juga.gue gak terima kenapa lo ninggalin gue tanpa berkata apa-apa.Dan kenapa lo sakit lo gak mau kasih tau gue? kenapa Dit?,’’ tanyaku sambil menangis
‘’Maaf Vin, gue gak mau lo sedih,’’ ujarnya dengan rasa bersalah. ‘’Tapi sekarang gue juga merasa sedih kan Dit?,’’ desakku.

‘’Maaf Vin, tapi kalao lo mau,gue bisa tinggal di sini,di tubuh Rian dan kita bisa hidup bersama.’’ terang Adit..’’ Tapi bagaimana dengan Rian?,’’ tanyaku. ‘’Rian…Rian mesti mengorbankan dirinya demi kita Vin. Dia pasti mau Vin. Dia pasti mau ngelihat lo bahagia,’’ balas Adit. ia mengatakan seolah-olah Rian menyetujuinya, sejenak aku berfikir bahwa Adit hanya mau menang sendiri.
‘’Enggak Dit. Ini tubuh Rian. Ini milik Rian. Gue gak mau Rian mengorbankan dirinya demi kita. gue gak mau Dit,’’ tolak ku. ‘’Jadi lu memilih berpisah Vin?,’’ tanya Adit. ‘’Maaf Dit, ini tubuh Rian, jangan egois Dit, hubungan kita sudah terlambat. Gak mungkin bisa kembali lagi,’’ ujarku dengan tegar menahan air mataku.

‘’Gue ngerti Vin, tapi maaf udah bikin lo sedih. Tapi gue yakin bisa menghibur lo. Rian bisa menggantikan posisi gue, gue suka lo Vin. gue akan tetap suka lo selamanya.gue janji..,’’ ungkapnya. ‘’Gue juga suka sama lo Dit…,’’ balasku.
Kemudian ia menciumku dan esoknya aku terbangun di kamar dengan Rian yang sudah menungguku dengan wajah cemas. ‘’Vin, lo kok tiba-tiba pingsan sih?,’’ tanya Rian cemas. Aku hanya tersenyum mendengar perkatannya. Kusadari, ini baru benar-benar sikap Rian, aku masih membayangkan apa yang terjadi itu benar- benar atau hanya mimpi? tapi aku tahu ini adalah nyata, karena aku mengenal tatapan yang mampu menembus hatiku sama seperti Adit lakukan dulu padaku.

‘’Udah Vin… jangan dipikirin. ntar gue jealous lho…,’’ kata Rian. ‘’Sekarang lo mesti kosentrasi buat suka sama gue dan thanks ya udah milih gue jadi pendamping lo…’’ terang Rian sambil tersenyum.
‘’Udah kalau gitu, sekarang lo istirahat ya…,’’ kata Rian. Aku tak tahu kalau Rian mengetahui semua kejadian saat aku bersana Adit. Saat ini aku merasa lebih bahagia, aku bersyukur masih ada seseorang yang bisa menyukaiku dan menyayangiku dengan sepenuh hati.***

senyuman terindah dan terakhir

Syla amila, itulah nama sahabat yang selalu hadir dalam kehidupanku. Aku sangat mengenal Syla, dialah sosok jiwa yang kukagumi. Ia selalu tegar menghadapi cobaan yang menerpanya. Se-nyumannya yang indah selalu bisa meluluhkan hatiku saat aku sedang menasehatinya. Nilai rapornya tidak pernah merah, dan dialah seorang yang dianugerahi kecerdasan oleh Al-Wahhab.

Namun, waktu untukku dapat menemuinya dalam keadaan sadar semakin berkurang. Penyakit berbahaya yang telah bertahun-tahun menyerangnya, membuat Syla lebih sering berada di ruang yang penuh dengan aroma obat-obatan dan Syla tidak lagi melakukan aktivitas yang biasa dilakukan anak seusiaku. Penyakit yang dialami Syla juga pernah dirasakan ibunya, yang telah lama berpulang ke rahmatullah.

Setelah beranjak pergi dari bangunan tempat proses pembelajaran, biasanya aku pulang bersama sahabatku, Syla, sekarang aku hanya sendiri menyusuri jalanan sepi.

Aku pulang ke rumah, mengganti baju, dan segera menuju ke supermarket, untuk membeli buah-buahan. “Cio…” terdengar sebuah suara menyapaku dari belakang. Saat aku berbalik, terlihat sesosok pria tinggi, berumur sekitar lima puluhan.
“Ehh… Om Anton, beli buah juga ya? Gimana keadaan Syla, apa dia udah sadar?” tanyaku bertubi-tubi.
“Iya, Oom beli buah juga untuk Syla. Alhamdullillah sekarang Syla udah sadar. Cio mau menjenguk Syla, ya?” jawab Om Anton sambil bertanya balik.
“Iya, Om.”

“Kalau gitu, bareng om aja. Oom juga mau ke rumah sakit,” tawar Om Anton.
“Iya Om, Cio ikut sama Om Anton.” jawabku.

Sebelum menuju ke rumah sakit, aku dan Om Anton menuju ke sebuah toko bunga hidup. Aku memilih tiga batang bunga anggrek putih, dan Om Anton memilih serangkaian bunga anggrek merah muda. Setelah membayar bunga yang dipilih, kami langsung menuju ke rumah sakit.

“Syla…” kataku sembari mendekapnya penuh kerinduan. Kesepianku terobati, bibirku yang tadinya datar karena nilai ulanganku yang di bawah standar, menjadi sebuah lengkungan atau tepatnya menjadi sebuah senyuman.

“Syl… kamu cepat sembuh ya. Aku rindu saat-saat bersama kamu beberapa tahun lalu. Sepi. Itulah yang aku rasakan selama ini, Syl…” kataku usai mendekapnya, dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kamu gak usah khawatir aku pasti sembuh, ya, kan, Pa?” jawabnya sambil tersenyum ramah, lalu menoleh kearah ayahnya.
Om Anton hanya mengangguk dan mengiyakan ucapan anak semata wayangnya itu. Om Anton selalu terlihat sedih jika ia menatap Syla. Walaupun Syla berkata seperti itu, aku tetap khawatir kepadanya. Ia selalu menutupi hal yang sebenarnya selalu menyiksanya.

Hari berganti hari. Keadaan Syla seakan tak dapat diselamatkan. Darah yang keluar dari hidungnya semakin sering dan semakin banyak keluar dengan sia-sia. Hatiku makin perih, apalagi Om Anton, ia takut kehilangan gadis kecilnya yang akan genap berusia empat belas tahun.

***

Seperti biasanya, hari ini pun aku akan pergi ke rumah sakit. Huh… siang ini sang mentari bersinar dengan sesukanya, sepertinya ia tega membakar kulit makhluk hidup yang hanya berpayungkan langit.

Sesampainya di rumah sakit, aku melihat Syla seperti makhluk yang tak berdaya, hidung, mulut, dan telinganya mengeluarkan darah yang tak hentinya mengalir. Dokter,dan perawat berusaha menghentikan darah yang mengalir. Hatiku getir. Tak kuasaku menahan tangisan ini, begitu juga dengan Om Anton yang tak hentinya memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Bibir Syla sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi sulit baginya untuk menggerakkannya, hanya menangis yang dapat Syla lakukan. Setelah itu kulihat senyuman terindah dari bibirnya.

Tak lama hal itu berlangsung, nafas, serta detak jantung Syla berhenti. Tuhan sudah berkehendak. Hal yang paling ditakuti Om Anton akhirnya terjadi. Langit yang berwarna cerah berubah kelabu, tetesan kristal berjatuhan dari langit.
“Sylaaaa…” teriakku berbarengan de-ngan guntur yang seakan ikut bersedih bersamaku, dan Om Anton. Syla telah menyusul ibunya. “Syla… selamat tinggal, suatu saat aku akan ke sana dan menemui-mu”.

***

Sabtu, empat belas Februari. Aku pergi ke toko bunga hidup, kali ini aku membeli serangkaian bunga anggrek. Lalu pergi ke TPU untuk berziarah ke makam sahabatku, Syla. Tidak sulit bagiku untuk mencari makam Syla, hanya beberapa meter dari gerbang TPU. Dari gerbang kulihat seseorang berada berada di makam Syla. Kuperhatikan orang itu. Beberapa saat kemudian, ia berdiri dan beranjak dari makam Syla.

Akupun melanjutkan perjalananku menuju makam Syla. Saat berpapasan ternyata orang itu adalah Om Anton. Ia menyapaku dan tersenyum, lalu ia bilang padaku bahwa Syla ada di sini. Aku terkejut, mungkin Om Anton hanya bercanda. Aku hanya tersenyum, dan berjalan menuju makam Syla.

Kuletakkan serangkaian bunga anggrek yang kubeli tadi di atas makam Syla. Aku mengucapkan selamat ulang tahun dan selamat hari kasih sayang pada Syla. Dan aku pandangi batu nisan tempat nama sahabatku diabadikan.

Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan di depanku atau lebih tepatnya seseorang. Wajahnya mirip dengan sahabatku, ia tersenyum padaku. Senyuman itu mengingatkanku pada senyuman terakhir Syla. Kubalas senyum itu, seketika ia menghilang.
Mungkinkah itu Syla….?***

sebait puisi kala desember

Pagi ini tak seperti pagi-pagi kemarin. Matahari sudah tak enggan lagi bersinar dengan kecerahan yang sempurna. Sudah tak ada lagi awan hitam yang menyembunyikannya. Yang ada justru awan-awan putih seperti kapas yang bergerak lamban ditiup angin sepoi. Dengan background langit biru.

Burung-burung pun seolah ikut berperan. Suara-suara cicit yang terdengar bukannya membuat berisik melainkan seperti melodi yang akan menjadi pembuka kisah hari ini. Ia terbang kesana-kemari, bertengger dari satu pohon besar ke pohon besar lainnya. Saling menyenandungkan lagu yang hanya mereka yang mengerti artinya. Merekalah satu-satunya yang membuat tempat ini tak benar-benar sepi.

Semangatku pun lahir dengan hadirnya pagi yang penuh warna ini. Setelah kemarin aku merasa sendiri, kesepian. Gara-gara hujan tak berhenti turun selama satu minggu, tak ada satu orang pun yang datang ke tempatku. Aku memang sudah hampir satu bulan tinggal di sini. Jadi setiap hari aku selalu berharap ada orang yang mau datang ke rumah baruku, tak diajak mengobrol pun tak apa, mereka sudah datang melihatku saja aku sudah senang.

Awalnya aku tidak tinggal di sini. Aku tinggal di sebuah rumah kos bersama beberapa teman yang kuliah di universitas yang sama denganku. Kami semuanya berjumlah dua puluh orang. Bayangkan betapa ributnya rumah yang ditinggali dua puluh wanita yang dikenal sebagai makhluk yang rumit. Setiap hari setiap orang membawa masalah yang berbeda-beda. Mulai dari soal cinta, tumpukan tugas-tugas dari kampus, sampai masalah kewanitaan. Tak ada lagi yang dirahasiakan.

Aku rindu dengan semua itu. Saling berbagi dan kadang-kadang saling marah seperti anak kecil berkelahi. Apalagi aku dikenal sebagai orang yang tak bisa diam, hiperaktif, kata mereka.

Maka ketika harus berpisah dari mereka dan tinggal sendiri, tanpa siapa-siapa, membuat aku menangis setiap malam. Semoga saja tak ada yang mendengar suara tangisanku. Sebenarnya aku juga tak mau hidup seperti ini, sebatang kara seperti tak punya siapa-siapa. Tapi apa mau dikata, jalan hidup masing-masing orang sudah ada yang mengatur. Aku tak bisa apa-apa.

Ah, kenapa aku seperti menyalahkan takdir. Seharusnya aku yakin bahwa Tuhan memiliki maksud di setiap rencana-NYA. Dia juga pastilah memiliki suatu rencana dengan menempatkan aku di sini. Dia jauh lebih tahu apa yang terbaik buatku melebihi diriku sendiri.
Seperti pagi ini, aku yakin pasti akan ada orang yang datang mendatangiku. Kalau tidak mengapa dia membiarkan matahari bersinar di bulan musim penghujan, Desember. Suatu hal yang tidak biasa. Ketika pikiranku tengah asyik melayang-layang dari teman-teman kos, rumah baruku, sampai takdir Tuhan, tiba-tiba saja satu keajaiban datang.

Sebuah mobil berhenti di depan. Aku berusaha menajamkan penglihatanku demi apa yang sekarang aku saksikan. Dua sosok, seorang pria dan seorangnya lagi wanita, turun dari kendaraan yang baru saja membawa mereka ke sini. Aku biarkan mereka berjalan mendekatiku.
Semakin dekat aku mampu mengenali keduanya. Yang perempuan, Mela, dia bukan saja teman satu kosku dulu tapi dia juga teman satu kampusku. Maka jadilah kami bersahabat. Dia tahu semua tentang diriku, begitu juga aku tahu semua tentang dirinya. Tak ada yang kami rahasiakan. Sama-sama tinggal jauh dari keluarga membuat kami seperti kakak-adik.

Dan laki-laki yang bersamanya adalah Kokoh. Tapi dia tak seperti namanya, tak sekuat namanya. Apalagi setelah berpisah denganku. Tepatnya aku yang meminta kami untuk berpisah. Ia tak bisa menerimanya dan meminta alasan mengapa aku lakukan itu. Aku bilang tak tahu, ia tak percaya. Padahal aku memang benar-benar tak tahu. Aku sendiri tak bisa mengenali perasaan apa waktu itu yang membuat aku yakin untuk memutuskan hubungan kami. Hubungan yang bahkan sudah hampir menuju ke arah pernikahan.
Mereka berdua tepat berdiri di depanku, lalu tanpa kupersilahkan mereka serentak berjongkok. Aku sudah berniat untuk berhenti menangis tapi aku tahu kali ini akan gagal.

Aku yakin, pasti Mela yang membawanya ke sini. Pasti Kokoh yang memaksa sahabatku itu untuk menunjukkan tempat baruku. Aku sengaja meminta Mela untuk jangan menginformasikan apapun perihal hidupku kepada Kokoh. Biarlah cerita perpisahan kami menjadi akhir atas segalanya. Jangan ada lagi lanjutannya, Kokoh sudah cukup tersakiti. Aku tak mau menambah sakitnya jika ia tahu yang sebenarnya. Tapi sahabatku itu tak akan sanggup membiarkan seorang pria menangis di hadapannya. Kokoh, bahkan aku lebih kuat darinya.

Dan drama pagi ini benar-benar dimulainya dengan isakan dengan kepala yang tertunduk dalam. Mela ikut me-nangis. Aku memohon supaya mereka jangan menangis. Sia-sia, tak ada seorangpun yang bisa mendengar suaraku. Aku pun ikut menangis. Aku juga terluka dengan perpisahan ini. Bahkan lebih terluka dari luka yang mereka punya.

Aku tidak saja harus berpisah dengannya dan teman-teman yang lain, tapi juga orang tuaku. Parahnya aku juga harus berpisah dengan dunia-tempat di mana selama ini aku ada.

Isakan itu mulai berhenti namun tak menghentikan isakanku kare-na kalimat yang diucapkannya membuat aku ingin hidup kembali. Mustahil akan terjadi.

“Aku masih mencintaimu, Bidadariku. Bagaimana denganmu?” Dadaku bertambah sesak, seharusnya dia tak menanyakan itu. Dia pasti tahu jawabanku sekarang. Aku masih sangat mencintainya.
Mela mengerti itu. Ia sentuh pundak Kokoh, dengan isakan yang semakin kuat, ia mengatakan, “Jangan menanyakan itu, Ko. Fara akan sedih mendengarnya.”

Seolah-olah tak menghiraukan apa yang dikatakan Mela, Kokoh melanjutkan kalimatnya, “Maaf, Bidadariku, aku membiarkanmu menanggung rasa sakit sendirian. Aku telah menyalahkanmu padahal aku tak tahu apa-apa tentangmu.”
Aku memang tak memberitahu Kokoh tentang penyakitku. Penyakit yang menurut para dokter akan mengambil jatah hidupku dengan sangat cepat. Aku mencela mereka saat itu, tahu apa manusia tentang ajal.

Lama-kelamaan penyakit itu seperti mengambil semua ketahanan tubuhku. Aku jadi ikut membenarkan diagnosa para dokter bahwa aku takkan bisa bertahan hidup lebih lama. Aku sangat sedih tapi aku tak mau membuat orang lain menjadi sedih dengan keadaanku. Pikiran itu yang membuat aku memutuskan untuk merahasiakannya sendirian.

Akhirnya aku putuskan hubunganku dengan Kokoh secara sepihak. Sekarang aku baru tahu mengapa aku melakukannya. Aku ingin membuat Kokoh siap atas kepergianku nanti. Membiarkan ia manjalani hari-harinya tanpa aku lagi. Biar jika ketiadaanku yang sebenarnya datang, dia sudah terbiasa. Firasatku akan datangnya kematian memang sangat kuat saat itu.

Dan itu sama sekali tak salah. Satu bulan setelah kami berpisah aku dijemput malaikat bersayap dari langit. Kokoh sama sekali tak tahu berita kematianku. Ia sedang berada di luar kota untuk menyelesaikan proyek kantornya. Tak ada satu pun yang memberita-hunya karena orang-orang menganggap apa yang terjadi padaku sudah tak penting lagi untuk diketahui oleh Kokoh.

Kematianku begitu mudah, begitu indah. Mungkin karena aku telah bersiap-siap akan itu.
Tengah hari, matahari kini tepat berada di atas kepala. Mereka berdua pasti sangat kepanasan. Setelah membacakan doa untukku, Kokoh mencium nisan bertuliskan:
ELFARA binti ARYO DIMA
Lahir
08 April 1989
Wafat
30 November 2009

Secarik kertas bertuliskan puisi diletakkannya di atas gundukan tanah-rumah baruku- dengan serakan bunga-bunga yang baru mereka taburkan. Kokoh tahu aku sangat menyukai puisi.

Kemudian mereka berbalik meninggalkan pemakaman ini. Aku memandangi keduanya, maafkan aku meninggalkan kalian lebih dulu, bisik hatiku.

Setelah benar-benar hilang dari pandanganku, barulah aku membaca puisinya.
Untuk bidadariku yang telah
Pergi
Tak tahu aku
Apa akan ada lagi yang seperti kamu
Biar aku tenggelam dalam waktu
Menantinya akan menjemputku
Seperti dia menjemputmu
Aku rela
Percayalah, aku rela
Aku tersenyum, senang mengetahui isi puisi itu. Kokoh memang bukan laki-laki yang kuat tapi dia mampu untuk ikhlas.

jurang keraguan

DI langit awan kumulus membentuk sebuah relief. Mataku sangat tertarik untuk mengamati dan pikiranku pun amat senang bermain imajinasi dengannya. Tak kuhiraukan teman-teman yang tertegun mendengarkan wejangan dari kepala sekolah. Kumulus putih bergerak pelan berangsur-angsur merubah rekaan relief yang sedari tadi bermain di alam pikiranku. Matahari nampaknya enggan menebarkan sengatannya sehingga tak terdengar satu pun dari kami berkeluh atau berkipas-kipasan. Tapi, ini juga hal langka menurutku, entah karena hari ini adalah hari terakhir petinggi sekolah memberikan wejangan buat kami. Entahlah…

Sudah satu jam, mungkin lebih. Kami berkumpul di tengah halaman sekolah, namun tak satu kata pun menyangkut di otakku. Aku sepertinya bertukar jiwa dengan Buroq, orang yang paling buruk perangainya di sekolah, khususnya di kelasku. Memang sesekali jiwa itu perlu juga bertukar. Orang jahat juga perlu menemui sisi kemanusiaannya secara hakiki, dan begitu pula orang suci (ah, lebih tepatnya orang sok suci). Karena tak ada satupun sekarang ini orang yang terpelihara kesuciannya di dunia ketika menemui siapa sesungguhnya dirinya, yang berasal dari setetes air hina.

Kumulus mereliefkan sebuah kisah pertempuran seekor naga raksasa dengan seorang kurcaci. Pergerakan angin berangsur-angsur mengubah naga yang ganas menjadi putri jelita, sedangkan kurcaci tiba-tiba berubah jadi mahluk bertanduk dan bertaring, bersiap hendak menelan putri jelita. “he he he… ya itu baru kehidupan, siklus hidup yang dinamis.”

Tawa dan ucapan kecilku ini ternyata mengganggu Ilai, teman di sebelah kiriku. Mata sipitnya melotot, ”Sepertinya autis menyerangmu. Atau kau memang tak khawatir dengan keputusan masa depan? Tengok, Buroq saja yang bajingan, khidmat sekali!” Ilai bersungut memandang wajahku.
“Untuk apa khawatir, bukankah kalian dan para fasilitator telah melakukan usaha yang sangat maksimal?” Mataku tak beranjak dari langit.

Ilai agak tersinggung dengan ucapanku, ”Apa? Kalian!?” Ia menyikut lenganku. “Jadi kau pengecualiannya?” Aku tak bergeming. Sejurus kemudian Ilai menarik nafas cukup dalam dan meneruskan ucapannya, ”Dengar ya, Min! Sejujur dan selurus apapun kamu, aku yakin kamu takkan luput dari proses keadaan genting lima hari barusan. Sepertinya kau yakin sekali lulus dengan hasil murnimu itu!” Kalimat terakhirnya terkesan mengejek.
“Tidak. Bahkan aku tak terima kalau aku lulus.” Nada tegas yang penuh kepura-puraan itu mengubah wajah tirus dihiasi poni tipis yang lurus. Tadinya tak bersahabat sekarang menunjukkan sebuah kemafhuman.

Ilai menyibak poni tipisnya, “Kau tak menginginkan sesuatu yang mejadi harapan semua pelajar di dunia ini? Kau pintar, Min. Kenapa kau jadi seperti ini? Apa karena kejeniusanmu yang mengubah sudut pandang universal kaum pelajar? Atau kau lah gila, tak peduli dengan abah dan emakmu yang selalu bangga dengan putranya. Nur Al’amin?”

Ucapan lirih separuh menjerit dari mulut gadis berperawakan orang Thailand pada umumnya ini membuatku tertegun. “Nur Al’amin! Nama itulah yang membuatku autis Lai, andai saja aku punya nama sepertimu: hanya I-l-a-i, tentu aku takkan terjebak dalam dua dunia yang berlawanan ini. Aku ingin setara dengan kalian, tapi sistem ujian nasional dan nama itu memperjelas ketidakwarasanku…” Seruku bergemuruh dalam hati.
“He! Kenapa diam! Masih dalam ketidaknormalan, kawan?” Mengelap keringat yang mengalir di kulit sawo matangnya.

“Ah eh hem, aku terdiam ya?” Aku menetralisirkan pikiranku yang berkecamuk, kecamuk yang terjadi karena adanya dunia saling tarik dari dua kutub yang berlawanan. Dunia kiri menebarkan penyesalan, amarah, iba palsu, dan kutukan terhadap nama Nur Al’amin. Seolah-olah telah meramalkan akibat yang akan terjadi oleh nama itu. Sedangkan dunia kanan memancangkan ketegaran meniup tebaran yang ditebarkan dunia kiri agar Nur Al’amin tidak kabur dari cahayanya. Beberapa detik kemudian kuteruskan ucapanku.

“Kau benar sobat. Aku memang autis dan gila. Tapi aku nyaman dengan keadaan ini. Harapan semua kaum pelajar yang kau umbar tadi, juga hakku. Hak siapa saja. Siapa saja boleh mendapatkannya. Tak pandang bulu dengan kuantitas usaha yang ia pertaruhkan, bukan?”
Ilai melengos, sepertinya ia mengerti, namun tetap menganggapku sahabatnya yang dungu. Aku tak peduli. Tanpa disadari ternyata kepala sekolah telah usai berkoar-koar di atas podium. Para wali kelas menghampiri barisan siswanya masing-masing, sembari membagikan amplop putih persegi panjang ke tangan para siswa sesuai nama yang tertera di amplop itu.

Jari-jari lentik Ilai bergetar hebat menyobek amplop yang baru ia terima dari tangan wali kelas kami yang keibu-ibuan itu. Selanjutnya wajah keibu-ibuan itu menatap dalam menancap ke bola mataku, tembus ke sukma. Ia mengulurkan amplop yang memang tinggal satu di tangannya. Ketika amplop itu telah berpindah ke tanganku dan hendak disobek, mendadak wali kelasku yang bernama Syifa ini memelukku dengan erat. Hanya kami yang berdiri khidmat dalam rangkulan. Semua siswa bersujud syukur di lantai lapangan sambil berteriak, “Makasih ya, Tuhan…!” Sementara kepala sekolah dan guru-guru lain mematung di sekitar podium menyaksikan pemandangan bak pertujukan visualisasi puisi atau drama musikal yang hening.

Air mata bu Syifa terasa hangat tembus melalui serat baju putihku yang tak putih lagi, “Bu…aku tau makna tatapan dan pelukan ini. Tapi aku tak tahu di mana posisi jiwaku saat ini…”
Ia tak berkata apa-apa melainkan melepaskan pelukkannya. Lalu, ”Plak!” Perih. Bu Syifa berlari kecil meninggalkan bekas tamparannya yang memerah di pipi kiriku. Amplop kubuka. Mataku langsung terhunus pada dua buah kata negasi untukku. Sungguh, aku tak percaya dengan keyakinanku sebelumnya.

Pernyataan negasi di bentangan kertas dan rasa perih di pipi yang masih membekas dan mungkin tetap membekas sampai kapan pun, membawaku ke sebuah kenangan selama aku berada di bangku SMA ini.

Betapa waktu itu aku dengan mudah menciptakan pontenan sempurna setiap kali mengikuti ujian atau ulangan. Betapa aku acap kali mendapat sindiran serta tatapan sinis teman-teman yang tidak kuberikan contekan. Entah berapa kali Buroq, pengaman kelas kami, kertas ujiannya disobek dan tidak diperbolehkan mengikuti ulangan, karena ketahuan merampas lembar jawabanku. Bahkan entah berapa kali pula catatan nama-nama teman yang menyontek dan melihat catatan saat ulangan kuserahkan pada wali kelas.

Setiap kali akan ujian, wali kelasku diam-diam menemuiku.
“Amin, seperti biasa ya! Ibu percayakan padamu, agar nilai yang tertoreh di lapor adalah nilai adil.”

“Ta…tapi, Bu?” Kucoba mengelak.
“Yang lain sepertinya sulit.” Bu Syifa memelas.
Aku tak berdaya kalau sudah melihat wajah guru yang kucintai ini. ”Baiklah.” Lirihku disertai anggukkan lemas.

Bu Syifa tersenyum seraya membetulkan kaca matanya yang melorot ke perut hidung. Ia tak tau apa yang membuatku keberatan dan terpaksa.
Jam istirahat berbunyi. Buroq menghampiriku dengan bara api di wajahnya. Aku tak takut. Wajah seperti itu sudah tak terhitung menghampiriku. Cuma aku heran dari mana ia tau kalau aku ditugasi bu Syifa. ”He, kau pikir jujur satu-satunya kunci kesuksesan, hah!” Air ludahnya muncrat ke mukaku.

“Kau tau ‘kan, UN nanti saja kita disuruh bantu-membantu dan mungkin beli soal dianjurkan. Ini, kau malah menjerumuskan. Gimana untuk menghadapi UN nanti?” Ia mencengkram kerah bajuku dengan kasar.
“Inikan belum UN.”

“Alah, kau lugu atau dungu, hah?” Kepalan kekarnya mencium perutku. Ngilu sekali.
Aku tersungkur memegangi perutku. Aku tau dia memang sudah cukup sabar.
Aku bingung, tak mengerti dosa jadi pahala. Itulah kesan yang kutangkap dari jalannya UN. Hari ke dua kurenggut nama yang menempel di seragamku. Lalu kuinjak-injak. Aku kesal dengan keyakinanku di hari pertama. Namun di hari berikutnya nama itu tak sanggup lagi kulepaskan.

Aku berupaya mengumpulkan puing-puing yang kudapati dari proses berinteraksi dengan para pengajar selama ini, tetap saja itu tak cukup. Pemandangan keyakinan yang lain pada kertas-kertas kecil yang berisi huruf A sampai E yang tak beraturan, melumpuhkanku. Namun, nama Nur Al’amin menegarkanku untuk menghitamkan LJUN tanpa kertas kecil tersebut. Kertas yang sempat menodai keteguhanku, menggoyahkan pendirianku. Siapa yang harus kumaki, diriku terlalu dungu untuk kumaki. Aku memang ingin memaki perubahan yang menata rapi kuantitas tanpa menjangkau kualitas.
***

Langkahku lemah. Di langit awan kumulus berangsur-angsur kelabu, keberatan membawa kantung-kantung mendung untuk ditumpahkan ke bumi. Kantung-kantung yang entah mengantungi air mata siapa. Air mata kesedihankukah? atau kesedihan awan pada mereka yang berbohong pada diri sendiri? Mungkin awan merengek meminta permen Heks yang sudah diganti dengan permen Blaster.**

bukan pilihan

Langit masih menghitam siang itu, tapi Riyo tetap berjalan menapaki jalan yang masih basah karena hujan semalam. Sesekali ia menoleh ke belakang, berharap ada seseorang yang memanggilnya.

Malam itu ada pertengkaran yang begitu hebat hingga menciptakan suatu anak sungai yang mengalir deras di sudut mata si lesung pipit. Tangisnya tak bersuara tapi sangat memilukan. Hatinya berdarah dan terasa begitu perih.
“Put, andainya kamu tau kalau hatiku jauh lebih sakit. Ah…..” gumam Riyo dalam hati. Sesekali dia memandangi gadis manis di hadapannya, sesekali juga dia melemparkan pandangannya jauh dari wajah itu. Ada penyesalan dan ketidaktegaan menyelimuti hatinya. Suatu tuntutan mengharuskannya untuk mengakhiri semuanya.

“Put, maafkan aku. Tapi kita memang harus putus. Aku nggak bisa bohong terus, aku nggak pernah cinta sama kamu…” Lagi-lagi Riyo mengulangi kata itu sambil memegang kedua bahu gadis manisnya. Tak kuasa rasanya saat kedua matanya beradu dengan mata indah itu. Tangisnya semakin pecah diiringi gelengan-gelengan kepalanya.
“Kamu jahat, Riyo! Aku benci kamu…”

Riyo hanya mampu menelan ludah yang terasa pahit, saat pujaannya berlari menjauh meninggalkannya. Tak terasa kristal-kristal bening meleleh di kedua sudut matanya.

“Ya Allah, apa yang sudah kulakukan? Dia menangis….dia terluka.. dia membenciku, ya Allah…” Tiba-tiba kedua kakinya terasa kelu, dia tersungkur sambil tergugu menahan sebak yang menyesak di dadanya.
“Putri, berjuta kali pun kamu bilang membenciku, aku nggak akan pernah bisa membencimu, sampai kapanpun…”

Riyo mencoba bangkit dan mengusap kedua pipinya yang telah basah oleh air mata. Dia harus kuat. Dia nggak boleh patah semangat saat pujaan hatinya tak lagi di sampingnya. Dia harus terus melanjutkan hidupnya demi cita-cita dan harapan kedua orang tuanya. Kini hatinya terasa lega karena dia telah menuntaskan semuanya, walaupun hatinya masih terasa sakit dan perih.
Lagi-lagi Riyo teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat dia sedang duduk di ruang perpustakaan kampusnya. Tiba-tiba datang seseorang yang amat dia kenal dan sangat ia hormati, Pak Dedy sang Wakil Dekan yang terkenal otoriter. Dialah yang menghampirinya saat itu.
“Kamu yang namanya Riyo Laksono?” pertanyaan itu terlontar ke arah Riyo. Sepertinya pertanyaan itu tak bernada biasa malah mengarah menginterogasi .

“Benar, Pak. Ada apa ya, Pak?” Riyo tergagap, ada rasa tak percaya di hatinya, karena baru pertama kali ini dia didatangai oleh seorang wakil dekan atau sederajatnya.

“Kita keluar sebentar, ada yang mau saya bicarakan.” Riyo mengangguk dan mengikuti langkah pak Dedy meninggalkan ruang perpustakaan dengan rasa penasaran.

“Kamu punya apa?” Tanyanya bernada agak keras.
“Maksud bapak?” Riyo semakin bingung dan tidak mengerti dengan pertanyaan Pak Dedy.
“Kalau kamu merasa nggak punya apa-apa kok beraninya dekati anak saya….!!!”

Plak…Seperti ada tamparan kencang mendarat di wajahnya. Jantungnya berdegup kencang, denyut nadinya tak beraturan, wajahnya memerah dan matanya mulai memanas. Riyo mulai sadar bahwa gadis yang dipacarinya bukanlah gadis biasa, dia tidak sederajat dengan dirinya
“Mulai sekarang kamu harus jauhi anak saya. Kalau tidak saya akan cabut beasiswa kamu dan saya akan keluarkan kamu dari kampus ini……” Kata-kata itu ibarat sebilah pisau yang mengoyak-ngoyakkan seluruh isi hatinya. Dan kata-kata itu yang hingga detik ini masih terus melekat di benaknya.

***
Gerimis masih menaungi sudut kota di siang itu. Riyo memarkirkan sepeda motor bututnya di halaman parkir belakang lokalnya. Cekatan ia raih kunci yang tergantung di kontak motornya. Dengan agak tergesa-gesa ia meninggalkan halaman parkir motornya. Tapi langkahnya terhenti saat sesosok yang amat dikenalnya menghalangi jalannya. Wajah sosok itu merah padam dan bibirnya menggeram. Sepertinya dia sedang sangat marah.

“Bub…” Sebuah bogem mendarat di pipinya. Riyo meringis menahan sakit dipipinya.

“Ini balasan buat orang yang udah nyia-nyiain sahabat aku!” Riyo tetap meringis dan tak bergeming, malah ia mencoba meninggalkan sosok itu. Tapi lagi-lagi sosok itu menghalanginya.

“Kamu tau, Yo! Apa yang dia lakukan saat kamu campakin dia, ha…? Sadar nggak kamu! Kalau kamu tu dah buat dia kehilangan akal sehatnya? Mana janji-janjimu yang selalu akan ngejaga dia saat dia rapuh, mana Yo…?”
Riyo tetap diam. Tak menjawab satu pun pertanyaan itu.
“Kamu bukan perampok, Yo! Kamu bukan maling, tapi kenapa kamu lebih jahat dari mereka, kamu nggak punya hati, Yo!”

Seeeerrr…hatinya berdesir. Tiba-tiba ia terbayang wajah Putri yang sayu, sembab, pucat dan berantakan. Ya Tuhan dia pasti sedang menangis frustasi dan patah hati. “Kamu benar, Ndi. Aku emang jahat, lebih jahat dari pembunuh sekalipun. Sampaikan ke Putri kalau aku sebenarnya nggak pernah cinta sama dia.”

“Bagus, kalau kamu akui hal itu, aku salut sama kamu. Tapi,…..” Plak…. Sebuah tamparan mendarat di pipi kanannya. Lagi-lagi Riyo harus menahan sakit di pipinya. Tapi rasa sakit itu nggak sebanding dengan apa yang ia rasakan saat ini. Orang-orang yang ia sayangi telah membencinya, termasuk juga Andi, sahabat terbaik yang selalu tahu tentang perasaannya kepada Putri.

“Ya, Tuhan, berapa hati yang mesti kecewa dan terluka karena keputusanku?” gumamnya dalam hati.
“Yang ini buat kemunafikan kamu……!” Sosok itu berlalu meninggalkan Riyo walaupun mimik wajahnya masih terlihat sangat marah.
“Andi, sampaikan ke dia kalau aku sebenarnya sangat dan sangat mencintainya.” Riyo bergumam dan berharap ada seseorang yang mendengarnya, tapi suaranya begitu lirih hampir tak terdengar. Ia menarik nafas panjang dan perlahan-lahan melepaskannya, ada perasaan lega memenuhi ruang hatinya.

***
Riyo masih memandangi taman yang berada di seberang lokalnya. Taman di mana pertama kali dia ungkapkan perasaannya. Taman yang merupakan saksi di mana ia sering menghabiskan waktu di sana. Tiba-tiba jari tangannya digenggam oleh seseorang, “Riyo, kita ke taman, yuk…”

mengubur asa

Enam tahun lalu…
Anna Nurul Puspita gadis manis yang cerdas, ceria, sedikit nakal namun punya seribu impian, salah satu impiannnya yaitu kuliah ke luar negeri di Sorbonne University dan jadi psikolog terkenal di Indonesia. Demi impiannya ini Anna mati-matian belajar, ia ingin mendapatkan beasiswa untuk kuliah di negeri yang kata orang adalah negeri terindah yaitu Prancis. Anna telah melewati ujian untuk mendapat beasiswa namun hasilnya baru akan keluar sebelum UAN diselenggarakan. Setiap hari Anna menunggu kabar dari pihak penyelenggara beasiswa tapi tak kunjung ada kabar, dia sangat berharap bisa mendapatkan beasiswa itu.

***

“Anna akan ke Sorbonne, yah…” dengan penuh semangat Anna mengumumkan hasil tes beasiswanya. Semuanya kaget namun beberapa saat kemudian bertepuk tangan dan tertawa riang. “Kepala sekolah yang memberitahu Anna, kemarin”, lanjut Anna sumringah.

“Selamat ya, nak. Ayah dan ibu bangga sekali sama kamu, semoga semua impianmu terwujud. Nah, sekarang kamu harus belajar lebih giat agar nilai UAN-mu nanti juga bagus,” ucap ayahnya hangat.

“Ya, syukur-syukur bisa dapat nilai tertinggi dan jadi juara umum ya, kak.” celetuk Farhan riang. Suasana makan malam di rumah yang sederhana itu menjadi sangat hangat dan penuh kebahagian.

***

Entah mengapa hari ini langit begitu mendung, matahari sama sekali tak menampakkan sinarnya. Awan hitam bertengger di atas langit dari pagi hingga petang. Anna duduk di teras sambil membaca buku, tapi sepertinya ia tengah melamun

“Kapan hasil UAN-mu keluar, nduk?” tanya buk Siti sambil mengelus rambut putrinya.
“Aah…ibu mengagetkan saja. Dua minggu lagi bu’e…” jawab Anna seraya memeluk ibunya Anna dan buk Siti larut dalam suasana sore yang hangat.

Tapi, tiba-tiba mereka dikagetkan oleh kedatangan dua orang Polisi ke rumahnya. Pak polisi itu menyampaikan sebuah kabar yang menghancurkan dunia Anna dan buk Siti.

Polisi yang bertubuh jangkung menyampaikan bahwa “Pak Burhan, mengalami kecelakaan, dan sekarang ada di rumah sakit. Tapi ibu harus sabar, karena Pak Burhan tidak bisa diselamatkan. Dia meninggal. Dan kami akan menyelidiki kasus ini,” jelasnya.

“Tidaaakk…” Anna histeris dan menangis sejadi-jadinya. Ibunya pingsan, beberapa saat kemudian sadar, dan menangis. Kemudian buk Siti bergegas ke rumah sakit bersama kedua polisi tadi.
Awan hitam yang bertengger semakin pekat, petir sesekali menyambar. Tak lama kristal-kristal bening turun dari langit, seakan ikut menangis bersama Anna. Beberapa saat kemudian buk Siti kembali bersama ambulans dan jenazah Pak Burhan, Anna kembali histeris ketika melihat tubuh kaku ayahnya.

“Ayah…ayah nggak boleh pergi secepat ini! Lihatlah Anna berhasil dulu! Anna akan ke Sorbonne, Yah! Anna akan jadi psikolog terkenal, Anna akan buat ayah bangga! Ayah bangun, yah…bangun….” Anna berteriak di samping jenazah ayahnya.

“Sabar, nak, sabar. Ikhlaskan semua, biarkan ayah pergi dengan tenang.” Lirih bu Siti perih.
Keesokan harinya jenazah Pak Burhan baru dikebumikan. Buk Siti terlihat tegar meskipun raut wajahnya masih menyisakan duka, matanya masih sembab karena tangis semalam. Anna hanya mematung di depan kuburan ayahnya, sesekali air matanya menetes namun terasa perih karena bulir-bulir bening itu hampir kering seakan telah habis terkuras. Anna memang sangat terpukul atas kematian ayahnya.

***

Hasil UAN sudah diumumkan, Anna Nurul Puspita juara umum SMA Harapan dan mendapat beasiswa kuliah di Sorbonne University. Namun, bagi Anna, semua ini tidaklah penting lagi. Ia rasa semua usahanya selama ini sia-sia karena dia tidak akan terbang ke Prancis. Semua mimpi-mimpinya terpaksa dikubur. Kuliah di Sorbonne dan jadi psikolog terkenal hanya tinggal impian.

Anna teringat ucapan ibunya dua hari yang lalu, “Nduk, sepertinya mimpimu untuk kuliah di Prancis tidak dapat ibu wujudkan. Sekarang keadaan kita sudah beda. Ayahmu sudah tidak ada. Ibu minta maaf, nak. Ibu tak sanggup membiayaimu jika kamu kuliah di luar negeri. Lebih baik kamu kuliah di sini saja. Maafkan ibu nak”,
Anna tertegun mendengar ucapan ibunya. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar, perasaan kecewa tertancap dalam di hatinya. Ia tak sanggup mendengar kata-kata itu. Tapi, cepat-cepat ia sembunyikan perasaannya. Walau berat ia berusaha untuk tersenyum.

Sejak Pak Burhan meninggal, keluarga Anna semakin sulit. Ditambah lagi ibunya yang sering sakit-sakitan dan adiknya yang akan segera masuk SMA. Dua semester telah berlalu, sekarang Anna memang sedang kuliah di salah satu universitas terkenal di kotanya. Namun, karena keadaan keluarga yang sepeti itu, Anna memutuskan untuk berhenti kuliah. Dengan berat hati Anna mengambil keputusan untuk berhenti dari kuliahnya dan ingin mencari pekerjaan. Kali ini impiannya benar-benar harus dikubur. Hatinya sangat sakit seperti tersayat sembilu tapi inilah hidup dan takdir, manusia hanya bisa berkeinginan.

***

Langit begitu pekat karena tak ada satu pun bintang yang menghiasi. Sang dewi malam sepertinya juga enggan menampakkan diri, Malam ini terasa sangat sunyi, hanya sesekali terdengar suara jangkrik, hewan malam lainnya sesekali juga ikut berdendang, seakan ikut larut dalam hawa dingin yang menusuk tulang. Jam dinding yang bergerak perlahan tak pernah lelah menggeser waktu dari detik ke menit, menit menjadi jam, begitulah takdirnya. Sudah sepertiga malam waktu berlalu, Anna terjaga dari tidur nyenyaknya. Ia segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, lalu berwudhu. Anna selalu terjaga di pertiga malam. Dia bertahajud mengadu pada Illahi Rabbi. Kadang ia bercerita tentang kejadian-kejadian yang dialaminya dengan senyum kebahagiaan tapi sering kali ia tergugu dihadapan-Nya.

Malam telah berlalu dan berganti pagi yang cerah. Secerah senyuman buk Siti, wanita setengah baya yang sangat dihormati dan disayangi Anna, yaitu ibunda tercintanya. “Nduk, ayo sarapan, ibu sudah siapin makanan kesukaanmu.” Suara buk Siti mengalun lembut ke kamar Anna.
“Ya, buk, sebentar…” Anna bergegas dan berlari menuju dapur.

Enam tahun sudah ayahnya meninggal dan Anna telah berubah menjadi gadis yang dewasa, santun dan penyayang. Saat ini Anna bekerja di salah satu perusahaan terkenal di kota kelahirannya, keadaan keluarganya mulai membaik dan ibunda tercinta tak lagi sering sakit-sakitan. Namun di lubuk hati terdalamnya masih ada kekecewaan yang tak bisa dihilangkan. Memang impian untuk kuliah di Sorbonne dan jadi psikolog terkenal tak dapat ia wujudkan, tapi melihat kebahagian kecil yang ia hadirkan dalam keluarganya membuat lukanya lambat laun dapat terobati.

Dalam hati kecilnya Anna masih berharap suatu saat nanti bisa tetap pergi ke Prancis walaupun bukan untuk menimba ilmu. Karena Anna sudah menyadari ilmu tidak hanya didapat dari bangku sekolah, tapi pelajaran yang paling berharga adalah pelajaran yang di dapat dari kehidupan.

“Anna, tunggu aku…” teriakan itu menghentikan langkah gadis manis berwajah oval dan berhidung mancung yang berjalan agak tergesa-gesa itu. Dia menoleh ke asal suara. Seketika senyumnya merekah melihat sahabat karibnya, senyum tulus yang menenangkan hati setiap orang. Lalu mereka berjalan bergandengan di bawah sinar mentari yang cerah, segera memulai hari dengan penuh semangat demi masa depan yang cerah.

memandang bulan

Bulan itu memancar dengan warna keemasan. Aku tertegun menatapnya. Sungguh mempesona. Malam yang kelam menjadi indah dan menggairahkan. Samar-samar kulihat seorang gadis di bulan itu. Ah, ternyata dia kekasihku. Aku tersenyum memandangnya yang terlihat tengah asyik melenggak-lenggokkan tubuh eloknya di bulan itu. Matanya yang bening menatapku lekat. Jemarinya yang lentik melambai-lambai ke arahku dengan kerincing gelang-gelang mutiara.

“Johan, kenapa melamun saja?” tiba-tiba seorang gadis menegurku.
Aku menoleh menatapnya. Aku heran. Entah dari mana datangnya dia. Tahu-tahu dia telah berada di sampingku.
“Kamu siapa?” tanyaku takjub. Gadis ini sungguh rupawan. Lebih cantik dari kekasihku yang tadi kulihat sedang menari-nari di bulan.

“Hei, kamu kenapa, Johan? Kamu seperti orang linglung?” mata gadis itu menatapku dengan heran. Aku makin terpesona menatap mata indah berbulu lentik itu.

“Linglung? Oh, sungguh aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya…” mataku tak berkedip memandang wajahnya. Pipinya tampak memerah.
“Aku Salma!”

“Salma?” sekarang aku benar-benar seperti orang linglung.
“Ya, aku Salma! Kamu terkena amnesia, ya?! Aku ini kekasihmu!” gadis bernama Salma itu mulai kesal.
“Kekasihku? Ah, seingatku, kekasihku bernama Amelia, bukan Salma.”
“Johan, Johan…” gadis itu tertawa kecil sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Amelia itu juga namaku begok! Tepatnya nama belakangku, Salma Amelia! Apa kamu sudah lupa?”
“Salma Amelia?”
“Ya, Salma Amelia!”

“Nama kekasihku Amelia Dewi, bukan Salma Amelia!”
“Amelia Dewi? Hah, siapa dia?! Siapa?! Kau selingkuh ya…!” mata indah itu membulat. Terlihat sekali betapa marahnya dia, namun bagiku mata itu makin mempesona saja.
“Aku tidak pernah selingkuh!”
“Lalu siapa Salma Amelia itu?”

“Coba kau lihat bulan itu,” ujarku menunjuk langit.
Gadis itu mendongakkan wajahnya, menuruti kemauanku. Mungkin dia juga penasaran.
“Apakah kau melihat seorang gadis di bulan itu?”
Gadis di sampingku menatapku heran, lantas berkata, “Kau memang sudah gila! Lebih baik aku pergi saja!” gadis itu melangkah pergi.
“Hei, kamu mau ke mana?” aku berusaha mencegahnya.
“Besok kalau kau sudah ke psikiater, baru kau boleh temui aku lagi!”

***

Malam berikutnya aku kembali memandang bulan. Semalam bulan itu berwarna keemasan. Tapi hari ini warna bulan itu berubah menjadi ungu. Baru kali ini aku melihat bulan berwarna ungu. Samar-samar masih kulihat kekasihku tengah menari-nari dengan kerincing gelang-gelang di tangannya. Terkadang dia berputar-putar mengembangkan gaun suteranya seperti penari India.

“Kau melamun saja?” terdengar seorang gadis menegurku.
Aku menoleh, dia bukan kekasihku, bukan juga gadis yang menemuiku semalam yang mengaku-ngaku sebagai kekasihku. Tapi dia juga cantik. Bibirnya yang merah tampak mengkilat diterpa cahaya rembulan. Matanya indah dengan alis yang melengkung seperti lengkungan pelangi yang menghiasi langit kala hujan gerimis di sore hari.
“Kau siapa?” tanyaku.

Gadis itu tertawa, “Tidak biasanya kamu bercanda seperti ini?…”
“Bercanda? Aku tidak bercanda! Aku memang belum pernah melihatmu sebelumnya…”
“Benarkah kamu tak mengenaliku?!” mata gadis itu membulat.
Aku mengangguk dengan yakin.

“Lalu cincin ini pemberian siapa?” gadis itu memerlihatkan cicin perak di jari manisnya.
Aku mengendikkan bahu.
“Sudahlah, Johan! Hentikan sandiwaramu itu!”
“Hei, sandiwara apa? Aku memang tidak pernah mengenalmu!”
“Huh, lebih baik aku pergi saja!”
“Woi, kamu mau pergi ke mana?”

Gadis itu tak menoleh. Terus saja melangkah tanpa menghiraukanku lagi.

***

Masalah. Hari ini aku tertimpa masalah berat. Pekatnya mendung memang tak bersahabat tadi malam. Tidak seperti malam-malam sebelumnya. Begitu cerah. Aku tak bisa melihat bulan semalam, pun kekasihku yang selalu setia menemaniku tiap malam, menghiburku dengan tarian Indianya yang gemulai.
Tapi itu bukan masalah berat yang kumaksud.

Hari ini aku tak bisa pulang. Bahkan tak tahu jalan pulang. Aku membutuhkan pertolongan. Tapi siapa yang bisa menolongku? Setiap orang yang kuminta pertolongan selalu acuh padaku. Mereka tak ada yang mau mengantarku pulang. Mereka semua egois!

“Johan? Lagi ngapain di sini?” seseorang menyapaku ramah.
“Tika?” mataku berbinar-binar melihat teman sekampusku itu telah berdiri di hadapanku. “Syukurlah kamu datang ke mari.”

“Memangnya ada apa?”
“Aku butuh pertolongnmu. Aku… aku lupa jalan pulang ke rumahku.”
“Ha ha… ada-ada saja kau ini Johan!” dia tertawa.
“Tapi aku sungguh-sungguh tak ingat jalan pulang!”
“Baiklah, manti aku antar. Sekarang aku ingin ziarah ke makam ibuku dulu. Mau ikut?”
“Ibumu?”

“Ya. Ibuku telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Hari ini hari ulang tahunnya, makanya aku ingin mendoakannya semoga ibu hidup bahagia di alam sana…”
“Amin…,” sahutku seraya melirik keranjang bunga yang dibawa Tika. Di dalam keranjang bunga itu terselip sehelai foto.

“Foto siapa itu?” tanyaku menunjuk ke dalam keranjang bunga.
Tika meraih foto itu, “Ini foto ibuku sewaktu dia masih gadis dulu.”
Aku meraih foto itu lalu memandanginya lekat-lekat. Seketika mataku terbelalak. Wanita dalam foto ini benar-benar mirip dengan gadis yang menemuiku dua hari lalu saat aku memandang bulan. Apakah ini nyata? Aku menggosok-gosok mataku tak percaya.

“Oya, akhir-akhir ini kamu sering menyendiri dan senang sekali memandang bulan purnama pada malam hari?” Tika mengalihkan perhatianku menatap foto itu.
Aku diam saja. Tak menyahut apa-apa.

“Apakah kamu belum bisa melepas kepergian Amelia, gadis keturunan India itu?”
“Dia belum meninggal, Tika! Semalam aku melihatnya tengah menari di bulan!”
“Johan, kamu tak boleh seperti ini. Masih banyak gadis lain yang mau menerima cintamu dengan tulus…”
“Tika, kau harus percaya aku! Amelia masih hidup. Sekarang antarkan aku pulang! Aku ingin memberitahu ibuku bahwa Amelia masih hidup!”

Tiba-tiba langkah kami terhenti. Di hadapan kami tergeletak sesosok mayat dengan tubuh berlumur darah. Sepertinya korban tabrak lari.
Aku dan Tika melangkah mendekati mayat itu lalu mengenali wajahnya. Betapa terperanjatnya aku, tubuh berlumur darah itu adalah diriku sendiri! Tidak, tidak mungkin!

“Johan, ayo ikut kami…” terdengar panggilan beberapa wanita di telingaku. Saat aku menoleh, kulihat Amelia, Salma dan gadis yang mengenakan cicin perak semalam melambai ke arahku. Anehnya pakaian mereka semua berwarna putih.

Saat aku menundukkan wajah, kulihat pakaianku juga telah berubah putih…***

CINTA PERTAMA

Namun perasaan ragu selalu mendera hatiku. Akankah Adit punya perasaan yang sama denganku. Aku tidak mengenal baik Adit. Aku setahun lebih tua darinya. Status sosial keluargaku dan keluarga Adit bagaikan langit dan bumi. Ayah Adit seorang pengusaha sukses dan ibunya seorang guru. Sedangkan keluargaku adalah keluarga termiskin. Ayah tiada sejak aku masih kelas 1 SD. Ibuku kemudian berjualan kue-kue untuk menghidupi kami yang sehari hanya menghasilkan uang sekitar limabelasan ribu. Aku juga sering membantu menjualkan kue-kue ibuku ke sekolah. Namun semua itu belum cukup untuk membiayai ibu dan kami, empat bersaudara. Aku sendiri pernah diusir dari kelas karena belum membayar uang bulanan sekolah selama tiga bulan. Karena kondisi itu aku menjadi seorang yang pendiam dan rendah diri.

Kemarin tanpa sengaja aku bertemu dengan Doni ketika pulang sekolah. Doni adalah sahabat Adit sejak SD. Jika Adit adalah seorang yang pendiam, Doni seorang cowok yang supel. Hampir semua orang mengenalnya. Dengan senang hati Doni menawarkan boncengan motornya dan mengantarkanku sampai rumah. Di jalan Doni bercerita:
“Mbak, kemarin Adit cerita kalau dia sebenarnya naksir sama cewek di desa kita juga ini lho,” cerita Doni memanggilku dengan embel-embel Mbak, tradisi di desa kami untuk menghormati orang yang usianya lebih tua.
”Yang bener aja, Don? Emangnya siapa?” “Tak tahu juga mbak, Adit tak sebut nama,” “Iyakah? Tapi di desa kita ini ‘kan banyak ceweknya?”.

“Iya juga ya mbak, and….kira kira siapa ya? Hayooo siapa………..?”
“Ooi oi siapa dia oh siapa dia,” Doni malah menyanyi seperti pembawa acara Kuis Siapa Dia di TVRI waktu kami kecil dulu.

Aku hanya bisa tersenyum kecil, namun tak urung percakapan tadi membuat aku punya harapan. Tapi, ah tak mungkin masih banyak teman-temanku yang lebih pantas untuk dijatuhin cinta sama Adit. Meski kami satu sekolah tapi di sekolah pun aku hanya bisa menatap Adit dari jauh, ketika tanpa sengaja aku bertemu dengan Adit di kantin, di perpustakaan atau ketika sama-sama nonton pertandigan olahraga di lapangan sekolah, Adit tak pernah berusaha menyapaku. Kalau aku menyapa Adit duluan, tengsin ah. Aku masih berharap Adit yang memulainya.

Hari sudah beranjak sore, ketika kudengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Segera kubuka pintu setelah terdengar ketukan. Ternyata Doni dan….Adit. Doni mau meminjam soal-soal ulangan umum sekolah. Kukernyitkan dahiku, aku heran, untuk apa bukankah dia lain sekolah denganku?.

“Ehm….tenang mbak, tenang. Bukan untuk aku ko, Mbak. Itu tu untuk Adit,” kata Doni seperti mengetahui keherananku. Kenapa sih tak mau bilang sendiri, toh udah di sini. Batinku agak kesal.

“Boleh kan Mbak, Mbak Tari yang baik…?” Aku melirik Adit yang hanya tersenyum tipis. Aku segera masuk rumah, dan mengambil lembaran soal-soal ulangan umum yang selalu kusimpan rapi tiap semesternya. Ketika kuberikan lembaran-lembaran itu, kubilang sama Doni agar nanti Adit yang mengembalikan sendiri. Doni hanya mengangguk.

****

Siang itu, ketika aku sedang ngobrol dengan temanku di halte, tiba-tiba …gedubrak….. terdengar suara seperti tabrakan. Kami terkejut, terlihat seorang pengendara motor yang nampak kesakitan jatuh terlempar beberapa senti dari motornya. Aku dan temanku segera menghampirinya. Orang-orang pun segera berhamburan menengoknya. Seketika jalan menjadi macet total. Beberapa orang segera mengangkat tubuh yang kesakitan itu ke halte. Kulihat darah keluar dari pelipis kanan dan siku tangan kanannya, dan ternyata dia adalah Adit. Namun tak lama polisi datang membubarkan kerumunan dan segera membawa Adit ke rumah sakit terdekat. Aku dan temanku menemaninya tanpa diminta.

Sesampainya di rumah sakit, Adit dibawa ke ruang gawat darurat. Polisi meminta sedikit informasi mengenai Adit. Aku mengatakan Adit adalah tetanggaku dan segera memberikan alamatnya. Polisi akan segera menghubungi pihak keluarga Adit. Lima menit kemudian temanku meminta pamit karena sudah terlambat pulang. Meski aku keberatan, kuanggukkan juga kepalaku.

Satu jam kemudian Adit di bawa ke ruang perawatan. Ruang itu terdiri dari empat tempat tidur ditata berjajar yang hanya dipisahkan oleh tirai putih. Adit mendapatkan tempat di dekat jendela. Kulihat Adit masih tertidur ketika perawat meninggalkan kami. Kamar ini hanya berisi aku dan Adit. Aku duduk di ranjang pasien sebelah tempat tidur Adit. Kutatap wajah Adit yang bagian pipinya masih lebam, pelipis dan tangannya dibalut perban, baju seragamnya telah berganti baju seragam rumah sakit. Kulirik jam tangan Adit, sudah hampir pukul 3 sore. Ke mana ya keluarga Adit, batinku. Aku turun dikursi dan kutelungkupkan kepalaku di ranjang. Di ruangan AC begini aku merasa ngantuk sekali.

Aku terkejut ketika perawat masuk membawakan obat untuk Adit, segera kuusap mukaku dan sedikit kurapikan rambutku. Kutengok Adit sudah terbangun, dan segera meminum obat yang dibawa perawat itu. Perawat kembali pergi setelah kuucapkan terimakasih kepadanya. Kami sama-sama saling terdiam tak tahu harus berkata apa. Beberapa menit berlalu, kucoba memecahkan kekakuan ini.

”Dit, gimana rasanya, apa sudah baikan?” tanyaku lirih, agak salah tingkah sambil kusandarkan badanku ke dinding jendela. “Lumayan Mbak, Mbak dari tadi nungguin aku ya?” tanya Adit lemah.
Aku hanya mengangguk. Kami sama sama terdiam lagi, meski aku sangat senang berada di sini bersama Adit, tapi rasanya lidah ini kaku untuk mengajaknya bicara.

“Oya, ke mana Ibu Adit ya, kok sampai sekarang belum datang juga. Tadi polisi menjemput ke rumahmu lho?” tanyaku sambil memainkan kakiku dengan sesekali menatap kepada Adit.

“Mungkin di rumah tak ada orang, Mbak. Ibu setiap hari ada jadwal kuliah. Biasanya sih pulang jam setengah enam. Adikku juga les bahasa Inggris. Paling Mbok Warti yang biasa bantu kami bersih-bersih rumah,” jawab Adit dengan lemah sambil memalingkan wajahnya sedikit ke arahku. Aku hanya bisa mengangguk-angguk dan kembali terdiam.
Ketika senja sudah beranjak pergi, kudengar langkah tergesa memasuki kamar. Ayah dan ibu Adit yang kelihatan sangat mencemaskan Adit, segera menghampirinya yang terbaring lemah. Baru setelah itu ibu menoleh kepadaku dan mengucapkan terima kasih. Tak lama berselang Doni datang dengan kecemasan juga, Doni tersenyum padaku sebelum menyapa Adit. Wah untung ada Doni, bisa minta tolong nganterin aku pulang. Aku sudah capek dan lapar, dan pasti ibu juga khawatir banget aku telat pulangnya. Segera kuberbisik pada Doni untuk mengantarku pulang. Dan ternyata Doni mengiyakannya. Aku segera berpamitan pada ayah ibu yang tak henti mengucapkan terimakasih kepadaku karena sudah menemani Adit, begitu juga Adit dengan diiringi senyum manisnya.
***
Seminggu berlalu sejak peristiwa kecelakaan itu, di suatu sore ketika aku sedang memarut kelapa di dapur bersama ibu, terdengar bunyi motor berhenti di depan rumah. Aku segera keluar setelah mendengar pintu rumahku diketuk. Adit, dia memberikan kue tart coklat yang cantik yang biasanya hanya bisa kutengok di etalase toko roti, sebagai rasa terimakasih dari keluarganya. Kata Adit, itu bikinan ibunya. Satu lagi, dia mengembalikan soal-soal ulangan umum yang dulu pernah dipinjamnya bersama Doni.

“Mbak ini sesuai janji Doni, kalau aku yang akan mengembalikannya sendiri,” kata Adit sambil menyodorkan soal-soal ulangan umum itu dan menatapku penuh arti. Aku salah tingkah, seumur-umur aku belum pernah ditatap orang seperti itu. Tatapan yang membuat aku besar kepala. Tapi Adit langsung berpamitan. Dan ketika akan kuletakkan kumpulan lembaran soal-soal itu sebuah kertas berlipat jatuh dari sela-selanya, mungkin punya Adit yang terselip di lembaran ini. Segera kuambil dan kubuka, kubaca tulisan di dalamnya:
To : Mbak Tari
Mbak, Adit suka sama Mbak. Rasa ini sudah lama Adit simpan. Bagaimanakah perasaan Mbak pada Adit. Maaf ya Mbak?
From : Raditya***

CINTA TERLARANG

Di sutau malam yang dingin hujan yang membasahi setiap jalan yang aku lewati dengan sepeda dan angin bertiup sepoi-sepoi seakan membuat tubuhku merasa mengigil. Aku menyusuri setiap jalan yang kulalui dengan tubuh yang kedinginan karena suasana malam yang dingin. Aku berencana ingin kerumah anis, dia temanku dari SD sampai sekarang masih selalu bisa bersama. Aku main kerumahnya karena ingin tahu apa saja yang dia bawa untuk bekal pikniknya ke yogyakarta besok. sedangkan aku sudah membeli bekal itu, tapi ternyata si Anis masih belum membelinya. akhirnya aku antar dia membeli bekal buat besok.

Saat aku antar dia, aku melihat seorang pria yang sedang duduk bersama temannya sambil memegang handphone dia melihatku terus, tapi aku tidak melihatnya. Aku terus berjalan tanpa melihat dia walaupun dia terus melihatku.

Di pagi yang cerah suara burung yang merdu membuat hatiku semakin semangat menjalani aktivitas hari ini. Aku bersiap-siap untuk berangkat piknik ke yogyakarta. Setelah sampai di sekolah aku melihat 2 bis pariwisata yang akan dipakai buat piknik ke yogyakarta. Aku memilih tempat duduk tengah yang aku tempati bersama Anis. Disaat bis mulai berangkat, aku dan Anis cerita-cerita tentang masalahku dan masalahnya. Anis pun bicara sesuatu
"ca, tadi malam handi minta no. hpmu tapi temenya yang suruh minta no. hpmu lewat aku" Anis memberitahuku kalau pria yang tadi malam melihatku terus mau minta no. hpku tapi lewat temannya. Saat itu aku sudah pulang. Tapi aku sudah kenal dia, dia temanku dl waktu kecil tetapi dia tidak kenal sama sekali dengan aku karena dulu aku pernah mengagumi dia, rasanya aku ingin dekat sama dia tapi aku malu dan sekarang aku bisa kenal lebih jauh tentang dia. aku befikir ini mungkin saatnya aku bisa lebih dekat sama dia. Akhirnya aku setuju dengan mengasihkan nomor hpku.

keesokan harinya aku menerima sms dari dia dan aku membalasnya. Kita selama satu bulan lebih sering smsan, saat kita bertemu langsung rasanya aku cangung banget karena aku tidak pernah ngomong langsung sama dia. Rasanya hati selalu berdebar-debar dikala aku dekat dengan dia. Oh... tuhan apakah ini benar-benar terjadi atau hanya mimpi belaka. Sungguh aku berterima kasih padamu karena kau telah mewujudkan keinginanku yang terpendam lama kini bisa kurasakan betapa aku bahagia.
Dan saat aku makan malam sama dia, duch rasanya.... kayak mimpi aku bisa makan malam berdua sama dia. Dia selalu saja memujiku, wah..... aku jadi malu banget!

Sehabis makan malam kita ngobrol-ngobrol dirumahku sambil ketawa-ketawa. Saat asyik ngobrol sama dia windi datang. Windy itu temen SDnya sekaligus tetanggaku. Dia orangnya cerewet banget jadi dia ikut meramaikan suasana.

"wah udah pacaran nich, makan-makannya donk" windy bicara

"nggak koq kita cuma teman" aku dan hendi hanya tersenyum saja

"pacaran juga gak apa-apa koq"

"hehehe............"

"ya gak tau y?"

setelah kita lama ngobrol dan windy pun pulang jg, tapi si hendi belum pulang. Ditengah-tengah pembicaraanku sama dia tiba -tiba dia terdiam sejenak dia mau ngomong sesuatu yang penting.

"ca, boleh nggak aku tanya sama kamu?"

"boleh, ada apa hen?'

"Sebenarnya aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku?"

Aku kaget banget mendegar ucapanya dan aku hanya terdiam sejenak. Tak kusangka dia akan mengatakan cintanya padaku. Aku seneng banget... nggak nyangka dan akhirnya aku bicara

"Ya, aku mau jadi pacarmu."

"Sungguh kamu mau jadi pacarku" hendi menyaut

"Sungguh aku mau jadi pacarmu" dan akhirnya aku menerima dia sebagai pacarku.

duh... senangya karena aku sudah jadi pacarnya. Yang dulu aku puja dan ingin dekat dengan dia dan sekarang dia jadi pacarku, ohh,,,,,, my god!!!! sungguh aku tak menyangka ini seperti impian yang terwujud.

Hari-hari yang kulalui sekarang beda dengan hari-hari ku yang dulu setelah aku pacaran sama dia. Dia sering sekali kasih perhatian sama aku hampir tiap hari dia tidak lupa tanya kabarku. duh..... senangnya punya pacar yang perhatian banget. Setelah kujalani hubungan ini semakin lama ada saja masalah yang kuhadapi disaat putra menjemputku habis pulang kerja tak kusangka kalau ayahnya lihat aku sama dia.
malamnya putra cerita kalau ayahnya tau dia menjemputku. Dia di introgasi sama ayahnya dan ayahnya tidak setuju kalau dia pacaran dulu. Dia disuruh memilih pacaran atau kuliah kalau kamu pilih pacaran mendingan kamu nggak usah kuliah. Disaat itulah aku merasa shock banget mendengar ceritanya. Aku menangis aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Ini serasa menyakitkan hati.
Keesokan harinya aku dan dia bertemu membahas masalah itu. aku tanya sama dia
gimana ceritanya? koq ayahmu bisa tau kemaren?..

Dia akhirnya ngomong "Aku juga nggak tau kenapa ayahku bisa tau. Katanya dia dikasih tau sama orang"

"Dan sekarang maumu gimana?" aku bicara dengan perasaan yang kacau balau

Dengan wajahnya penuh kesedihan dia pu angkat bicara. "Ya gimana aku juga nggak tau. Aku masih sedih banget. aku mau ngomong ini tapi sulit untuk bicaranya aku nggak mau ini terjadi aku masih sayang sama kamu tapi gmn lagi aku nggak bisa ngejalanin hubungan ini"

"ya terus gmn??" aku terus mendesaknya tuk bicarakan sebenarnya

dengan perasaan penuh kesedihan akhirnya dia memutuskan harus bicara seperti ini. "mending kita putus aja, nggak apa-apakan kalau kita putus???"

akupun termenung, terdiam mendengar kata-kata yang barusan keluar dari mulut dia dan tanpa kusadari air mataku menetes.
rasanya aku ingin lari dan menjauh dari masalah yang membuatku seperti ini. Aku tidak bisa ngomong aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis......... di depan dia
dia melihatku terus, dia merasa bersalah banget kenapa ini harus terjadi. Tanpa kusadari dia juga meneteskan air mata, kulihat dia menangis.

Hari-hari kulalui sekarang sudah nggak seindah yang dulu lagi. Nggak ada seseorang yang bisa buat hari-hariku indah yang bisa buatku tertawa nggak ada lagi. Kini aku hanya bisa merenung dan bersedih. Tapi setelah kita putus dia masih sering menghubungiku, dia tidak bisa melupakanku sama seperti aku yang nggak bisa melupakannya.
lama-kelamaan dia nggak bisa ngejalanin hubungan pertemanan ini dan dia memutuskan untuk balikan lagi sama aku ya walaupun hanya backstreet tapi nggak apa-apa karena kita masih saling sayang.

Rabu, 23 Desember 2009

Lia

Atak mondar-mandir didepan Lia. Dia bingung gak karuan, mikirin jalan keluar untuk pemecahan masalahnya.
“aku gak bisa Lia , aku gak bisa” Atak menyerah gak sanggup memenuhi permintaan Lia untuk menerjang gerombolan harimau, WHAT !?! gak deh berlebihan, maksudnya nyuruh Atak ngambil surat cintanya Lia yang kebawa ama Pak Hendro, guru Fisika.

Demi garam dilautan, belerang digunung, diskonan didepartement store. Beneran deh, amit-amit kalo mengganggu ketenangan Pak Hendro. Pasalnya, ini bener-bener kesalahan Atak, yang gak ngomong-ngomong waktu nyerahin buku latihan Fisika untuk dikumpulin di Pak Hendro.
“Liaaa.., jangan diem sambil melotot gitu dong, aku takut nich..” Atak mencoba merayu Lia yang marahnya minta ampun. Udah gak ketulungan. Lia masih diem, kali ini pake aksi melengos segala, nandain dia udah gak mau tahu gimana caranya, mo pake gaya lumba-lumba kek, gaya kupu-kupu, gaya dada, pokoknya tuh surat harus nyampek dengan selamat, sehat walafiat ditangan Lia.


Mau dihadang setan dari kubur, dikroyok preman pasar, kali ini Atak harus menghadap Pak Hendro. Harus memupuk langkah maju,kalo mundur..(he..he..Lia dah siap dengan golok kayaknya).

“Stop-stop ! entar dulu !”Atak tiba-tiba mengerem langkah kakinya dengan cakram (untungnya gak terjadi tabrak beruntun).
“mo apalagi sich ! awas kalo mundur, gue sumpahin lo bakal gatel-gatel dan gak bisa ketawa seumur hidup” sembur Lia setelah aksi diemya. Padahal kurang beberapa langkah lagi dah masuk kantor guru, dan..kalo beruntung gak ada Pak Hendro, bisa menggeledah tumpukan catatan di mejanya.
“sebenernya suratnya buat siapa sich ?” tanya Atak penasaran.
“apa pentingnya !?” Lia masih galak kayak anjing herder.
“ya pentinglah Liaaa, kalo surat yang mo gue selametin dengan seluruh reputasi dan harga diri (kalo-kalo Pak Hendro bentak-bentak dan mengusir dengan tidak hormat didepan guru) itu cuman buat Satria (namanya aja Satria tapi gak satria banget, alias makhluk ganda ,bencong gitu), atau Nicholas (yang bukan cuman nama tapi tampangnya bener-bener mirip teman Betty Lavea) mending gue disumpahin ama lo, gatel-gatel kan masih ada obatnya, gak bisa ketawa juga gue dah manis” bantah Atak sebelum maju berperang.
“gak mungkinlah mereka, cintaku tuh cuman buat Audi seorang”
“Audi ? anak kelas IPA-2 itu, yang jago Fisika ? Yah, lumayan manislah, dia juga keliatan care gitu sama kamu, cocok-cocok” Atak kayak paranormal yang sedang ngeramal nasib.
“cocok-cocok !! cepetan ambil !” bentak Lia udah gak sabaran.

Kali ini beneran bakal terjadi hujan badai sama Lia. misi pas jam istirahat untuk nyelametin surat gagal total, coz tiba-tiba aja tumpukan buku itu diusung ama 2 siswa, dan yang bikin batal mo ngambil, mereka dikawal ama Pak Hendro sendiri masuk kelas IPA-2.
Atak sich udah berusaha coba masuk kelas IPA-2 sendirian (Lia ngacir balik ke kelas gak mau ambil resiko, resiko malu didepan pujaan hati) dan minta ijin untuk ngambil barang penting yang terselip dibuku, tapi alhasil Pak Hendro maki-maki dan bentak-bentak katanya cuman alasan untuk benerin jawaban dan terakhir diusir keluar dengan biasa…’TIDAK HORMAT’.

Bel pulang berdering Atak langsung melesat keluar kelas. Pengen tahu prahara, malapetaka atau bencana apa yang terjadi di IPA-2.
“ssstt..sstt..na..na..” Atak dengan separuh bersembunyi dibalik tiang manggil Ina anak kelas IPA-2 yang dikenalnya selama ini. Ina celingak-celinguk bingung makhluk gaib apa yang menyerukan namanya.
“apaan..?” tanya Ina setelah tahu sosok Atak.
“sini..,sini..,eh ditempat lo tadi terjadi bencana gak?”
“bencana apaan ? gempa bumi ?pesawat nyasar ? kelas gue kena bom ?” Ina asal nyeplos.
“bukan..bukan..waktunya Pak Hendro..?”
“bencana kena muncratan air ludah Pak Hendro ?bencana kena eksekusi ujiannya Pak Hendro ?bencana kena..” Ina makin ngawur aja.
“BUKAAN…!!”Atak teriak dah gregetan ma Ina.
“Bukan.., ada hubungannya ama su-“ Atak gak jadi ngelanjutin ,gawat kalo bocor dari mulut Atak sendiri, bisa-bisa Atak dipotong –potong, dicincang dan dijual perkilo ama Lia (tragis bener..)
“su- apa?”
“aah ! gak jadi deh, tapi tadi waktu jam Pak Hendro gak terjadi apa-apakan ? aman terkendali ?” (kayak PilKaDa aja aman terkendali)
“aman, tentram, sentosa, sejahtera..lagian siapa sich yang berani buat ulah waktunya Pak Hendro ? cari mati aja ?” yah, bener, cari mati emang kalo jam pelajarannya keganggu. untung saja suratnya gak ketemu.

Atak lari-lari lagi mau nyusul Lia. cepet-cepet beritahu kabar gembira, eits !! tunggu dulu, gak sia-sia emang selama ini rutin minum jus wortel, hasilnya dengan sekali kelebat Atak tahu kalo dikantin yang barusan dia lewati ada Lia. setelah mengerem, pindah perseneleng, atret kebelakang untuk langkah mundur (hi..hi..hi..Atak kayak mobil aja).

Dikantin ternyata ada Audi. didepannya ada Lia yang tertunduk malu-malu kayak kucing peliharaan (gini aja kelihatan manis coba kalo marah, kayak setan kebakaran). Atak dari samping tembok coba mengintip dan menguping pembicaraan (abiz bikin penasaran sich).
“Lia ini kamu yang tulis kan ?” Audi memperlihatkan lembaran kertas berwarna pink. Lia cuman mengangguk
“makasih ya, tapi..” deg !mendengar kata tapi Atak langsung mendelik dan pertajam pendengaran lagi.
“sorry ya…” oh my God ! Atak menutup mulutnya yang menganga, jangan lagi deh bencana alam karna tangisan histeris Lia.
“sorry ya kalo aku lambat untuk nembak kamu, jadi kamu duluan deh yang ngungkapin. sebagai gantinya mulai besok aku akan antar-jemput kamu, kawal kamu kemanapun kamu suka, traktir kamu makan, so.. do you want to be my girlfriend ?” Lia yang tadinya nunduk langsung menatap wajah Audi. Audi cuman angkat mata sebelah nandain gimana jawabnya. Lia mulai senyum disusul tawa tapi sejenak kemudian dia mengendalikan diri (maklum jaga image) lalu…
“yes, I do” jawab Lia yang masih terlihat sumingrah kena panah cinta dari cupit. Aaahh…lega rasanya Atak terhindar dari santet kalo seandainya suratnya itu bikin heboh.
“abiz ini gak lagi deh lancang ama barang orang” guman Atak ama dirinya sendiri.

Luna mau tidur

“Emang gimana awalnya, loe ceritain deh dari awal” Dino penasaran dengan cerita Luna yang mulai hari ini harus tereliminasi dan dipensiunkan dari sekolahnya.
“Tau gue juga, masak cuma gara-gara tidur doang” sungut Luna.
“Lah….masak cuma gara-gara tidur doang ? yang jelas dong”
“Gini ceritanya………”Luna mulai bercerita.

Skul 9 Juni 2006/ 08:00 wib
Gasi tak terlihat seperti dulu, tak seperti waktu pertama kali menatapnya. Ini untuk fisiknya, rambutnya yang seakrang tertata rapi, giginya yang putih dengan gingsul, matanya yang selalu bercahaya, penuh harapan, dan hidungnya yang pesek, masih memperlihatkan wajahnya yang berkelas dan tampan. Darah dusun ibunya masih sangat terasa, sangat terlihat dari matanya yang dari dulu, masih terlihat sedikit besar.
Sahabatnya banyak yang kaget dengan perubahan dari style-nya Gasi yang sangat mencolok. Dia bukan lagi Gasi yang dulu, ini bukan Gasi yang dulunya dekil, dan urakan. Sekarang Gasi sudah berubah menjelma menjadi seorang cowok yang. Bukan lagi
Setiap berjalan ia coba melenggang berjalan dengan langkah yang berkelas, tak terlalu cepat dan tak juga terlalu pengantin, sorot matanya tajam menatap kedepan, siap membuat semua wanita takluk dengan matanya. Tapi senyum sumringahnya langsung terpancar ketika seorang sahabat lama, menyapanya. Dua tahun di Jepang membuat dia sangat fenomenal.
“Aku enggak nyangka, kamu sudah bisa dandan sekarang” Luna tersenyum, menyinggung penampilan Dino sekarang.
“Aku juga bingung kenapa bisa ya….aku berubah kayak gini, ternyata bener kata kamu dulu, lingkungan akan merubah kamu, thanks Luna”Dino memeluk Luna, salah satu sahabatnya yang paling setia menunggu kembalinya dari jepang.
“Seekor anak musang yang buas, dekil dan kotor, akhirnya melakukan kegiatan manusia, dalam hal membersihkan diri, ternyata bunga sakura juga bisa untuk merubah penampilan………”Suara yang tidak asing untuk Dino, sindirannya yang khas dan selalu berhasil menusuk dengan tajam.
“Sapi….., masih make kata-kata sok sastrawan juga loe……pa kabar Gy…?”Dino menyambut teman satu bangkunya waktu di SMP.
“Heee….he….fine….sih, tapi gue jadi ngerasa udah mulai ngerasa aura enggak enaknya nih, ketika seekor srigala datang dan mulai bisa mengendus pastilah banyak mangsa gue yang lepas gara-gara srigala ini”bahasa penuh makna, mengalir lepas dari bibir Xegy. Sebenernya sih maksud Xegy dia takut aja kalau cewek-cewek yang selama ini milik dia harus pergi karena ada seekor srigala dari jepang merebutnya.
“Makan aja sama loe sendiri….gue enggak level men sama orang indonesia….sueerr”Dino mendongakkan kepalanya keatas berlagak angkuh.
“Anjiing…………..loe….”Xegy berlari mengejar Dino yang sudah ngibrit duluan, Luna sendiri ia Cuma bisa menatap kekonyolan dua sahabatnya dengan senyum simpulnya.
LUNA…………………..BANGUUUUNN……………BANGUUUNN……..
“Ah….ngapain sih….ganggu orang lagi mimpi aja neh…..tanggung neh lagi mimpi enak……”Luna masih belum sadar dengan tingkahnya yang tidur dikelas, dan mengigau, yang membuatnya harus meninggalkan pelajaran pertama, pelajaran fisika.
“HUUU….orang cuma tidur doank enggak boleh….”Luna mencibir gurunya, dan melangkah gontai keluar kelas.
“Kamu bilang APA……..????”teriak Bu siska…guru duper killer.
“Eehhh…ehh…..enggak bu………PIISSS”Luna langsung ngibrit keluar.
“Dasar, anak gak tahu diuntung…..sudah disuruh belajar, malah tidur”gerutu Bu Siska kesal.
“Dagang kali untung………….”Luna nongol dari jendela, meledek gurunya.

LUNAAAA………………………………..
***

Tawa….sekelompok cewek kelas XI memenuhi ruang kantin yang cukup luas. Cewek-cewek kelas XII yang merasa dirinya sudah yang paling hebat melirik sinis kearah bangkunya Luna dan teman-temannya duduk sambil mencibirkan bibirnya yang ingin sekali rasanya dibikin dower.
“Masih kelas XI aja dah belagu sok ngenantangin guru”Sindir Fara sedikit mengeraskan suaranya.
“Masak…. ?”Luna mengindahkan omongan gak berkelas Fara, yang mengaku dirinya Miss Universe sekolah, padahal ngomong inggris aja gak lancara.
“Heiii….lagi lengkap nih……”Xegy langsung duduk dan ikut nimbrung dimeja Luna.
“Iyaa….jadi lebih karena loe duduk disini”Rika menatap ketus Xegy.
“Oopss…okay gue nyingkir”Xegy berdiri dan celingak-celinguk melihat tempat yang kosong.
“Yeee….udah duduk aja disini”Luna membela Xegy.
“Oh ya…..loe kenapa kok bisa tidur dikelas tadi…?”tanya Xegy sambil masih melirik Rika yang menatapnya sinis.
“Apa…loe….mau gue gampar ?”Rika mengangkat tangannya.
“Sorry say….piiisss”
“Udah napa….”Luna menengahi.

Bel masuk berbunyi……
“Nah….sudah bel tuh..masuk gih….”Luna memerintah teman-temanya.
“Loe sendiri ?” tanya Mika, mengerutkan keningnya.
“Gak ah……mau ke perpus aja, daa…duluan gue…., eh.jangan lupa kalau sudah pulang samperin gue di perpus ya…”Luna mengarahkan kedua kakinya kearah perpus yang terletak dua gedung dari kantin.
Sebenernya agak aneh memang meletakan ruang perpustakaan agak jauh dari kelas-kelas murid. Walaupun alasan sekolah cukup masuk akal, itu dilakukan agar suasana tidak terlalu bising.
Luna agak mempercepat langkahnya di koridor kelas XI C, karena Luna tahu disana ada bu siska yang sedang mengajar. So kita cari aman dulu, Luna agak sedikit membungkukkan badannya didepan kelas XI C, Luna membungkuk dan mempercepat langkahnya. Terus….terus….dan terus….lewat juga akhirnya. Luna mengelus dadanya tenang.
LUNAAA……………………” jerit Bu Siska, yang mengetahui tindakan Luna yang cabut dari pelajaran.
“GAAAKK…… MAUUUUUUUUUU………..” Luna langsung lari ngibrit entah kemana, dalam sekejap ia sudah tidak terlihat dikoridor sekolah menuju perpus.
“Kok lari……mau ngasiin buku tugas juga” Bu Siska cuma bisa menatap kosong kekoridor dan buku tugas Luna yang masih ia pegang.
Luna terus berlari menelusuri koridor sekolah dengan kecepatan penuh, melewati ruang kepala sekolah, ruang BP, lapangan basket, gedung olahraga dan akhirnya berakhir di kantin dan langsung memesan teh botol dingin.
“ini nikmatnya sekolah” ucap Luna masih terengah-engah.
Tapi sayang nikmat sekolah yang dia maksud datang lagi, kali ini bukan ibu Siska yang lebih mirip tante-tante kiler yang didepannya. Amiiiiin………….banget memang karena yang didepannya bukan tante itu, tapi………!!! O M G, ini lebih gawat” Luna langsung menaruh botol kenikmatan pelepas dahaganya. Mengangkat kaki kanannya…..dan……..KABUR……………….TIDAK…………………..AMPUN…….Pak DULLOH………..piiiiiiiissssss………………….
Luna langsung kembali berlari kocar-kacir, kembali berolahraga siang. Memutar lapangan basket, memutari kembali parkir siswa, bebelok ke parkir guru, melewati pepustakaan yang ingin ia kunjungi tadi dan sekarang tidak. Dan terus berlari tanpa melihat belakang, trus berlari dengan menutup mata, terus berlari menghindar kematian (Walau itu sebenarnya enggak mungkin) dan terus berlari…..terus…..terus……….terus…..semakin jauh…jauh……lurus kedepan…………
BRAAK……….aaahh………….
“Gila loe ye……..pake mata dong” satu makian yang langsung membuat Luna tersontak. Walaupun matanya tetap terus menatap lantai koridor, mengatur napasnya yang sudah kocar ancur, mengumpulkan kembali tenaganya yang telah hilang bersama derap kakinya yang melaju kencang, dan mengatur kata-katanya untuk dimuntahkan dan memaki kembali bajingan tengik yang telah menghalangi jalannya. Hingga akhirnya Luna harus tertangkap oleh Pak Dulloh guru matematika dengan kumis tebal ala Pak Raden dan tangan kekar ala Ade Rai, dengan mudah menarik kerah baju Luna hingga ia terangkat dari duduknya.
“Mampus…belek aja sekalian Pak….” Cowok ngehe’ itu malah memanas-manasi suasana.
“Leher kamu yang saya belek” Pak Dulloh bukannya mendengar omongan Cowok brengsek itu, eh….malah memaki balik.
“Mang….enak…..” Luna tersenyum sinis.
“Bodo…” cowok sialan itu, langsung berbalik dan melangkah pergi.
“Awa.loe………gue matiin…entar……” maki Luna sadis.
“Kamu yang akan mati duluan” Luna langsung diseret Pak Dulloh keruang BP, dimana itu tempat ia dan komplotannya berkumpul. Komplotan yang semuanya orang berkumis dan berbadan kekar, hee….hee….maklum rata-rata dari mereka kerajingan fitnes.
“Yah……….ini lagi, enggak ada yang punya penyakit yang laen apa sekolah kita ini” ledek Pak Sukro, penjahat kelamin yang sukanya dengan daun muda menyindir Luna.
“hhhmm……belum tahu aja loe siapa gue….loe berlima yang badanya segede gentong gajah ini juga gue lawan fuck….bacot loe semua bau kalau ngatain gue” geram Luna, yang enggak terima dianggap enteng.
Dua jam sudah Luna didalam ruang ngehe’ yang enggak ada sejuk-sejuknya. Kacrutnya didalam dia Cuma disuruh duduk doank tanpa suguhan minum dan makanan yang cukup buat menambal perutnya yang kehabisan tenaga, habis joging melelahkan tadi. Hehee…..hee…joging katanya dasar geblek.
Dalam hitungan tiga, dengan modal nekat dan sok berani, Luna berdiri dari duduknya, mengendap-endap…….dan KABUUUURRR……….
CIIIITTT……”Luna berhenti dari larinya.
“Loh…..kok enggak ada yang ngejar”Luna jadi bingung dan mengendus-endus lantai. “Enggak ada bau bajingan tengik itu”
Luna lalu berjalan kembali keruang pengap tai itu, mengintip, celingak-celinguk.
“Anjriiitt…..sialan banget, pada tidur….kalau tau dari tadi dah…gue cabutnya” Luna berjalan santai, tapi sampai dikelasnya……..
“Ngehe’…….dah pada balik…..?” Luna mengerutu sendiri.
Langkah gontainya menelusuri koridor sekolah yang sudah sepi…sepi sekali, cuma Pak Saha dan Ibu Eta, sepasang suami istri penjaga sekolah yang ia temui. Di parkir guru, Luna melihat gerombolan guru yang enggak manusiawi.
“Pulang sendirian ?” sebuah kalimat yang dalam dan langsung menusuk hati.
“Sialan…..” sungut Luna, langsung mempercepat langkahnya.
Dihalte
Kejadian hari ini sangat melelahkan buat Luna, sebuah kesialan dibalik hobinya yang sering membangkang dan berlari. Semenjak ia menemukan hobinya tidur dikelas dan melawan guru betisnya kini tjadi terasa dua,tiga,empat sampai sepuluh kali lipat lebih gede.
Sampai di Halte, Luna langsung menghempaskan tubuhnya di bangku halte yang keras terbuat dari besi yang mulai berkarat.
“Fhuu….letih, capek, lelah….enggak ada yang jual air lagi” keluh Luna memijit-mijit betis kakinya yang sudah membesar.
“Haus….?” Seseoran menyodorkan sebotol air mineral yang sangat diharapkan Luna.
“Makasih….” Jawab Luna tanpa menoleh sedikitpun ke yang empunya.
“Makanya…jadi cewek yang lembut dikit…jangan suka berbuat yang nyeleneh”
“Loe belum….balik Xeg….”Luna mengalihkan pembicaraan. Ternyata tanpa perlu melihat siapa orangnya dari suaranya aja Luna sudah tahu kalu itu Xegy.
“Dibilangin malah ngalihin pembicaraan, udahlah…gue duluan”Xegy langsung menyetop bus.
“Eh….gila….tunggu”Luna langsung mengejar bus-nya.
Bus yang penuh sesak, dan bau yang menyengat. Wuiiihh…apalagi kalau bukan dari ketek-ketek para penumpang yang pada enggak pake deodorant…(Haaahhhhaaa…mungkin). Tapi rasa sesak dan bau ketek itu enggak akan pernah bisa menghentikan kegilaan Luna dan Xegy akan angkutan yang ini, coz penuh tantangan dan bisa melatih pernapasan karena kita akan menahan napas dari awal naek sampe turun yang penting murah cuy. BUSWAY…??? NO Way…..gak da tantangannya plus mahal, kan kantong anak sekolah terbatas tapi enggak buat mereka yang tinggal di perumahan elite sama apartemen.
“Gila…loe…bisa naek juga” sindir Xegy kena.
“Loe kira Luna Prisma, baru kali ini naik bus” Luna langsung loncat keluar.
“LUNAAA………”teriak Xegy, walau akhirnya Luna enggak apa-apa.
Luna langsung, berlari lagi menuju rumahnya, kayaknya sih lari sudah jadi kegiatan favoritnya setelah kejadian di skeolahnya tadi.
Balik lagi ke Xegy, mahluk satu ini enggak langsung balik kerumahnya, tapi dia malah mampir dulu kerumah temennya, cowok….(Haa….cowok ?). tapi entar dulu jangan mentang-mentang dia mau kerumah cowok bukan berarti dia homo……..xegy mau kerumah temen lamanya.
“Misiiiiiiiii………”teriak Xegy, setelah sampai dan berada tepat didepan pagar, rumah temennya.
“Yaa..ya…bentar”suara sautan dari dalam rumah, terdengar jelas dan cukup cempreng.
“Dino mana Bi ?”
“Ada dikamar langsung masuk aja”
“Ya ialah…emang siapa yang mau diem disini, panas tahu” Xegy malah ngeledek Bi Sarah dan langsung ngibrit masuk, takut Bi Sarah nyerang balik ( Dalam kasus ini, kenapa disetiap sebuah tulisan sinetron, novel dan film selalu saja nama pembantu suatu keluarga itu jelek dan agak kampungan, so’ kita rubah neehh, coz enggak semua pembantu namanya jelek).
“Huu…dasar anak muda jaman sekarang endak tahu sopan santun, wes geblek kabeh” gerutu Bi Sarah sendirian.
“Makanya saya sekolah biar enggak geblek……”Xegy yang mendengar gerutuan Bi Sarah langsung menyahut.
Dino ? dalam mimpi Luna kita pernah membahasnya. Yup …Dino adalah sahabat dekat dari Xegy dan Luna dari SMP, Dino memang benar-benar berubah dalam hal penampilannya sekarang, bodo amat style kayaknya sudah dia buang jauh-jauh. Penampilannya sekarang jepang banget, paduan baju dengan warna-warna terang dan matanya yang sedikit sipit hampir membuatnya sangat mirip dengan orang jepang, itupun akan berhasil kalau saja kulitnya sedikit lebih putih, tidak kuning langsat seperti sekarang.
“Luna mana ?”tanya Dino setelah Xegy berada didalam kamarnya.
“Tahu dia tadi langsung balik, padahal udah gue panggil udah gue tungguin, eh malah tadi langsung loncat aja dari bus”jelas Xegy rinci banget.
“Wuiihh…tambah gila aja tuh anak, masi tukang tidur gak tuh bocah ?” Dino, sepertinya kangen dengan kebodohon dan kegilaan Luna.
“Halah…gak usah komentarin dia, sekarang yang penting mana oleh-oleh gue ?”Xegy langsung menuju sebuah bungkusan besar yang ada didekat lemari Dino. Tangan geratakan Xegy langsung membongkar isi bungkusan itu, tapi tak ada apa-apa yang ia temukan Cuma puluhan pakaian kotor, mungkin bekas Dino waktu dijepang, hueekks…baunya, Xegy langsung memasukkan lagi baju super bau itu.
“Makanya tangan tuh jangan geratakan” Dino ketawa sendiri melihat Xegy menahan bau dari baju yang sudah ia pendam selama berminggu-minggu.
“Tai…lu”
***
Skul 10 Juni 2006/ 08:30

Mendung menyelimut, langit mulai hitam pekat tapi hujan tetap saja belum kunjung datang. Melati di taman sekolah sudah tetunduk layu menanti hujan. Luna….., dimana Luna sekarang ? bingung, semua orang dikelasnya sibuk mencari satu buah sontoloyo yang hilang ini, tasnya sih ada…..tapi entah orangnya kemana, dari awal pelajaran tadi sampe sekarang sudah istirahat kedua penjahat kelas kakap itu belum juga ditemukan batang hidungnya.
Karena ini sebuah rahasia, tak ada satupun dari siswa kelas Luna yang melapor ke guru. Karena hampir semua teman Luna tahu, kalau kasus ini dilaporkan habislah riwayat Luna, semua kisah dan kasih kejahatan dan kebadungannya akan berakhir.
“Wooii…emang enggak ada yang ngeliat Luna kemana apa ?”Xegy yang bukan penghuni kelas Luna, langsung masuk dan uring-uringan dikelas orang.
“HUuuuu………….” Hampir seisi kelas menyoraki Xegy.
“Pada kampret lu ye…..gue tanya baek-baek” Xegy langsung ngibrit pergi setelah ia memaki sesaat penghuni kelas, karena ia tahu beberapa detik ia terlambat kabur, bisa hancur mukanya. Dikejahuan Xegy sedikit mendengar maki-makian para setan remaja kelasnya Luna.
“Amin….Amin, untuk gue keburu pergi” Xegy bersyukur dengan tindakan cepatnya.
Tapi kemana Luna sekarang ? gila juga, manusia yang enggak bisa diem kayak dia bisa ngilang, letak gilanya sampe satu sekolah enggak ada yang tahu, biasanya sih tanya sama satu orang anak juga pasti ada yang melihat jejaknya. Tapi, sekarang kemana bocah tengik itu.
“Kalau aja sekolah ini ada anjing pelacak, pasti sudah ditemukan monyet sialan itu” sungut Xegy kesal.
Bel pertanda kalau sekolah telah selesai, telah berbunyi, tapi Luna masih saja belum ada yang menemukannya. Sebagian dari temannya yang sudah putus asa, memutuskan untuk pulang, karena mereka capek dengan tingkah Luna yang gak jelas kayak gini. Tapi sebagian lagi masih ada yang tetap mencari disemua tempat yan paling mungkin untuk dilakukan untuk tidur. Kenapa tempat untuk tidur ? coz, ini dari pengalaman, Luna biasanya kalau ngilang kayak gini pasti dia pergi buat cari tempat untuk tidur, apa lagi kalau bukan untuk itu.
Karena ini sudah sangat gawat, akhirnya Bingo, sang ketua kelas Luna, melaporkan semua ini ke guru dan wali kelas. Pencarian pun semakin gencar, hampir semua penghuni sekolah dan instansi terkait ( apa seehh…GJ ) ikut membantu, enggak ketinggalan Pak Saha dan Bu Eta turut membantu mencari. Kayaknya memang sudah benar-benar gawat.
Suhu udara semakin panas, sudah beberapa botol air mineral telah diminum oleh Cika teman sebangku Luna, yang masih tetap betah mencari jejak Luna. Rasa penasaran dan kesal yang sudah sampai diatas normal, yang membuat Cika tetap melakukan penelusuran jejak hantu cilik itu.
“Loe ngapain sih, lagi dapet ya ?” selidik Xegy, sambil menyipitkan sedikit matanya, ia melihat dari tadi Cika merapatkan kakinya dan terus memegangi pinggangnya.
“Kurang ajar loe, belum awal bulan tahu, gue kan dapetnya tiap awal bulan” Cika menyangkal tuduhan Xegy.
“Oohhh….jadi tiap awal bulan toh dapetnya, terus itu ngapain ?”
“Aku mau pipis……..nih” ucap Cika sok dibikin manja.
“Dasar idiot, ya ketoilet sana, ngapain loe tahan-tahan kena kanker rahim tar loh” ucap Xegy, menakut-nakuti Cika.
“Waaaahhh….gitu ya, yo wes gue ketoilet dulu ya…..”Cika langsung berlari kecil menuju toilet sekolah, enggak kebanyakan toilet sekolah lain, yang bau dan kotor. Justru ditoilet sekolah ini semua terlihat bersih dan nyaman, wangi lavender selalu tercium dari gantungan pewangi ruangan toilet ini, dan ini juga berlaku untuk toilet cowok.
AAARRGGGGGHHHHHHHH……………………..XEGGGGYYY………….
Terdengar teriakan Cika dari dalam toilet, yang membuat semua team ekspedisi pencarian jejak Luna berhamburan menuju toilet.
“Haahhaaa….mampus loe kepeleset pasti” Xegy, tertawa dalam hati. Ia lalu berjalan santai menuju toilet.
Sampai didalam toilet sepertinya perkiraan Xegy benar, banyak kru team ekspedisi pencarian jejak Luna yang ketawa ngakak, tapi, anehnya kok Pak Memet wali kelas Luna malah melotot, sampai semua retina, air matanya mau keluar. Begegas Xegy menerobos kerumunan kru-kru.
“Anjriiiiitttt………” ucap Xegy terperangah kaget. Didalam toilet diatas closet duduk, terlihat Luna sedang tidur dengan pulasnya, parahnya kayaknya ini semua sudah terencana, karena dibelakang kepalanya ada sebuah bantal tidur. Bener-bener edan.
“Cepet…bangunin” Pak Memet, mendorong Xegy kedalam toilet. Sebelumnya Xegy menyuruh semua orang untuk menyingkir dan keluar dari dalam toilet, lalu Xegy meneluarkan Super TOA dari tasnya, menarik napas dalam-dalam dan…….
LUUUUUUUNNNNAAAAAAAAAA………………….
BAAAAANGUUUUUUUUUUNNN………………
Semua urat Xegy keluar, kuping berdengung, dan jantung ikut berdetak kencang.
“WHhoooaaaaa……dah balik sekolah cuy” Luna membuka matanya.
“Anjriit…loe, hati-hati aja loe diluar ada Pak Memet, kayaknya riwayat loe berakhir hari ini” Xegy berlalu keluar toilet, diluar terlihat semua kru Team Ekspedisi Pencarian Jejak Luna dan enggak ketinggalan Pak Memet, meniup-niup kuping mereka. Xegy Cuma tertawa geli melihatnya dan berlalu untuk pulang, sambil mencopot pengedap suara dari kupingnya.
***
“Gitu….tuh ceritanya” Luna menyudahi ceritanya.
“Loe aja yang kebangetan, gila loe enggak ilang-ilang tahu gak” Dino, tertawa geli, dan iapun meninggalkan Luna sendirian dikamarnya, sambil merutuk Dino karena menertawakannya.
“Tapikan sekarnag lagi Piala Dunia jadi wajar dong, gue ngatuk berat” Luna masih mau menang sendiri.
“Yaa….tetep aja loe kebangetan” sahut Dino dari ujung pintu kamar.

selesai