Jumat, 12 Februari 2010
Bidadari Yang Mengambil mata saya
"Maafkan aku, sungguh aku sangat terpaksa melakukan hal ini. Kelak, ketika engkau telah tiba pada suatu tempat, di mana Tuhan kita membuang Adam, saat engkau telah tumbuh dewasa, maka engkau akan tahu betapa tidak bergunanya mata. Sebab, pada saat itu orang-orang tak dapat lagi membedakan, tak dapat lagi menilai. Pada saat itulah, sayang, aku akan datang padamu dan mengembalikan matamu. Untuk sementara lahirlah tanpa mata, biarkan matamu aku bawa, akan selalu aku doakan ia, agar kelak saat aku mengembalikannya padamu, ia mampu membedakan segala sesuatu. Maka pada saat itu engkau harus bersiap menjadi seseorang yang paling terasing". KATA ibu, aku dilahirkan pada sebuah rumah yang mewah, milik kakek dari ayahku. Sebelum aku dilahirkan, kehidupan mereka selalu menyenangkan, penuh canda tawa dan suasana yang sangat intim. Terlebih ketika ibuku mengandung aku, setelah hampir tujuh tahun ibu mengalami masa menunggu yang mendebarkan. Kakek dan nenek selalu memanjakan ibuku, sebab ibuku adalah istri dari anak semata wayangnya, dan sudah barang tentu mereka mengharapkan ayah dan ibuku memberikan seorang cucu untuk melestarikan keturunan mereka. Setiap hari ibu dilayani layaknya seorang putri, bahkan makan pun nenek yang menyuapinya. Setiap sore, mereka semua duduk di teras rumah, memutarkan musik Mozart, agar kelak bayi yang ada dalam kandungan ibu menjadi anak yang pandai. Kakek mengupaskan buah-buahan untuk ibu, sampai ayah pulang dari kantor dan memarahi kakek dan nenek, sebab menurut ayah tak baik seorang yang tengah hamil di luar rumah saat menjelang petang. Pada saat usia kandungan ibu berumur tujuh bulan, rumah mewah itu menjadi benar-benar ramai, akan diadakan acara tujuh bulanan. Kata ibu, ia dirias sangat cantik, dengan gaun yang mewah dan sandal jinjit yang tinggi. Tetangga-tetangga dekat diundang, juga seorang ulama yang tak jauh dari rumah kakek. Semua undangan duduk dengan tenang, dengan sesekali menyeruput minuman dan menyantap kue-kue yang telah dihidangkan. Tak lama kemudian terdengar suara orang mengaji yang sangat indah. Semua orang yang ada dengan serentak diam, menghentikan percakapan mereka. Setelah pembacaan itu selesai, kakek memberi sambutan pada segenap tamu, mengucapkan terima kasih karena mereka menyempatkan waktu mereka yang sangat padat dengan bermacam agenda kerja untuk datang dalam acara yang membahagiakan itu. Dari dalam kamar, di mana ibu tengah dirias, terdengar suara kakek yang tengah memberi sambutan. Kemudian nenek membawa ibuku turun menemui para undangan, sebab setelah sambutan dari kakek akan ada acara siraman rohani yang disampaikan oleh ustaz yang telah diundang, tentang bagaimana cara mendidik anak-anak yang diajarkan agama. Semua tamu terkesiap saat ibuku turun dari tangga dan menuju ke arah mereka. Sayang sekali, terkesiap itu tidak berlangsung lama, sebab kaki ibu terkeseok dan jatuh terguling dari tangga. Semua orang yang ada saat itu secara serentak menjerit. Selangkangan ibu mengeluarkan darah. Ayah, kakek, dan nenek bergegas membawa ibu ke rumah sakit, dengan sebuah mobil. Sejak kejadian itu, rumah menjelma sebagai sirkus orang-orang yang pucat, kesedihan tergaris pada kening ayah, kakek, dan nenek, membuat ibu mengalami ketegangan yang tak dapat ditawar. Dan pada sebuah malam, saat ayah dan ibu duduk berdua di kamar, dengan nada dasar yang sangat berat, ibu bertanya pada ayah perihal apa yang membuat keluarga yang sebelumnya menyenangkan itu menjadi seperti ruangan para pidana yang cemas menunggu eksekusi. Dengan suara yang menggetarkan, seperti suara dari negeri yang entah ada di mana, ayah memberi tahu ibu; bahwa bayi yang tengah ibu kandung, sebab kecelakaan itu, jika kelak terlahir akan menjadi bayi yang cacat. Bayi yang sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk tahu apa dan bagaimana ayah dan ibunya, bagaimana rupa dunia. Ibu seperti dilemparkan pada sebuah ruangan yang setiap sudutnya memancarkan sinar laser, yang jika tersentuh sedikit saja maka ia akan hancur. Ibu merasakan sinar itu kian mendekat, membangun sebuah ruang yang menyekatnya untuk menemui ayah, kakek, dan nenek. Ruangan itu meredamkan setiap apa saja yang dikatakan ibu, tidak memberi kesempatan pada ibu untuk sekadar berkata maaf, tak mampu membahagiakan mereka. Hingga pada suatu malam, sinar merah itu memaksa ibu untuk keluar, untuk keluar, dan meninggalkan semuanya, rumah, keluarga dan segala sesuatu yang ada di rumah kakek. Ibu pergi tanpa mampu membawa apa pun, selain telepon genggam yang masih sempat ia bawa, saat sinar merah itu menyerang. Dari telepon genggam itulah ibu tahu bahwa ayah dan semua yang ada di rumah kakek mengalami cemas yang akut, mereka selalu berharap agar ibu kembali ke rumah itu. Mereka akan menerima kejadian itu dengan apa adanya, bahkan kata kakek dalam sebuah pesan singkatnya; jika kelak bayi yang dilahirkan ibu sudah menginjak dewasa, ia akan mengoperasi matanya agar dapat melihat. Namun ibu membalasnya dengan sangat singkat; maafkan aku yang tak dapat memberi kebahagiaan. Hanya itu, sebab ibu segera menjual teleponnya untuk ongkos kepergiannya. Sebuah kepergian untuk menepi, meninggalkan sesuatu bukan untuk mencari sesuatu. Ibu kemudian memelukku dengan erat. Aku merasakan ada sesuatu yang terjatuh dan dingin dari matanya. Dengan kemurungan yang tak dibuat-buat, ia meminta maaf padaku karena tak dapat memberi kebahagiaan. Selalu kata-kata itu yang aku dengar setiap kali aku pulang dengan bersedih sebab ejekan teman-teman sepermainanku. *** AKU tumbuh menjadi seorang lelaki yang tak banyak tahu tentang dunia luar, tentang apa dan bagaimana ibuku bekerja keras untuk membiayai kehidupan kami. Aku hanya tahu dari ibu bahwa di luar sangat tidak menyenangkan, lebih baik di kamar saja. Dan saat aku bertanya padanya kenapa ibu seringkali keluar, padahal di luar tengah rusuh, maka dengan membelai rambutku dengan kasih sayang yang sesungguhnya, ia akan menjawab; itu semua ibu lakukan untuk membiayai kehidupan kita. Kalau ibu tidak keluar, maka kita mau makan apa. Sebagai seorang yang berkembang sebagaimana mestinya, aku juga memiliki rasa keingintahuan yang besar tentang apa yang terjadi di luar. Maka pada suatu sore, saat ibuku belum pulang dari bekerja, aku mencoba keluar dari rumah. Aku berusaha menandai jalan yang aku lewati agar saat kembali aku tak tersesat, sampai akhirnya aku mendengar suara anak-anak yang aku yakini seusiaku, tengah bermain-main. Aku menghampiri mereka dan meminta agar aku boleh bermain bersama mereka. Namun mereka mengejekku, dengan serapahan, bahkan ada di antara mereka yang menjorok-jorokkan kepalaku. Mereka bernyanyi dengan sangat serempak, mengatakan aku buta. Suara mereka semakin keras, dan semakin banyak saja yang mendorong dan menjorokkan kepalaku. Sampai akhirnya ibu datang, membawa aku untuk pulang. Sesampainya di rumah, ibu memeluk aku erat, dengan tetes-tetes air dari matanya, dan meminta maaf padaku karena ia tak dapat membuat aku bahagia. Setelah itu ia menidurkan aku di ranjang, sambil menasihati aku agar aku tidak mengulangi pergi dari rumah lagi. Dan aku tertidur pulas. Malam itulah, aku terdampar pada suatu tempat yang benar-benar sepi, tanpa suara apa pun. Di sana aku dapat melihat daun-daun yang gugur. Aku melihat kota-kota yang hancur, rumah-rumah yang dindingnya rubuh, namun tak aku temui seorang pun di sana. Aku mencoba mencari-cari seseorang, hanya untuk sekadar bertanya apa yang sebenarnya baru terjadi, atau setidaknya aku tahu di mana aku sedang terdampar. Aku berjalan menyusuri tanah yang pecah-pecah, melewati rumah-rumah yang dindingnya rubuh. Cukup lama aku mencari-cari, sampai pada sebuah sudut rumah yang dindingnya pada beberapa bagian belum runtuh, aku menemukan seseorang. Ia berdiri dengan posisi membelakangi aku, rambutnya yang panjang tergerai, dengan aroma wangi ribuan bunga. Aku mendekatinya, mencoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi atau bertanya di negeri mana aku terdampar. O, Tuhan. Entah karena apa, tiba-tiba aku tak dapat mengeluarkan suara apapun. Aku hanya tergagap, aku hanya tergagap. Tanpa menoleh, dalam posisi yang membelakangi aku, ia berkata dengan sangat perlahan; Sayang, jika engkau memiliki mata, maka hal yang menakutkan seperti ini akan engkau lihat setiap saat, di manapun engkau berada. Kemudian ia menghilang begitu saja, dengan tetap tanpa menoleh. Pagi-pagi, seusai salat subuh, aku menceritakan mimpi misterius itu pada ibu. Ibu mengatakan bahwa itu hanya kembang tidur saja, tak perlu dipikirkan berlarut-larut. *** MIMPI sialan itu selalu datang setiap malam, dengan percakapan yang tidak adil, sebab hanya dia, sosok perempuan yang membelakangi aku itu yang berbicara. Namun pada suatu malam, entah malam yang keberapa, aku mampu berkata-kata, meski hanya sekadar bertanya siapa sebenarnya kamu. Dengan nada yang pelan, bahkan aku hampir tak dapat mendengar, ia menjawab, bahwa ia adalah bidadari yang pernah mengambil mataku. Aku mendekatinya, mencoba menyentuh pakaiannya yang putih, dengan kibaran selendang dan kerudung yang teramat harum. Namun sebelum hal itu berhasil aku lakukan, seperti biasanya, ia pergi begitu saja. Mimpi-mimpi itu membuatku semakin gelisah, sebab selain ingin tahu lebih banyak tentang apa dan bagaimana dunia luar, aku juga ingin tahu siapa dia dan apa yang sebenarnya ia inginkan dariku, sehingga selalu mendamparkan aku pada sebuah negeri yang hancur. Mendamparkan aku pada sebuah ruang yang selalu diselumuti pertanyaan yang menumpuk. Malam ini aku semakin cemas, sebab bayangan perempuan yang mengaku bidadari itu selalu muncul, dengan keadaan yang membelakangi aku. Dengan mengandai-andai, mengira-ngira, aku mencoba membayangkan wajahnya. Seseorang yang bermata lentik, dengan tatapan mata yang menyejukkan, serta senyuman yang selalu terkembang. Setelah itu maka kami akan bercakap-cakap, berjalan bersama, sampai akhirnya aku terkejut dan ketakutan, sebab ia kembali mendamparkan aku pada sebuah negeri yang hancur. Aku berusaha untuk tidak tidur, sebab tidur sama saja dengan berjalan menuju dunia teror. Maka aku memutuskan berjalan keluar, dengan tanda-tanda jalan yang setiap hari selalu aku tandai. Setelah berjalan cukup jauh, aku mendengar sebuah suara yang tengah mengaji, terasa tenang, kemudian aku mendekatinya. Aku mengucapkan salam, sebelum akhirnya kepalaku membentur kaca jendela. Suara orang yang mengaji itu terdiam, kemudian digantikan dengan sebuah suara kaki berjalan dan mendekatiku. Ia membimbing aku masuk, dan menanyakan padaku tentang apa yang tengah melandaku, sebab katanya ia tahu dari wajahku ada yang menggelisahkan. Aku pikir tak ada salahnya jika aku menceritakan pada lelaki yang dari suaranya aku mengira telah berumur empat puluhan tahun itu. Lelaki itu meyakinkan aku bahwa tak ada yang perlu dicemaskan, sebab tak ada mimpi yang dapat menyekap kita, selama kita tahu bagaimana kita harus segera bangun. Maka aku mulai memejamkan mata, dengan sebelumnya berdoa agar perempuan itu tak datang menggangguku, kalaupun datang ia tak mendamparkan aku pada sebuah negeri yang hancur. Malam ini aku sangat muak, sebab aku kembali terdampar di tempat sialan ini, di suatu tempat yang tanahnya pecah-pecah, rumah-rumah yang dindingnya rubuh. Pada sudut rumah yang sebagian dindingnya belum rubuh, aku kembali menemukan perempuan berbaju putih itu. Kali ini ia membalikkan badan, menatapku dengan sendu, dan tersenyum. Pada tangannya yang mengembang, ia membawa dua biji mata. Ia memberi isyarat agar aku mendekat padanya. Aku berjalan mendekatinya. Namun lima langkah sebelum aku benar-benar berhadapan dengannya, aku dikagetkan dengan suara-suara yang keluar dari tanah yang pecah-pecah itu. Tepat di belakangku, mulai bermunculan ular berkepala manusia, dengan mata yang merah menyala menatap garang. Aku mempercepat langkah mendekati bidadari itu. Ia mengulurkan dua biji mata itu padaku, dengan suara pelan yang hampir tak terdengar; terpejamlah, saatnya aku mengembalikan matamu. Ia kemudian terdiam sesaat, sepertinya setelah jeda yang menggetarkan itu akan ada banyak hal yang ingin ia katakan padaku. Namun sialan, aku terkejut oleh suara teriakan, membangunkan aku dari mimpi. Aku terkejut bersamaan dengan gembira, sebab keajaiban telah datang; aku dapat melihat. Aku dapat melihat! Namun tak jauh di depanku, seorang lelaki bersarung, dengan tasbih di tangannya, tengah dililit ular-ular berkepala manusia, dengan mata yang merah garang. Ular-ular itu, mata yang merah dan garang itu, seperti ular-ular dalam negeri hancur di mana aku pernah terdampar
Sephia
Posting cerpen by: missAF
Apa yang ada di pikiranmu saat aku ucapkan kata sephia? Pasti sesosok gadis bodoh yang rela jadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Pasti kalian juga akan berpikir bahwa sungguh nista sekali menjadi sephia. Bagaimana tidak? Sephia ibarat istri simpanan, istri yang hanya dinikahi secara sirih dan juga penghancur hubungan orang. Segala hal negatif akan selalu muncul saat kata sephia diucapkan. Aku tidak menyalahkan kalian atas semua kata-kata miring itu. Tapi apa kalian pernah memikirkan bagaimana perasaan si sephia sendiri? Lepas dari semua kata-kata miring itu, seorang sephia masih bisa tersenyum lantaran dia masih mendapat cinta dari orang yang disukainya, meskipun dia hanya menempati tempat kedua. Apa yang sebenarnya menyebabkan seseorang dapat menjadi seorang sephia? Mungkin karena sama-sama mencintai orang yang sama. Kalian juga pernah kan mencintai pacar teman kalian sendiri? Dan mungkin saking cintanya, dia rela hanya menjadi orang kedua. Akupun demikian. Saking cintanya pada Josh, aku rela menjadi sephianya. Josh berulang kali memintaku membencinya tapi berulang kali pula aku tak bisa menjauh darinya. Apalagi Melisa, pacar resmi Josh mendapat beasiswa kuliah ke Singapura. Tentu Josh akan sangat kesepian dan membutuhkan aku. Dan akupun tak keberatan menjadi sephianya.
“Keira, sampai kapan kamu rela berhubungan diam-diam seperti ini?” aku pandang Josh dan tersenyum.
“Sampai kamu ingin mengakhiri ini semua. Sampai kamu nggak mencintai aku lagi.”
“Kamu tau itu nggak mungkin terjadi. Aku akan selalu cinta sama kamu.”
“Ya udah, kamu nggak usah tanya-tanya lagi.”
“Tapi ini nggak adil buat kamu. Aku nggak mau suatu saat kamu membenciku karena hal ini.” aku tersenyum lagi.
“Aku nggak akan membencimu karena hal ini, Josh. Ini keputusanku sendiri. Kalau memang kita ditakdirin seperti ini terus, mau gimana lagi?” lalu Josh membelai rambut cokelatku dan dikecupnya keningku.
“Andai saja kita bertemu sebelum aku menjadi pacar Melisa..” ucap Josh penuh sesal. Josh memelukku dan akupun teringat waktu pertama kali bertemu dengannya.
Melisa dan aku menjadi partner dalam panitia Malam Kesenian dua tahun lalu. Kami berdua menyeleksi band-band yang ikut perlombaan. Saat itulah aku bertemu Josh. Josh adalah drummer band Deathly Face yang menjadi runner up di perlombaan Malam Kesenian itu. Saat pertama melihat Josh, aku bisa tahu bahwa dia juga menyukaiku. Melisa memperkenalkan kami dan aku sama sekali tidak curiga mereka sudah pacaran saat itu. Josh tipe cowok cuek, jadi siapa sangka dia sudah berpacaran dengan Melisa? Aku pikir mereka hanya teman lama karena Josh anak kuliah dan kami masih kelas 3 SMA. Aku sendiri tidak mengenal Melisa dengan baik. Kami hanya bertemu saat sama-sama menjadi panitia Malam Kesenian. Dan aku pikir cewek seperti Melisa tidak suka anak kuliahan. Ternyata aku salah. Melisa sudah berpacaran dengan Josh sejak kelas 1 SMA. Lepas dari Malam Kesenian itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Melisa dan Josh.
Sampai akhirnya aku bertemu Josh di gedung fakultasku. Aku tidak menyangka bahwa dia akan menjadi seniorku di kampus. Dia masih mengingatku dan kami lalu berteman. Melisa sudah pergi ke Singapura saat aku bertemu lagi dengan Josh. Kami sering makan siang bersama, nonton film sampai akhirnya dia menyatakan cintanya. Aku senang saat tahu Josh juga mencintaiku. Tapi aku juga sedih saat tahu dia belum putus dari Melisa. Dia bilang hubungannya dengan Melisa sudah renggang. Aku ingin sekali menolaknya saat itu. Terlebih Josh juga tidak memaksaku menerima cintanya karena dia tahu itu akan menyakitiku. Josh bilang dia hanya ingin mengungkapkan perasaannya.
Akupun memutuskan untuk menjadi sephianya. Aku tahu itu akan menyakitiku tapi.. jika aku menolak cinta Josh, itu akan lebih menyakitiku. Dan beginilah kami sekarang. Josh tidak akan mengajakku keluar kalau Melisa masih ada di Bandung. Pernah suatu hari Melisa pulang ke sini dan aku tidak bertemu dengan Josh selama 2 minggu penuh. Tapi kini Melisa sudah kembali ke Singapura. Aku dan Josh bebas kemana saja. Kami senang menghabiskan waktu di pantai dan taman. Saat Melisa tidak di samping Josh, saat itulah aku merasa menjadi pacar resminya. Aku merasa Josh hanya milikku seorang. Tapi saat Melisa di samping Josh, aku kembali ke posisiku sebagai sephia. Kami menyembunyikan hubungan kami serapat mungkin. Tak boleh ada seorangpun yang tahu. Biarlah hubungan ini menjadi rahasiaku dan Josh saja.
*
Hari ini Josh membawaku ke tempat latihan bandnya. Meskipun aku hanya dikenalkan sebagai teman, itu tidak masalah. Aku harus sadar bahwa Melisa pasti telah dikenalkan terlebih dahulu sebagai pacar. Dan sangat tidak mungkin jika Josh harus mengenalkanku sebagai pacarnya juga.
“Kenalin ini Keira. Keira, ini Jo si vokalis, Adam si gitaris dan yang terakhir Nataniel si bassis.” Josh mulai mengenalkanku dengan anggota bandnya.
“Hai. Aku Keira.” ucapku. Semua anggota band Deathly Face ini terlihat sangar. Maklum aliran band mereka punk-rock. Aku harus akui bahwa band ini memiliki personil-personil berwajah tampan. Tentu Josh yang paling tampan. Tapi Jo, Adam dan Nataniel tidak kalah tampan. Aku sekarang tahu alasan band ini cepat dikenal.
“Hai, Kei.” tiba-tiba Nataniel berdiri di sampingku.
“Hai, Nataniel.”
“Panggil gue Nat aja. Kepanjangan kalo lengkap gitu.”
“Oke. Lo anak kuliahan juga?”
“Iya. Lo pasti nggak sadar kalo gue juga satu kampus sama lo.”
“Hah? Masak sih?! Jurusan kita juga sama?”
“Nggak sih. Tapi sekedar info nih : semua personil Deathly Face kuliah di kampus yang sama! Meski beda jurusan.” aku melongo tak percaya.
“Tapi gue nggak pernah liat lo, Jo dan Adam.” ucapku masih tak percaya.
“Mata lo dipenuhi Josh soalnya..” aku diam seketika.
“Eh, just kidding lho, Kei. Jangan marah. Gue tau kalian cuma temenan. Lagian si Josh kan pacarnya Melisa. Gue taulah dia pasti nggak ada apa-apa sama lo.”
“Bagus deh kalo lo tau..”
“Lo masih sewot gitu. Sori. Becanda gue kelewatan, ya?”
“Banget! Orang yang denger kata-kata lo bisa ngira yang nggak-nggak tentang pertemanan gue sama Josh!”
“Sori deh.. Maaf, Kei..” sebenarnya aku tidak marah. Hanya saja aku jadi lebih sensitif belakangan jika mengingat hubunganku dengan Josh.
“Kita latian, yok! Udah jangan ngegodain Keira mulu. Dasar tengil!” Josh mencairkan suasana yang tadinya tegang. Nat terkekeh sejenak dan meninju pelan lengan Josh. Josh melirikku dan memberi isyarat untuk bersikap lebih rileks. Aku memang bodoh. Hampir saja aku membongkar rahasia besarku. Aku menghela napas lalu melihat Deathly Face berlatih.
Josh mengantarku pulang selesai latihan. Dia juga mencium lembut bibirku saat mengantarku ke depan pintu rumah.
“Aku cinta kamu banget, sayang..” Josh selalu membisikkannya usai menciumku.
“Aku juga cinta kamu banget, sayang..” aku tersenyum manis melihat Josh pergi. Hari-hari selanjutnya aku terus menemani Josh berlatih bersama Deathly Face. Kami bersikap senormal mungkin agar Jo, Adam dan Nat tidak curiga. Untuk beberapa minggu pertama semuanya berjalan lancar. Tapi suatu hari Nat memergokiku berciuman dengan Josh. Dia membuntuti kami rupanya. Saat Josh pulang, Nat datang dengan wajah sinis.
“Jadi lo pacaran sama Josh?” aku menoleh kaget karena Nat muncul begitu saja.
“Nat?? Ngapain lo di sini? Tau darimana rumah gue di sini?”
“Gue ngebuntutin kalian. Gue udah curiga saat Josh pertama kali bawa lo ke tempat latian. Gue yakin kalian ada apa-apa. Josh nggak pernah bawa Melisa ke tempat latian karena dia bilang dia pengen konsen. Tapi saat dia bawa lo, gue ngerasa lo orang yang sangat spesial bagi Josh sampai-sampai dia bawa lo saat latian.”
“Jadi Melisa nggak pernah nemenin Josh latian??” tanyaku lirih. Nat membuang muka. Aku melihat dia kecewa sekali.
“Lo tau Josh pacaran sama Melisa?” aku mengangguk lemah.
“Terus kenapa lo masih mau pacaran sama dia?!! Jelas-jelas udah punya pacar!”
“Lo nggak akan tau gimana perasaan gue, Nat. Gue sayang Josh. Sangat sayang. Gue cinta Josh. Sangat cinta. Dan gue nggak keberatan jadi sephianya.”
“Bullshit! Apa lo nggak punya otak?!” Nat semakin marah.
“Bukan urusan lo, Nat!” akupun ikutan marah karena Nat terlalu mencampuri urusanku. Nat memandangku lama dan mendesah pelan.
“Sebenernya gue sayang banget sama lo, Kei.. Gue ke sini karena gue pengen nyatain perasaan gue. Gue cinta lo..” aku terperanjat mendengar pengakuan Nat.
“Nat.. lo.. Gue.. minta maaf. Maaf karena lo harus tau yang sebenernya..” aku tak kuasa menahan air mataku. Nat berjalan mendekat dan menyeka air mataku dengan tangannya. Aku menatap mata Nat yang memancarkan kesedihan. Aku memutuskan masuk ke rumah karena merasa terlalu bersalah.
*
Aku menceritakan semuanya pada Josh. Dia kaget dan tak percaya Nat juga menyukaiku. Kami bertiga bertemu siang ini untuk membicarakannya.
“Lo harus pilih salah satu, Josh!” ucap Nat tegas.
“Gue nggak bisa, Nat. Melisa pasti sedih banget kalo gue putusin.”
“Apa lo nggak mikirin perasaan Keira? Justru dia yang paling sering sedih gara-gara masalah ini!” ucap Nat berapi-api. Aku senang dibela seperti itu.
“Tapi gue juga nggak bisa mutusin Keira. Gue sayang banget sama Keira. Melebihi sayang gue ke Melisa..” Nat masih tidak puas dengan jawaban Josh.
“Kalo gitu, lo putusin Melisa gimanapun caranya! Kalo lo masih nggak mau pilih salah satu dari mereka, gue bakal ngerebut Keira dari lo!” ancam Nat. Josh mendelik kaget.
“Jadi karena itu lo nyuruh gue mutusin salah satu? Ternyata lo sama egoisnya kayak gue.” Josh dan Nat adu mulut. Tiba-tiba aku merasa muak dengan keadaan ini.
“Stop! Josh, aku setuju sama ide Nat. Kenapa kamu nggak nyoba dulu? Rasa cinta antara kamu dan Melisa udah pudar. Kenapa masih dipertahankan? Kalo emang rasa sayang kamu ke aku lebih besar, buktiin.” Josh dan Nat terperangah mendengar ucapanku. Josh berjalan mendekatiku dan mencium keningku.
“Kalo itu yang kamu mau, akan aku lakuin, sayang..”
*
Hari ini Melisa pulang ke Bandung. Josh akan memutuskannya. Aku menunggu dengan cemas. Sampai malampun Josh belum datang ke rumah. Aku sungguh mencemaskannya. Lalu kulihat Nat datang dengan wajah sedih.
“Josh mana?” Nat menunduk, tak berani menatapku.
“Dia ada di rumah sakit.” aku terbelalak. Ada apa dengan Josh?
“Josh kecelakaan? Ayo kita buruan ke sana!” Nat diam saja dan mengantarku ke rumah sakit. Dia tunjukkan sebuah ruangan bernomor 213. Aku bergegas masuk tapi Nat menahanku.
“Liat aja dari luar, Kei..” aku bingung dengan sikap Nat tapi kuturuti saja perintahnya.
Aku mengintip dari luar dan melihat Josh tengah duduk di samping sebuah ranjang putih dan.. Melisa! Aku melihat Melisa terbaring lemah di ranjang itu! Aku menoleh ke Nat untuk meminta penjelasan. Nat hanya geleng-geleng kepala dengan berat. Aku melihat Melisa mulai sadar dan bicara. Karena tidak bisa mendengar apapun, aku buka sedikit pintu kamar itu. Aku melihat Melisa meraih tangan Josh dan tersenyum.
“Aku seneng kamu orang pertama yang aku liat.” Josh tersenyum.
“Kok bisa kayak gini sih, Mel??” Melisa tersenyum simpul.
“Aku rasa ini namanya bencana membawa nikmat. Kalo aku nggak kecelakaan gini, kamu pasti ga peduli lagi sama aku. Sikap kamu belakangan jadi aneh, Josh. Aku ngerasa kamu nggak peduli lagi sama aku. Aku ngerasa kamu nggak cinta lagi. Aku takut kamu punya pacar baru di sini waktu aku nggak ada di samping kamu. Apalagi kamu sms kayak tadi..” Josh menggenggam tangan Melisa.
“Kamu ngomong apa sih, Mel?! Jangan mikir yang nggak-nggak dong! Aku sayang kamu kok..” Melisa tersenyum makin lebar. Aku tidak sanggup lagi melihat kejadian setelah itu. Aku berdiri lemas menatap Nat. Nat mendekat dan membelai rambutku.
“Melisa kecelakaan tadi siang. Dia ditabrak motor waktu nyebrang jalan. Kata Josh, dia udah sms Melisa untuk minta putus. Mungkin karena sms itu Melisa jadi ketabrak.” aku menangis pelan. Dadaku terasa sesak. Nat memelukku.
“Jadi mereka nggak bisa putus?” isakku.
“Kayaknya sih nggak. Lo tau nggak gimana awal mula mereka bisa pacaran?” aku memandang Nat dan menggeleng. Nat lalu mengajakku duduk di bangku kantin rumah sakit. Dia menceritakan sejarah Josh dan Melisa.
“Melisa adalah keponakan pemilik studio tempat kita biasa latian. Di situ mereka pertama kali ketemu. Melisa jatuh cinta ke Josh dan nyatain perasaannya. Karena takut ngecewain Melisa, Josh mau jadi pacarnya. Emang dari awal Josh nggak pernah cinta ke Melisa. Makanya waktu Josh bawa lo ke studio, gue langsung tau lo pasti cewek spesial buat Josh. Cewek yang bener-bener dicintai Josh. Pilihan Josh sendiri.” aku termenung mendengar ucapan Nat. Jadi selama ini..
“Sayang..” aku menoleh dan melihat Josh berdiri di belakangku.
“Aku mau ngomong sebentar.” aku berjalan mengikuti langkah Josh.
“Maafin aku, sayang..” Josh tiba-tiba memelukku sambil menangis.
“Maafin aku.. Aku.. Aku nggak bisa nurutin kemauan kamu..”
“Aku tau kok, sayang. Aku ngerti..” ucapku lirih. Dadaku masih sesak.
“Aku nggak tau kalo ini semua bakal terjadi. Aku sayang kamu. Aku nggak mau kamu sakit lebih dalam lagi..” Josh memandangku lemah.
“Aku ngerti kenapa kamu nggak bisa mutusin Melisa, sayang. Aku ngerti..”
“Aku nggak bisa ngejanjiin apapun. Melisa tergantung banget sama aku. Aku juga ngerasa nggak nyaman dan terkekang tapi.. aku nggak bisa mutusin Melisa. Dia bakalan lebih parah lagi kalo aku beneran mutusin dia.” aku tersenyum pahit.
“Sekarang terserah kamu, sayang. Aku nggak akan maksa. Kalo kamu pengen mengakhiri ini semua, nggak pa-pa. Aku ngerti..” aku memandang Josh. Aku sangat mencintainya. Tapi aku juga nggak kuat menjalani hubungan ini terus menerus. Lalu kulihat Nat datang dan memberitahu kami Melisa mencari Josh. Josh mencium keningku sebelum menemui Melisa. Nat menatapku dengan penuh makna. Aku rasa dia mendengar obrolanku dengan Josh.
“Jadi??” aku diam. Mencoba memikirkan semuanya.
“Gue bakal terus nunggu lo, Kei. Karena gue beneran cinta sama lo..” Nat menggenggam tanganku. Aku menatap Nat bimbang. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku akhiri hubungan terlarangku dengan Josh? Tapi aku sangat mencintai Josh. Di lain sisi, ada Nat yang menawarkan cinta baru padaku. Haruskah aku mencoba menyukainya? Apa yang harus aku lakukan? Aku berpikir sejenak. Lalu aku tersenyum.
“Sori.. gue nggak akan bisa ngebales perasaan lo, Nat. Gue cinta banget sama Josh. Sangat. Dan gue nggak peduli lagi sama semuanya. Asalkan Josh juga cinta sama gue, itu udah cukup. Mungkin gue emang bodoh karena mau ngejalanin ini semua. Tapi gue nggak peduli. Gue akan terus di samping Josh..” aku melepas genggaman Nat dan berlari mengejar Josh. Aku sudah memutuskan untuk terus menjalani hubungan terlarang ini dengan Josh. Aku tidak peduli Melisa masih berstatus pacar resmi Josh. Aku hanya peduli perasaan Josh. Asalkan dia tetap mencintaiku sepenuh hati, akupun akan mencintainya sepenuh hati.
“Josh..!” aku memeluknya dari belakang.
“Aku bakal terus di samping kamu, sayang..” Josh berbalik dan memelukku erat.
“Aku tau, sayang. Aku yakin kamu akan terus di samping aku.” Josh lalu mencium lembut bibirku.
“Aku cinta kamu banget, sayang..” bisiknya seperti biasa.
-v3-
Apa yang ada di pikiranmu saat aku ucapkan kata sephia? Pasti sesosok gadis bodoh yang rela jadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Pasti kalian juga akan berpikir bahwa sungguh nista sekali menjadi sephia. Bagaimana tidak? Sephia ibarat istri simpanan, istri yang hanya dinikahi secara sirih dan juga penghancur hubungan orang. Segala hal negatif akan selalu muncul saat kata sephia diucapkan. Aku tidak menyalahkan kalian atas semua kata-kata miring itu. Tapi apa kalian pernah memikirkan bagaimana perasaan si sephia sendiri? Lepas dari semua kata-kata miring itu, seorang sephia masih bisa tersenyum lantaran dia masih mendapat cinta dari orang yang disukainya, meskipun dia hanya menempati tempat kedua. Apa yang sebenarnya menyebabkan seseorang dapat menjadi seorang sephia? Mungkin karena sama-sama mencintai orang yang sama. Kalian juga pernah kan mencintai pacar teman kalian sendiri? Dan mungkin saking cintanya, dia rela hanya menjadi orang kedua. Akupun demikian. Saking cintanya pada Josh, aku rela menjadi sephianya. Josh berulang kali memintaku membencinya tapi berulang kali pula aku tak bisa menjauh darinya. Apalagi Melisa, pacar resmi Josh mendapat beasiswa kuliah ke Singapura. Tentu Josh akan sangat kesepian dan membutuhkan aku. Dan akupun tak keberatan menjadi sephianya.
“Keira, sampai kapan kamu rela berhubungan diam-diam seperti ini?” aku pandang Josh dan tersenyum.
“Sampai kamu ingin mengakhiri ini semua. Sampai kamu nggak mencintai aku lagi.”
“Kamu tau itu nggak mungkin terjadi. Aku akan selalu cinta sama kamu.”
“Ya udah, kamu nggak usah tanya-tanya lagi.”
“Tapi ini nggak adil buat kamu. Aku nggak mau suatu saat kamu membenciku karena hal ini.” aku tersenyum lagi.
“Aku nggak akan membencimu karena hal ini, Josh. Ini keputusanku sendiri. Kalau memang kita ditakdirin seperti ini terus, mau gimana lagi?” lalu Josh membelai rambut cokelatku dan dikecupnya keningku.
“Andai saja kita bertemu sebelum aku menjadi pacar Melisa..” ucap Josh penuh sesal. Josh memelukku dan akupun teringat waktu pertama kali bertemu dengannya.
Melisa dan aku menjadi partner dalam panitia Malam Kesenian dua tahun lalu. Kami berdua menyeleksi band-band yang ikut perlombaan. Saat itulah aku bertemu Josh. Josh adalah drummer band Deathly Face yang menjadi runner up di perlombaan Malam Kesenian itu. Saat pertama melihat Josh, aku bisa tahu bahwa dia juga menyukaiku. Melisa memperkenalkan kami dan aku sama sekali tidak curiga mereka sudah pacaran saat itu. Josh tipe cowok cuek, jadi siapa sangka dia sudah berpacaran dengan Melisa? Aku pikir mereka hanya teman lama karena Josh anak kuliah dan kami masih kelas 3 SMA. Aku sendiri tidak mengenal Melisa dengan baik. Kami hanya bertemu saat sama-sama menjadi panitia Malam Kesenian. Dan aku pikir cewek seperti Melisa tidak suka anak kuliahan. Ternyata aku salah. Melisa sudah berpacaran dengan Josh sejak kelas 1 SMA. Lepas dari Malam Kesenian itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Melisa dan Josh.
Sampai akhirnya aku bertemu Josh di gedung fakultasku. Aku tidak menyangka bahwa dia akan menjadi seniorku di kampus. Dia masih mengingatku dan kami lalu berteman. Melisa sudah pergi ke Singapura saat aku bertemu lagi dengan Josh. Kami sering makan siang bersama, nonton film sampai akhirnya dia menyatakan cintanya. Aku senang saat tahu Josh juga mencintaiku. Tapi aku juga sedih saat tahu dia belum putus dari Melisa. Dia bilang hubungannya dengan Melisa sudah renggang. Aku ingin sekali menolaknya saat itu. Terlebih Josh juga tidak memaksaku menerima cintanya karena dia tahu itu akan menyakitiku. Josh bilang dia hanya ingin mengungkapkan perasaannya.
Akupun memutuskan untuk menjadi sephianya. Aku tahu itu akan menyakitiku tapi.. jika aku menolak cinta Josh, itu akan lebih menyakitiku. Dan beginilah kami sekarang. Josh tidak akan mengajakku keluar kalau Melisa masih ada di Bandung. Pernah suatu hari Melisa pulang ke sini dan aku tidak bertemu dengan Josh selama 2 minggu penuh. Tapi kini Melisa sudah kembali ke Singapura. Aku dan Josh bebas kemana saja. Kami senang menghabiskan waktu di pantai dan taman. Saat Melisa tidak di samping Josh, saat itulah aku merasa menjadi pacar resminya. Aku merasa Josh hanya milikku seorang. Tapi saat Melisa di samping Josh, aku kembali ke posisiku sebagai sephia. Kami menyembunyikan hubungan kami serapat mungkin. Tak boleh ada seorangpun yang tahu. Biarlah hubungan ini menjadi rahasiaku dan Josh saja.
*
Hari ini Josh membawaku ke tempat latihan bandnya. Meskipun aku hanya dikenalkan sebagai teman, itu tidak masalah. Aku harus sadar bahwa Melisa pasti telah dikenalkan terlebih dahulu sebagai pacar. Dan sangat tidak mungkin jika Josh harus mengenalkanku sebagai pacarnya juga.
“Kenalin ini Keira. Keira, ini Jo si vokalis, Adam si gitaris dan yang terakhir Nataniel si bassis.” Josh mulai mengenalkanku dengan anggota bandnya.
“Hai. Aku Keira.” ucapku. Semua anggota band Deathly Face ini terlihat sangar. Maklum aliran band mereka punk-rock. Aku harus akui bahwa band ini memiliki personil-personil berwajah tampan. Tentu Josh yang paling tampan. Tapi Jo, Adam dan Nataniel tidak kalah tampan. Aku sekarang tahu alasan band ini cepat dikenal.
“Hai, Kei.” tiba-tiba Nataniel berdiri di sampingku.
“Hai, Nataniel.”
“Panggil gue Nat aja. Kepanjangan kalo lengkap gitu.”
“Oke. Lo anak kuliahan juga?”
“Iya. Lo pasti nggak sadar kalo gue juga satu kampus sama lo.”
“Hah? Masak sih?! Jurusan kita juga sama?”
“Nggak sih. Tapi sekedar info nih : semua personil Deathly Face kuliah di kampus yang sama! Meski beda jurusan.” aku melongo tak percaya.
“Tapi gue nggak pernah liat lo, Jo dan Adam.” ucapku masih tak percaya.
“Mata lo dipenuhi Josh soalnya..” aku diam seketika.
“Eh, just kidding lho, Kei. Jangan marah. Gue tau kalian cuma temenan. Lagian si Josh kan pacarnya Melisa. Gue taulah dia pasti nggak ada apa-apa sama lo.”
“Bagus deh kalo lo tau..”
“Lo masih sewot gitu. Sori. Becanda gue kelewatan, ya?”
“Banget! Orang yang denger kata-kata lo bisa ngira yang nggak-nggak tentang pertemanan gue sama Josh!”
“Sori deh.. Maaf, Kei..” sebenarnya aku tidak marah. Hanya saja aku jadi lebih sensitif belakangan jika mengingat hubunganku dengan Josh.
“Kita latian, yok! Udah jangan ngegodain Keira mulu. Dasar tengil!” Josh mencairkan suasana yang tadinya tegang. Nat terkekeh sejenak dan meninju pelan lengan Josh. Josh melirikku dan memberi isyarat untuk bersikap lebih rileks. Aku memang bodoh. Hampir saja aku membongkar rahasia besarku. Aku menghela napas lalu melihat Deathly Face berlatih.
Josh mengantarku pulang selesai latihan. Dia juga mencium lembut bibirku saat mengantarku ke depan pintu rumah.
“Aku cinta kamu banget, sayang..” Josh selalu membisikkannya usai menciumku.
“Aku juga cinta kamu banget, sayang..” aku tersenyum manis melihat Josh pergi. Hari-hari selanjutnya aku terus menemani Josh berlatih bersama Deathly Face. Kami bersikap senormal mungkin agar Jo, Adam dan Nat tidak curiga. Untuk beberapa minggu pertama semuanya berjalan lancar. Tapi suatu hari Nat memergokiku berciuman dengan Josh. Dia membuntuti kami rupanya. Saat Josh pulang, Nat datang dengan wajah sinis.
“Jadi lo pacaran sama Josh?” aku menoleh kaget karena Nat muncul begitu saja.
“Nat?? Ngapain lo di sini? Tau darimana rumah gue di sini?”
“Gue ngebuntutin kalian. Gue udah curiga saat Josh pertama kali bawa lo ke tempat latian. Gue yakin kalian ada apa-apa. Josh nggak pernah bawa Melisa ke tempat latian karena dia bilang dia pengen konsen. Tapi saat dia bawa lo, gue ngerasa lo orang yang sangat spesial bagi Josh sampai-sampai dia bawa lo saat latian.”
“Jadi Melisa nggak pernah nemenin Josh latian??” tanyaku lirih. Nat membuang muka. Aku melihat dia kecewa sekali.
“Lo tau Josh pacaran sama Melisa?” aku mengangguk lemah.
“Terus kenapa lo masih mau pacaran sama dia?!! Jelas-jelas udah punya pacar!”
“Lo nggak akan tau gimana perasaan gue, Nat. Gue sayang Josh. Sangat sayang. Gue cinta Josh. Sangat cinta. Dan gue nggak keberatan jadi sephianya.”
“Bullshit! Apa lo nggak punya otak?!” Nat semakin marah.
“Bukan urusan lo, Nat!” akupun ikutan marah karena Nat terlalu mencampuri urusanku. Nat memandangku lama dan mendesah pelan.
“Sebenernya gue sayang banget sama lo, Kei.. Gue ke sini karena gue pengen nyatain perasaan gue. Gue cinta lo..” aku terperanjat mendengar pengakuan Nat.
“Nat.. lo.. Gue.. minta maaf. Maaf karena lo harus tau yang sebenernya..” aku tak kuasa menahan air mataku. Nat berjalan mendekat dan menyeka air mataku dengan tangannya. Aku menatap mata Nat yang memancarkan kesedihan. Aku memutuskan masuk ke rumah karena merasa terlalu bersalah.
*
Aku menceritakan semuanya pada Josh. Dia kaget dan tak percaya Nat juga menyukaiku. Kami bertiga bertemu siang ini untuk membicarakannya.
“Lo harus pilih salah satu, Josh!” ucap Nat tegas.
“Gue nggak bisa, Nat. Melisa pasti sedih banget kalo gue putusin.”
“Apa lo nggak mikirin perasaan Keira? Justru dia yang paling sering sedih gara-gara masalah ini!” ucap Nat berapi-api. Aku senang dibela seperti itu.
“Tapi gue juga nggak bisa mutusin Keira. Gue sayang banget sama Keira. Melebihi sayang gue ke Melisa..” Nat masih tidak puas dengan jawaban Josh.
“Kalo gitu, lo putusin Melisa gimanapun caranya! Kalo lo masih nggak mau pilih salah satu dari mereka, gue bakal ngerebut Keira dari lo!” ancam Nat. Josh mendelik kaget.
“Jadi karena itu lo nyuruh gue mutusin salah satu? Ternyata lo sama egoisnya kayak gue.” Josh dan Nat adu mulut. Tiba-tiba aku merasa muak dengan keadaan ini.
“Stop! Josh, aku setuju sama ide Nat. Kenapa kamu nggak nyoba dulu? Rasa cinta antara kamu dan Melisa udah pudar. Kenapa masih dipertahankan? Kalo emang rasa sayang kamu ke aku lebih besar, buktiin.” Josh dan Nat terperangah mendengar ucapanku. Josh berjalan mendekatiku dan mencium keningku.
“Kalo itu yang kamu mau, akan aku lakuin, sayang..”
*
Hari ini Melisa pulang ke Bandung. Josh akan memutuskannya. Aku menunggu dengan cemas. Sampai malampun Josh belum datang ke rumah. Aku sungguh mencemaskannya. Lalu kulihat Nat datang dengan wajah sedih.
“Josh mana?” Nat menunduk, tak berani menatapku.
“Dia ada di rumah sakit.” aku terbelalak. Ada apa dengan Josh?
“Josh kecelakaan? Ayo kita buruan ke sana!” Nat diam saja dan mengantarku ke rumah sakit. Dia tunjukkan sebuah ruangan bernomor 213. Aku bergegas masuk tapi Nat menahanku.
“Liat aja dari luar, Kei..” aku bingung dengan sikap Nat tapi kuturuti saja perintahnya.
Aku mengintip dari luar dan melihat Josh tengah duduk di samping sebuah ranjang putih dan.. Melisa! Aku melihat Melisa terbaring lemah di ranjang itu! Aku menoleh ke Nat untuk meminta penjelasan. Nat hanya geleng-geleng kepala dengan berat. Aku melihat Melisa mulai sadar dan bicara. Karena tidak bisa mendengar apapun, aku buka sedikit pintu kamar itu. Aku melihat Melisa meraih tangan Josh dan tersenyum.
“Aku seneng kamu orang pertama yang aku liat.” Josh tersenyum.
“Kok bisa kayak gini sih, Mel??” Melisa tersenyum simpul.
“Aku rasa ini namanya bencana membawa nikmat. Kalo aku nggak kecelakaan gini, kamu pasti ga peduli lagi sama aku. Sikap kamu belakangan jadi aneh, Josh. Aku ngerasa kamu nggak peduli lagi sama aku. Aku ngerasa kamu nggak cinta lagi. Aku takut kamu punya pacar baru di sini waktu aku nggak ada di samping kamu. Apalagi kamu sms kayak tadi..” Josh menggenggam tangan Melisa.
“Kamu ngomong apa sih, Mel?! Jangan mikir yang nggak-nggak dong! Aku sayang kamu kok..” Melisa tersenyum makin lebar. Aku tidak sanggup lagi melihat kejadian setelah itu. Aku berdiri lemas menatap Nat. Nat mendekat dan membelai rambutku.
“Melisa kecelakaan tadi siang. Dia ditabrak motor waktu nyebrang jalan. Kata Josh, dia udah sms Melisa untuk minta putus. Mungkin karena sms itu Melisa jadi ketabrak.” aku menangis pelan. Dadaku terasa sesak. Nat memelukku.
“Jadi mereka nggak bisa putus?” isakku.
“Kayaknya sih nggak. Lo tau nggak gimana awal mula mereka bisa pacaran?” aku memandang Nat dan menggeleng. Nat lalu mengajakku duduk di bangku kantin rumah sakit. Dia menceritakan sejarah Josh dan Melisa.
“Melisa adalah keponakan pemilik studio tempat kita biasa latian. Di situ mereka pertama kali ketemu. Melisa jatuh cinta ke Josh dan nyatain perasaannya. Karena takut ngecewain Melisa, Josh mau jadi pacarnya. Emang dari awal Josh nggak pernah cinta ke Melisa. Makanya waktu Josh bawa lo ke studio, gue langsung tau lo pasti cewek spesial buat Josh. Cewek yang bener-bener dicintai Josh. Pilihan Josh sendiri.” aku termenung mendengar ucapan Nat. Jadi selama ini..
“Sayang..” aku menoleh dan melihat Josh berdiri di belakangku.
“Aku mau ngomong sebentar.” aku berjalan mengikuti langkah Josh.
“Maafin aku, sayang..” Josh tiba-tiba memelukku sambil menangis.
“Maafin aku.. Aku.. Aku nggak bisa nurutin kemauan kamu..”
“Aku tau kok, sayang. Aku ngerti..” ucapku lirih. Dadaku masih sesak.
“Aku nggak tau kalo ini semua bakal terjadi. Aku sayang kamu. Aku nggak mau kamu sakit lebih dalam lagi..” Josh memandangku lemah.
“Aku ngerti kenapa kamu nggak bisa mutusin Melisa, sayang. Aku ngerti..”
“Aku nggak bisa ngejanjiin apapun. Melisa tergantung banget sama aku. Aku juga ngerasa nggak nyaman dan terkekang tapi.. aku nggak bisa mutusin Melisa. Dia bakalan lebih parah lagi kalo aku beneran mutusin dia.” aku tersenyum pahit.
“Sekarang terserah kamu, sayang. Aku nggak akan maksa. Kalo kamu pengen mengakhiri ini semua, nggak pa-pa. Aku ngerti..” aku memandang Josh. Aku sangat mencintainya. Tapi aku juga nggak kuat menjalani hubungan ini terus menerus. Lalu kulihat Nat datang dan memberitahu kami Melisa mencari Josh. Josh mencium keningku sebelum menemui Melisa. Nat menatapku dengan penuh makna. Aku rasa dia mendengar obrolanku dengan Josh.
“Jadi??” aku diam. Mencoba memikirkan semuanya.
“Gue bakal terus nunggu lo, Kei. Karena gue beneran cinta sama lo..” Nat menggenggam tanganku. Aku menatap Nat bimbang. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku akhiri hubungan terlarangku dengan Josh? Tapi aku sangat mencintai Josh. Di lain sisi, ada Nat yang menawarkan cinta baru padaku. Haruskah aku mencoba menyukainya? Apa yang harus aku lakukan? Aku berpikir sejenak. Lalu aku tersenyum.
“Sori.. gue nggak akan bisa ngebales perasaan lo, Nat. Gue cinta banget sama Josh. Sangat. Dan gue nggak peduli lagi sama semuanya. Asalkan Josh juga cinta sama gue, itu udah cukup. Mungkin gue emang bodoh karena mau ngejalanin ini semua. Tapi gue nggak peduli. Gue akan terus di samping Josh..” aku melepas genggaman Nat dan berlari mengejar Josh. Aku sudah memutuskan untuk terus menjalani hubungan terlarang ini dengan Josh. Aku tidak peduli Melisa masih berstatus pacar resmi Josh. Aku hanya peduli perasaan Josh. Asalkan dia tetap mencintaiku sepenuh hati, akupun akan mencintainya sepenuh hati.
“Josh..!” aku memeluknya dari belakang.
“Aku bakal terus di samping kamu, sayang..” Josh berbalik dan memelukku erat.
“Aku tau, sayang. Aku yakin kamu akan terus di samping aku.” Josh lalu mencium lembut bibirku.
“Aku cinta kamu banget, sayang..” bisiknya seperti biasa.
-v3-
Perjalanan Cinta
Posting cerpen by: karinheyo
Bis antar kota ini bergerak meninggalkan terminal. Aku menghela nafas dalam-dalam. Akhirnya aku akan keluar juga dari kota ini. Kota yang begitu banyak menghadirkan kenangan-kenanganku dengan orang-orang yang kusayangi. Mama, Papa, Kak Dira, Kak Randu, juga sahabat-sahabatku, Lena, Dea,Yudha, Robi dan Rama. Aku menarik nafas lebih dalam, satu nama terakhir itulah yang membuat aku memutuskan untuk pergi meninggalkan kota kelahiranku ini. Cowok tampan, bertubuh atletis itu hampir 3 tahun menjadi kekasihku. Namun satu hari dimana genap 3 tahun hari jadi kami, aku menerima surat undangan pernikahannya. Entah aku yang bodoh atau memang dia yang brengsek. Aku sama sekali tak tahu kalau ternyata dia sudah punya pacar sewaktu aku jadian dengan dia.Devi, pacarnya itu berada di Australia untuk menyelesaikan study nya, dan sekarang sudah kembali. Mereka memutuskan untuk menikah, aku benar-benar marah, aku merasa dibohongi. Padahal aku sudah berharap terlalu jauh pada Rama. Dia begitu lembut dan sayang padaku. Tapi ternyata dia menyimpan kebusukan didalam kebaikannya.Aku benci padanya. Cintanya padaku ternyata palsu, dan itu membuat aku patah hati. Aku putus asa, dan sempat mengurung diri dikamarku selama 1 minggu. Entah berapa tetes airmata yang tumpah dari mataku, aku sangat frustasi, tapi aku sadar hidupku akan terus berjalan dengan tekad yang bulat aku memutuskan untuk pergi dari segala hal yang berkaitan dengan Rama. Mencoba untuk meniti kembali hidupku diluar kota ini. Entah kapan aku akan kembali, yang jelas setelah aku dapat melupakan dia seutuhnya dan menata lebih baik hidupku.Hari ini adalah hari pernikahannya, tapi aku tak mau menghadirinya. Aku tak mau melihat kebahagiaannya diatas penderitaanku. Itu akan sangat menyakitkan hatiku. Kota tujuanku adalah kota besar yaitu jakarta. Memang sebenarnya sudah sejak dulu aku ingin sekali menimba ilmu dan meraih masa depanku dikota metropolitan itu. Tapi karena disana, dikota kecilku, aku meninggalkan hatiku hingga aku mengurungkan niat tersebut.Bis yang aku tumpangi sudah jauh meninggalkan kotaku. Saat ini sedang melewati perkampungan di propinsi sumatera selatan. Terkadang berhenti sejenak untuk mengangkut penumpang lain dari setiap kabupaten. Saat melewati kabupaten yang ke-5, masuk seorang penumpang berbaju biru, mengenakan topi putih dan sebuah ransel dipunggungnya. Gayanya yang sporty memancingku untuk melihatnya. Tapi saat ia melepaska kacamata hitam dan topinya, aku semakin menajamkan pandanganku. Dengan posisi duduk yang agak dibelakang memang sulit untuk menelusuri pandangan yang ada didepan.Aku sedikit terkejut, setelah menatap lebih jauh wajah itu. Aku seperti mengenalnya, tapi siapa? Perlahan ia semakin dekat, berjalan kearahku dan kini ia berhenti tepat dihadapanku. Aku masih menerawang, mencoba mengingat. Kapan dan dimana aku mendapati sosok ini.“Hai” sapanya seraya menunjuk bangku disebelahku yang memang masih kosong. Dengan cepat, aku lalu menggeser tubuhku memberi peluang bagi dia untuk duduk. Sikapnya yang begitu tenang membuat aku semakin penasaran.Aku putar otakku menjelajah dan akhirnya aku terlonjak. Aku menemukan bayangan wajah dan sosok yang mirip dengannya. Sosok anak laki-laki yang sedang berlari mengejarku saat berada di lapangan bola tergambar jelas diingatanku. Kini aku tahu siapa dia. Aku memberanikan diri untuk memastikannya. Kulirik cowok disebelahku sekali lagi. Ga salah lagi. Batinku.“elo Iden kan?” tanyaku akhirnya.Cowok itu menoleh dan memandangku datar. Sesaat dia diam tanpa bicara, tapi aku tahu ia sedang berfikir keras. Mungkin sedang mengira-ngira.“Benar Iden kan?” ucapku sekali lagi. “gue Eri tetangga elo dulu”.Kini ia sedikit kaget, mungkin memang benar-benar kaget.“Benar elo Eri?” serunya tak mau kalah.“ya ampun Ri. Elo berubah banget”.Iden meneliti wajahku dan penampilanku. Aku tidak heran kalu dia kaget dengan perubahanku. Selama ini ia cuma mengenal satu kata untukku. Parah, ya itulah kecilku.Aku adalah cewek tomboy yang hampir tak pernah menyentuh rok selain seragam sekolah. Pernah aku mencoba untuk tampil semauku mengenakan celana layaknya seorang cowok. Hasilnya, aku disuruh pulang dan baru boleh kembali ke sekolah kalau aku sudah mengenakan rok. Kelakuanku itu mungkin dikarenakan aku anak perempuan satu-satunya di keluargaku. Teman-temanku pun rata-rata cowok semua, dan salah satunya Iden.sebagai tetangga dan juga teman satu kelas membuat kami semakin akrab. Kami begitu dekat, hampir setiap hari kami bersama. Dari belajar, hingga bermain. Tak jarang aku ketiduran dirumahnya saat siang bermain atau belajar, sebaliknya diapun begitu.Rumahku adalah rumahnya, rumahnya adalah rumahku. Tapi kebersamaan kami hanya bertahan hingga kelas 5 SD. Ayahnya ditugaskan keluar kota, dan mau tak mau mereka haru pindah. Saat mereka pindah aku berada dirumah eyang maka tak bisa mengantar kepergian Iden sekeluarga. Sejak itu kami putus hubungan, karena aku juga teman-teman yang lain tidak tahu alamatnya. Diapun tak pernah memberi kabar, melalui surat ataupun telepon.Dan hari ini, aku baru bertemu lagi dengannya setelah 9 tahun lamanya. Aku sangat gembira, aku begitu merindukannya. Apalagi dengan masalahku saat ini. Akupun meraihnya dalam pelukanku. Ada perasaan aneh yang menjalar dihatiku, mungkin karena dulu aku dan dia sama-sama masih kecil dan sekarang kami sudah beranjak dewasa.Tubuhnya yang sekarang sedikit gemuk dan tinggi, beda sekali dengan Iden yang dulu, Iden yang kurus, yang kata mamanya susah makan, yang selalu memelukku ketika aku menang lomba lari maraton.Tak lama aku memeluknya, karena aku sadar kalau ini tempat umum dan kami pasti sedang diperhatikan. Ya minimal sama orang yang ada di seberang tempat duduk kami. Aku tak kuasa berdiam diri, aku melampiaskannya dengan bercerita panjang lebar. Mulai dari pertemuan kami yang terakhir, saat aku pertama kali dandan ala cewek sejati lalu berpacaran dengan Rama dan hingga saat kini saat aku terluka.Idenpun tak kalah seru. Ia bercerita bahwa ia sempat menjadi atlet basket tingkat kabupaten di tempat tinggalnya. Sekarang dia bekerja “part time” pada sebuah majalah ibukota sebagai editor lepas. Ia juga masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta. Dari cerita-ceritanya, aku tahu dia belum pernah pacaran. Itu karena ia punya cinta pertama dan waktu kutanya soal siapa cewek itu dia malah tersenyum. Akupun tak mau memaksa mungkin dia merasa itu adalah hak pribadinya, akupun mengerti.Aku terbangun dari tidurku, entah berapa lama aku tertidur. Aku lirik jam tanganku. Jam 5 tepat. Semalam aku dan Iden ngobrol hingga hingga jam 12 malam. Kubuka tirai yang berada tepat disampingku. Masih gelap tapi terlihat samar-samar lautan yang membentang. Berarti sebentar lagi aku akan keluar dari pulau sumatera ini, meninggalkan kenangan-ku. Kulihat iden yang sedang tidur disampingku. Ia terlihat begitu lelap.Aku hanya memandangi wajahnya. Sama sekali tidak berubah, bahkan kulitnya yang putih masih sama. Beda dengan kulitku yang sawo matang. Iden adalah cowok keturunan Melayu-Portugis. Wajar saja ia memiliki tubuh yang proporsional dan wajah yang tampan. Tapi kenapa aku tak sadar akan ketampanan Iden kecil. Lama kupandangi dirinya, menerawang lebih jauh.Iden sedikit bergerak, lalu ia membuka matanya dan melihat ke arah jendela yang telah terbuka tirainya. Aku melemparkan senyum manisku.“hei, sudah pagi ya? Berarti hampir sampai pelabuhan dong?” tanya Iden padaku. Aku hanya menjawab dengan anggukkan.Di dalam kapal, kami memutuskan untuk ke atas dek kapal, agar bisa memandang hamparan lautan yang luas. Kami berdiri di pagar pembatas kapal, bersandar pada besi-besi itu. Sesekali angin mempermainkan rambutku, menerpa wajahku.“den, ingat ga waktu kita mandi di sungai dekat rumah dulu?” tanyaku mengingatkannya. “waktu itu gue coba loncat dari jembatan ke sungai, padahal gue ga bisa berenang ha…ha…gue gila banget ya den?”Aku tertawa mengingat kenangan itu. Idenpun ikut tertawa.“ya..gue inget dan waktu itu panik banget lihat elo kelelep, langsung aja gue ambil perahu karet orang yang sedang mecahin batu di sungai itu, buat nolong elo”.Kami tertawa, terus tertawa dan tertawa lagi.Karena banyak banget hal-hal lucu dan ceria yang aku alami bersama Iden. Mulai dari sekolah sampai kami berada dirumah, ada saja yang kami kerjakan. Aku masih merasakan geli dengan kejadian-kejadian itu karena terlalu banyak cerita dan tertawa, rasanya tenggorokanku kering.“haus nih” ujarku seraya memegangi tenggorokan.Iden yang mengerti maksudku seraya memanggil penjual minuman.“Bang, air minum nya 2 ya!” serunya pada penjual itu. Aku segera meraih botol minuman yang Iden sodorkan padaku, akupun meneguknya.“ah…lega”Iden mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang lima ribuan dan membayarkannya pada si penjual. Namun saat ia akan memasukkan lagi dompetnya di saku celana, aku segera menarik dompet itu. Aku merasa melihat sesuatu yang aku kenal.Iden kaget dengan aksiku merampas dompetnya, namun dia hanya diam saja. Pelan-pelan kubuka dompet Iden. Benar saja, aku melihat dua sosok mungil yang amat sangat aku kenal. Seorang anak laki-laki dengan kemeja kotak-kotak biru dan disebelahnya seorang anak perempuan berkepang dan mengenakan baju ala seorang putri, aku tahu anak laki-laki itu adalah Iden, dan disebelahnya itu aku.Itu pertama kalinya aku mengenakan baju cinderella itu, pada waktu ulang tahunku yang ke-7. mengapa Iden masih menyimpan foto ini? Batinku bertanya-tanya. Apalagi tersimpan rapi didalam dompetnya yang seharusnya tersimpan foto seseorang yang begitu istimewa bagi Iden. Entahlah, aku tak tahu. Aku menoleh pada Iden yang sejak tadi hanya memandangiku.“elo pasti heran, kenapa gue masih simpan foto itu? Didalam dompet lagi”Iden bicara seolah dia tahu apa yang ada dibenakku.“Hari itu, hari pertama kalinya aku lihat kamu begitu cantik”.Iden bicara aku, kamu. Ada apa sih ini? Tanyaku tak mengerti. Dan aku semakin bingung saat Iden meraih tanganku dalam genggamannya. Tatapannya begitu lembut, menusuk relung hatiku.“cewek yang ada di foto itulah cinta pertamaku”“apa…?” seruku kaget. Aku telusuri tatapannya, ada kesungguhan disana. Lalu akupun tersenyum. Mungkin inilah yang namanya jodoh. Meskipun telah lama tak bertemu dan kini Tuhan menjawab semua perjalanan cintaku selama ini. Aku hanya mampu rasakan kehangatan dan pelukan mesra Iden. Saat ini aku bahagia bersama cintaku.
Bis antar kota ini bergerak meninggalkan terminal. Aku menghela nafas dalam-dalam. Akhirnya aku akan keluar juga dari kota ini. Kota yang begitu banyak menghadirkan kenangan-kenanganku dengan orang-orang yang kusayangi. Mama, Papa, Kak Dira, Kak Randu, juga sahabat-sahabatku, Lena, Dea,Yudha, Robi dan Rama. Aku menarik nafas lebih dalam, satu nama terakhir itulah yang membuat aku memutuskan untuk pergi meninggalkan kota kelahiranku ini. Cowok tampan, bertubuh atletis itu hampir 3 tahun menjadi kekasihku. Namun satu hari dimana genap 3 tahun hari jadi kami, aku menerima surat undangan pernikahannya. Entah aku yang bodoh atau memang dia yang brengsek. Aku sama sekali tak tahu kalau ternyata dia sudah punya pacar sewaktu aku jadian dengan dia.Devi, pacarnya itu berada di Australia untuk menyelesaikan study nya, dan sekarang sudah kembali. Mereka memutuskan untuk menikah, aku benar-benar marah, aku merasa dibohongi. Padahal aku sudah berharap terlalu jauh pada Rama. Dia begitu lembut dan sayang padaku. Tapi ternyata dia menyimpan kebusukan didalam kebaikannya.Aku benci padanya. Cintanya padaku ternyata palsu, dan itu membuat aku patah hati. Aku putus asa, dan sempat mengurung diri dikamarku selama 1 minggu. Entah berapa tetes airmata yang tumpah dari mataku, aku sangat frustasi, tapi aku sadar hidupku akan terus berjalan dengan tekad yang bulat aku memutuskan untuk pergi dari segala hal yang berkaitan dengan Rama. Mencoba untuk meniti kembali hidupku diluar kota ini. Entah kapan aku akan kembali, yang jelas setelah aku dapat melupakan dia seutuhnya dan menata lebih baik hidupku.Hari ini adalah hari pernikahannya, tapi aku tak mau menghadirinya. Aku tak mau melihat kebahagiaannya diatas penderitaanku. Itu akan sangat menyakitkan hatiku. Kota tujuanku adalah kota besar yaitu jakarta. Memang sebenarnya sudah sejak dulu aku ingin sekali menimba ilmu dan meraih masa depanku dikota metropolitan itu. Tapi karena disana, dikota kecilku, aku meninggalkan hatiku hingga aku mengurungkan niat tersebut.Bis yang aku tumpangi sudah jauh meninggalkan kotaku. Saat ini sedang melewati perkampungan di propinsi sumatera selatan. Terkadang berhenti sejenak untuk mengangkut penumpang lain dari setiap kabupaten. Saat melewati kabupaten yang ke-5, masuk seorang penumpang berbaju biru, mengenakan topi putih dan sebuah ransel dipunggungnya. Gayanya yang sporty memancingku untuk melihatnya. Tapi saat ia melepaska kacamata hitam dan topinya, aku semakin menajamkan pandanganku. Dengan posisi duduk yang agak dibelakang memang sulit untuk menelusuri pandangan yang ada didepan.Aku sedikit terkejut, setelah menatap lebih jauh wajah itu. Aku seperti mengenalnya, tapi siapa? Perlahan ia semakin dekat, berjalan kearahku dan kini ia berhenti tepat dihadapanku. Aku masih menerawang, mencoba mengingat. Kapan dan dimana aku mendapati sosok ini.“Hai” sapanya seraya menunjuk bangku disebelahku yang memang masih kosong. Dengan cepat, aku lalu menggeser tubuhku memberi peluang bagi dia untuk duduk. Sikapnya yang begitu tenang membuat aku semakin penasaran.Aku putar otakku menjelajah dan akhirnya aku terlonjak. Aku menemukan bayangan wajah dan sosok yang mirip dengannya. Sosok anak laki-laki yang sedang berlari mengejarku saat berada di lapangan bola tergambar jelas diingatanku. Kini aku tahu siapa dia. Aku memberanikan diri untuk memastikannya. Kulirik cowok disebelahku sekali lagi. Ga salah lagi. Batinku.“elo Iden kan?” tanyaku akhirnya.Cowok itu menoleh dan memandangku datar. Sesaat dia diam tanpa bicara, tapi aku tahu ia sedang berfikir keras. Mungkin sedang mengira-ngira.“Benar Iden kan?” ucapku sekali lagi. “gue Eri tetangga elo dulu”.Kini ia sedikit kaget, mungkin memang benar-benar kaget.“Benar elo Eri?” serunya tak mau kalah.“ya ampun Ri. Elo berubah banget”.Iden meneliti wajahku dan penampilanku. Aku tidak heran kalu dia kaget dengan perubahanku. Selama ini ia cuma mengenal satu kata untukku. Parah, ya itulah kecilku.Aku adalah cewek tomboy yang hampir tak pernah menyentuh rok selain seragam sekolah. Pernah aku mencoba untuk tampil semauku mengenakan celana layaknya seorang cowok. Hasilnya, aku disuruh pulang dan baru boleh kembali ke sekolah kalau aku sudah mengenakan rok. Kelakuanku itu mungkin dikarenakan aku anak perempuan satu-satunya di keluargaku. Teman-temanku pun rata-rata cowok semua, dan salah satunya Iden.sebagai tetangga dan juga teman satu kelas membuat kami semakin akrab. Kami begitu dekat, hampir setiap hari kami bersama. Dari belajar, hingga bermain. Tak jarang aku ketiduran dirumahnya saat siang bermain atau belajar, sebaliknya diapun begitu.Rumahku adalah rumahnya, rumahnya adalah rumahku. Tapi kebersamaan kami hanya bertahan hingga kelas 5 SD. Ayahnya ditugaskan keluar kota, dan mau tak mau mereka haru pindah. Saat mereka pindah aku berada dirumah eyang maka tak bisa mengantar kepergian Iden sekeluarga. Sejak itu kami putus hubungan, karena aku juga teman-teman yang lain tidak tahu alamatnya. Diapun tak pernah memberi kabar, melalui surat ataupun telepon.Dan hari ini, aku baru bertemu lagi dengannya setelah 9 tahun lamanya. Aku sangat gembira, aku begitu merindukannya. Apalagi dengan masalahku saat ini. Akupun meraihnya dalam pelukanku. Ada perasaan aneh yang menjalar dihatiku, mungkin karena dulu aku dan dia sama-sama masih kecil dan sekarang kami sudah beranjak dewasa.Tubuhnya yang sekarang sedikit gemuk dan tinggi, beda sekali dengan Iden yang dulu, Iden yang kurus, yang kata mamanya susah makan, yang selalu memelukku ketika aku menang lomba lari maraton.Tak lama aku memeluknya, karena aku sadar kalau ini tempat umum dan kami pasti sedang diperhatikan. Ya minimal sama orang yang ada di seberang tempat duduk kami. Aku tak kuasa berdiam diri, aku melampiaskannya dengan bercerita panjang lebar. Mulai dari pertemuan kami yang terakhir, saat aku pertama kali dandan ala cewek sejati lalu berpacaran dengan Rama dan hingga saat kini saat aku terluka.Idenpun tak kalah seru. Ia bercerita bahwa ia sempat menjadi atlet basket tingkat kabupaten di tempat tinggalnya. Sekarang dia bekerja “part time” pada sebuah majalah ibukota sebagai editor lepas. Ia juga masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta. Dari cerita-ceritanya, aku tahu dia belum pernah pacaran. Itu karena ia punya cinta pertama dan waktu kutanya soal siapa cewek itu dia malah tersenyum. Akupun tak mau memaksa mungkin dia merasa itu adalah hak pribadinya, akupun mengerti.Aku terbangun dari tidurku, entah berapa lama aku tertidur. Aku lirik jam tanganku. Jam 5 tepat. Semalam aku dan Iden ngobrol hingga hingga jam 12 malam. Kubuka tirai yang berada tepat disampingku. Masih gelap tapi terlihat samar-samar lautan yang membentang. Berarti sebentar lagi aku akan keluar dari pulau sumatera ini, meninggalkan kenangan-ku. Kulihat iden yang sedang tidur disampingku. Ia terlihat begitu lelap.Aku hanya memandangi wajahnya. Sama sekali tidak berubah, bahkan kulitnya yang putih masih sama. Beda dengan kulitku yang sawo matang. Iden adalah cowok keturunan Melayu-Portugis. Wajar saja ia memiliki tubuh yang proporsional dan wajah yang tampan. Tapi kenapa aku tak sadar akan ketampanan Iden kecil. Lama kupandangi dirinya, menerawang lebih jauh.Iden sedikit bergerak, lalu ia membuka matanya dan melihat ke arah jendela yang telah terbuka tirainya. Aku melemparkan senyum manisku.“hei, sudah pagi ya? Berarti hampir sampai pelabuhan dong?” tanya Iden padaku. Aku hanya menjawab dengan anggukkan.Di dalam kapal, kami memutuskan untuk ke atas dek kapal, agar bisa memandang hamparan lautan yang luas. Kami berdiri di pagar pembatas kapal, bersandar pada besi-besi itu. Sesekali angin mempermainkan rambutku, menerpa wajahku.“den, ingat ga waktu kita mandi di sungai dekat rumah dulu?” tanyaku mengingatkannya. “waktu itu gue coba loncat dari jembatan ke sungai, padahal gue ga bisa berenang ha…ha…gue gila banget ya den?”Aku tertawa mengingat kenangan itu. Idenpun ikut tertawa.“ya..gue inget dan waktu itu panik banget lihat elo kelelep, langsung aja gue ambil perahu karet orang yang sedang mecahin batu di sungai itu, buat nolong elo”.Kami tertawa, terus tertawa dan tertawa lagi.Karena banyak banget hal-hal lucu dan ceria yang aku alami bersama Iden. Mulai dari sekolah sampai kami berada dirumah, ada saja yang kami kerjakan. Aku masih merasakan geli dengan kejadian-kejadian itu karena terlalu banyak cerita dan tertawa, rasanya tenggorokanku kering.“haus nih” ujarku seraya memegangi tenggorokan.Iden yang mengerti maksudku seraya memanggil penjual minuman.“Bang, air minum nya 2 ya!” serunya pada penjual itu. Aku segera meraih botol minuman yang Iden sodorkan padaku, akupun meneguknya.“ah…lega”Iden mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang lima ribuan dan membayarkannya pada si penjual. Namun saat ia akan memasukkan lagi dompetnya di saku celana, aku segera menarik dompet itu. Aku merasa melihat sesuatu yang aku kenal.Iden kaget dengan aksiku merampas dompetnya, namun dia hanya diam saja. Pelan-pelan kubuka dompet Iden. Benar saja, aku melihat dua sosok mungil yang amat sangat aku kenal. Seorang anak laki-laki dengan kemeja kotak-kotak biru dan disebelahnya seorang anak perempuan berkepang dan mengenakan baju ala seorang putri, aku tahu anak laki-laki itu adalah Iden, dan disebelahnya itu aku.Itu pertama kalinya aku mengenakan baju cinderella itu, pada waktu ulang tahunku yang ke-7. mengapa Iden masih menyimpan foto ini? Batinku bertanya-tanya. Apalagi tersimpan rapi didalam dompetnya yang seharusnya tersimpan foto seseorang yang begitu istimewa bagi Iden. Entahlah, aku tak tahu. Aku menoleh pada Iden yang sejak tadi hanya memandangiku.“elo pasti heran, kenapa gue masih simpan foto itu? Didalam dompet lagi”Iden bicara seolah dia tahu apa yang ada dibenakku.“Hari itu, hari pertama kalinya aku lihat kamu begitu cantik”.Iden bicara aku, kamu. Ada apa sih ini? Tanyaku tak mengerti. Dan aku semakin bingung saat Iden meraih tanganku dalam genggamannya. Tatapannya begitu lembut, menusuk relung hatiku.“cewek yang ada di foto itulah cinta pertamaku”“apa…?” seruku kaget. Aku telusuri tatapannya, ada kesungguhan disana. Lalu akupun tersenyum. Mungkin inilah yang namanya jodoh. Meskipun telah lama tak bertemu dan kini Tuhan menjawab semua perjalanan cintaku selama ini. Aku hanya mampu rasakan kehangatan dan pelukan mesra Iden. Saat ini aku bahagia bersama cintaku.
Laki-Laki Jatuh Cinta
Posting cerpen by: belfin paian siahaan
Puber. Itu kata guru biologiku. Tapi, temanku, Jasmin, lebih senang menyebutnya mamalia, alias mengunyah untuk kedua kalinya. Jasmin memang paling ekstrim dan aneh. Segala sesuatu dalam pikirannya selalu unik, tak terduga.
"Kau baru dikunyah lagi!" katanya sambil mengunyah permen karet.
"Apanya yang dikunyah lagi?" tanyaku heran karena tidak mengerti maksudnya."Apa hubungannya orang sedang bingung dengan dirinya sendiri dengan mengunyah?"
"Ah, bodoh kau ini. Masak gitu aja tak mengerti?! Payah!" Dia lalu mengunyah permen karet yang kedua. "Begini," lanjutnya. "Semua yang ada di dunia ini saling berkaitan. Jadi, apapun bisa dihubung-hubungkan. Masih bingung kau?" dia melototi mataku yang masih heran. Aku menahan tawa dalam hati karena tingkahnya lucu sekali. Aku mengangkat bahu tanda tak mengerti.
"Bego kau ini, masak gitu aja ga mengerti?" Ia menghela nafas dan mengunyah permen karet itu lagi.
"Ibaratnya nih, kau sedang lahir kedua kalinya. Artinya, kelahiranmu yang pertama hanya sekedar membuka mata saja, ga mikir. Cuma nongol doang, lalu mutar-mutar sampai 14 tahun dan tidak tahu apa-apa. Makanya, matamu bersih kayak bayi, terlalu sering ditutupi sampe ga sempat cuci mata hahahha.." ia tertawa. Aku ikut tertawa.
"Huss…jangan ketawa. Ngerti ga maksudku?" katanya sambil menjuntul kepalaku. Aku hanya menggeleng. Sebenarnya, aku mengerti maksudnya, cuma tingkahnya membuatku melupakan logikaku dulu.
Karena tidak puas dengan jawabanku, Jasmin segera pamit dan pergi meski omelannya turut menghiasi wajahnya.
Beberapa hari yang lalu, aku tidak bisa tidur nyenyak. Di tengah malam, mataku susah untuk dipejamkan. Jangankan bermimpi, masuk ke alam tidur aja, susahnya minta ampun. Akibatnya, lingkaran hitam mengelilingi kelopak mataku. Hiasan hitam itu diperparah lagi dengan mataku yang selalu ngantuk saat jam pelajaran.
"Kekuatan mata itu hampir sama kinerjanya dengan listrik. Kalau dayanya sudah berkurang, maka bisa dipastikan cahayanya akan berkurang. Begitu juga dengan matamu!" teriak Pak Gilang menasehatiku setelah menangkap basah aku yang tertidur pulas saat jam pelajaran Fisika.
Aku dihukum berkali-kali oleh beberapa guru. Mulai dai cuci muka, menulis esei, sampai mengepel lantai ruangan. Tapi itu tidak seberapa. Yang membuatku tersiksa justru sesuatu yang mengganggu ini. Perempuan. Ya, perempuan. Aku menemukannya dalam mimpiku tadi siang, saat Pak Ihcsan memergokiku tidur saat pelajaran Sosial. Perempuan itu telah menampakkan wajahnya. Karena itu, aku bisa tertidur pulas. Aku senang sekaligus juga tersiksa.
"Barangkali, kau sedang jatuh cinta, Simon," begitu terang teman-temanku saat tahu aku tidak pernah konsentrasi.
"Biasanya, cinta itu membuat semuanya jadi kacau, apalagi kalau cintanya bertepuk sebelah tangan," tambah mereka lagi.
Aku semakin pusing. Apa betul ini yang namanya jatuh cinta? Ah, aku harus bertanya pada seseorang tentang ini. Akhirnya, kuputusakan untuk bertanya pada guru BP alias guru konseling.
"Apa???!!!" teriak Bu Lastri sambil berdiri. Matanya melototi aku dengan beringas.
Aku terperanjat melihat reaksinya. Padahal, aku cuma mengatakan satu kalimat.
"Kau tanya tentang cinta?" teriaknya lagi. Matanya coklat. Indah sekali. Namun tubuhnya, gemuk seperti tong sampah di sebelah rumahku. Tampangnya menakutkan. Namun, aku tertawa dalam hati melihat keterkejutannya.
"Sini kamu!" Ia menyuruhku mendekat. Aku setengah takut.
"ceritakan, apa maksudmu tentang cinta?" ia bertanya penasaran. Jarak antara aku dan Bu Lastri tidak lagi berjauhan. Kini tinggal satu meter. Ia mendongakkan kepala menunggu jawabanku. Alis matanya dimainkan, genit sekali.
"Saya cuma mau tanya, Bu. Bagaimana rasanya kalau jatuh cinta?"
"Lha, kamu sedang jatuh cinta ya, hayoo…" Bu Lastri jadi cengengar-cengingir.
Dia yang tadi setengah kaget, sekarang tersipu-sipu.
"Bu, kalau saya tahu, bagaimana mungkin saya ke sini?" jawabku kesal.
"Lalu siapa dong yang jatuh cinta?"
Aku jadi bingung. Jawabannya belum kutemukan. Mungkin saja aku.
"Anu Bu. Saya Cuma dibilangi teman-teman. Katanya, kalau orang sedang jatuh cinta, apa betul susah tidur?" tanyaku dengan polos.
Bu Lastri berpikir sejenak. Sejurus kedua bola matanya beralih ke kanan atas. Aku mengikutinya. Gayanya semakin keren tatkala ujung jari telunjuknya bergerak-gerak di bibirnya. Ia seperti komputer pentium 2, loading, alias sedang mikir. Aku menunggu sekitar sepuluh menit. Rasanya hampir setahun, setelah itu ia menjawab.
"hmmmm…dulu Ibu juga begitu," jawabnya. Aku terperangah. Setahuku, Bu Lastri belum kawin, apalagi punya pacar. Ya, bukan bermaksud mengejek sih. Badannya memang tidak menarik. Malah, ia dijuluki satpam sekolah. Tampangnya sangar seperti Tike Panggabean, badannya tinggi, gempal, dan….gemuk tak karuan. Kalau sedang berjalan, ia seperti kerbau dicucuk hidungnya. Lantai sekolah seringkali bergetar. Kalau sudah begitu, murid-murid pasti tahu keberadaannya.
"Hah?" aku bereaksi spontan. Reaksiku malah membuat Bu Lastri tersipu-sipu.
"Iya. Ibu dulu begitu. Kamu jadi mengingatkan saya tentang cinta pertama Bu Lastri saat kuliah dulu, Romantis sekali". Bu Lastri menjadi sumringah. Ia menebar senyum di bibirnya. Ia melangkah ke ujung ruangan, lalu membuka sebuah buku. Aku mengamati tingkahnya. Lalu, ia membolak-bolak buku itu dan berhenti pada satu halaman. Ia seperti terkubur di sana. Hanya senyumnya yang tak kunjung berhenti mengulum. Ia sedang kasmaran. Lalu, ia membawa buku itu padaku.
"Kau betul-betul mengingatkan Ibu tentang masa lalu". Ia menarik nafas dan membuangnya sembarangan. Uh..nafasnya bau sekali. Aku tidak tahan dan segera mundur. Namun, ceritaku menjadi pemantik keceriaannya. Ia tidak tahu kalau aku sedang menahan uap nafasnya yang bau.
"Ibu hanya bisa mengatakan bahwa cinta memang bisa membuat sesuatu menjadi aneh," terangnya lagi. Ia kemudian duduk lagi sambil memegang buku itu.
"Buku ini adalah kenangan masa laluku. Kau mengingatkannya kembali. Sudah begitu lama!" desahnya.
Aku tak habis pikir. Apa ia juga sedang jatuh cinta? Atau sedang jatuh cinta pada masa lalunya? Entahlah. Yang aku tahu, Bu Lastri menjadi asing bagiku. Ia sudah seperti momok bagiku. Namun, kali ini, ia menunjukkan sisi lain kepribadiannya. Kesimpulanku hari ini: cinta memang bisa membuat orang menjadi lain dan terkadang aneh.
"Bu," sahutku. Bu Lastri sibuk dengan lamunannya. Ia kemudian memandangiku setelah sadar dengan raut wajahkku yang kebingungan. Ia memperbaiki posisi duduknya dan mengajakku berbicara.
"Simon, cinta itu memang bisa mengakibatkan penyakit. Namanya penyakit cinta. Siapapun yang terkena virusnya, ia akan berubah menjadi lain. Salah satunya adalah pikiran yang tak pernah damai dan tenang. Perkataanmu tadi betul adanya. Bisa jadi kita tidak bisa tidur karena terlalu memikirkannya". Ia kemudian bercerita tentang cinta pertamanya. Kisahnya sangat romantis. Namun, akhir ceritanya tidak menyenangkan. Karena kehilangan kekasih, Bu Lastri memutuskan untuk tidak menikah. Ia tetap setia pada kekasihnya yang telah meninggal dunia. Ia memutuskan untuk menjadi lajang.
Setelah diakhiri dengan tangisan yang memilukan, ia memintaku untuk segera keluar dari ruangannya. Ia berpesan agar tidak membocorkan rahasianya. Aku menjadi heran.
***
Dia selalu saja hadir di sana, mimpiku. Aku memang mengenalnya. Namun tak memiliki keberanian untuk sekalipun berbicara dengannya. Perempuan yang juga menjadi siswa di kelas sebelah. Kelas 8. Aku sekarang duduk di kelas 9. Pertemuanku dengannya hanya kebetulan saja. Pertemuan antar ketua kelas menjadi kenangan pertama kami. Ia duduk di sebelahku saat ketua OSIS memimpin pertemuan.
Tak lama setelah itu, ia berpendapat tentang kegiatan sekolah yang akan diadakan bulan depan. Ia mengusulkan agar sekolah mengadakan pentas seni tentang budaya Indonesia. Idenya sangat brillian. Ia ingin mengadakan parade pakaian tradisional Indonesia dengan design modern. Semua siswa diminta untuk merancang sendiri pakaian daerah di Indonesia kemudian mewujudkannya dalam pagelaran pentas seni.
Aku senang melihat keberaniannya saat pertemuan itu. Ia sungguh luar biasa. Diam-diam aku mengaguminya. Ia sangat elegan dan cantik. Sejak saat itu, aku sangat merindukannya. Entah kenapa. Namun, aku hanyalah lelaki yang belum mengenal cinta. Semuanya terasa asing bagiku.
"Gila Kamu, Mon. Gitu aja dibikin pusing!" hardik Reno teman baikku. Dia terkenal playboy di sekolah. Menurut kabar, dia sudah berpacaran sebanyak 5 kali sejak SD. Tampangnya memang oke, apalagi otaknya, encer kayak air sungai. Ditanya apapun, dia langsung menyahut. Jawabannya sangat menyakinkan. Ga salah kalau cewek-cewek langsung naksir sama dia.
"Tenang aja. Dulu aku juga begitu. Tapi, sebagai laki-laki, jangan pernah menyerah. Urusan cinta mah kecil. Gampang! Tinggal bilang, yakinkan dan kejar terus. Yang penting, kita tetap berusaha. Kalau perlu, ga usah malu sekalian. Tembak terus, pasti dia bakalan menyerah. Kalau sampai ga, umumin kalau dia ga laku biar semua orang pada ga suka sama dia. Mau?"
"Gila kamu, No. Aku tidak mau pakai cara yang begitu. Itu namanya pemaksaan. Cinta tidak boleh dipaksa!" kataku tidak setuju.
"Itu bukan pemaksaan tapi pengorbanan. Kalau diam saja, ya percuma. Kamu yang sakit sendiri. Cinta itu butuh perjuangan. Jangan menyerah. Kalau tidak jadi pun ya pake prinsipku. Patah tumbuh hilang berganti. Satu mati tumbuh seribu!" jawabnya dengan pede.
"Ngawur kamu. Memangnya kita mau nanam pohon atau cinta. Salah kamu, No. Cinta memang butuh pengorbanan, tapi harus tetap menghargai wanita. Mereka juga kan manusia. Masak disamakan dengan pohon? Gila kamu!"
"Lho, yang nyamain dengan pohon siapa? Itu kan prinsip cintaku. Kalau kamu ga setuju juga gapapa. Tapi ingat, cinta bertepuk sebelah tangan itu..ibarat hidup setengah badan alias lumpuh, kaku, dan mati rasa. Hidup rasanya berjalan setengah. Kamu sekarang kayak gitu. Aneh dan pengecut. Masak nyelesaian itu ga berani? Mikir dong, Mon. Jantan dikit!" Ia mendesakku. Aku sedikit tersinggung.
"Ya juga sih. Kata teman-teman aku sedang jatuh cinta. Tapi..aku juga bingung. Apa ini yang namanya cinta?"
"Kalau bukan cinta, ya apalagi? Masak gejala sinting? Atau jangan-jangan kamu memang mau jadi sinting hahahhahah….!" ia tertawa terbahak-bahak. Aku menerima saja.
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu," katanya lagi. "Aku Cuma kasihan melihat kamu. Maklumlah, kamu kan belum berpengalaman. Tapi..aku mau membantumu keluar dari perkara ini. Sebenarnya gampang, asal kamu mau menurut. Perkara diterima atau tidak, kita harus bijaksana. Cinta tak boleh dipaksa, kan?" ia melirikku.
"Bagiku, cinta itu adalah pilihan. Kalau kita berhenti atau mundur, sama saja dengan hancur. Jangan mau lebur sebelum bertempur. Ingat itu. Mari buktikan. Cinta hanyalah perjalanan yang membawa kita mengenal perempuan. Manusia yang paling misterius." Ia tampak sangat bersemangat.
"Lalu, apa yang akan aku lakukan?"
"Tenang saja, kawan. Semua ada rumusnya. Cinta itu masalah matematika. Mainkan rumusnya, dapatkan hasilnya. Kalau salah rumus, cari rumus yang lain. Kalau tidak ketemu, pake rumus pytagoras. Semuanya akan menemukan sudut cintanya masing-masing. Tinggal koneksi aja. Kalau sudah pas, bilang saja."
"Aku tidak mengerti," kataku.
"Bodoh benar kau ini. Begitu saja tidak mengerti. Mau bahasa yang lebih sederhana? Gini maksudku.
"Cinta itu sama dengan x. Kamu variabel pertama dan dia variabel kedua. Nah, kalau mau menemukan x, maka samakan variabelnya. Itu baru namanya klop. Ngerti?"
Aku menggeleng. Ia menggerutu. Ia diam sebentar sambil berpikir.
"Nah, gini. Kalau sampe kamu tidak mengerti, maka kamu memang mahluk Tuhan yang paling botol alias bodoh dan tolol. Imut alias idiot tak bermutu. Ngerti kamu?" ia menggertak. Dia lalu membuka buku catatan dan menuliskan guratan hitam di sana. Di sana, terpampang gambar wanita dan laki-laki. Jaraknya berjauhan.
"Gelombang elektromagnetik, itu mampu membangkitkan getaran cinta. Nah, kamu kan sedang jatuh cinta nih, energimu cukup besar, namun tidak beraturan. Kamu harus fokus dan tenang. Jangan panik kalau bertemu dengan dia. Meski jantungmu deg-degan, tunjukkan kalau kamu berwibawa. Kalau sudah begitu, secara otomatis, energi cintamu akan berpindah ke dia. Ia akan merasakannya. Ingat, perempuan itu sangat peka dengan tatapan, perhatian, dan charming alias auramu. Jangan biarkan dia ilfil ketika melihat kamu. Sampai di sini mengerti?"
Aku mengangguk.
"Gitu dong. Dari tadi kek. Kita lanjutkan," katanya sambil mempresentasikan tips-tips cintanya.
"Kamu harus menyamakan frekuensimu dengan dia. Buat dia mengenal kamu secara tidak langsung. Setelah itu, pedekate alias pendekatan. Jangan langsung main hakim sendiri. Rasakan kehadirannya dan bawa dia mengikuti permainanmu. Bicaralah dengannya secara perlahan-lahan. Jangan menunjukkan sikap yang berlebihan. Biasa saja. Memang rasanya sulit, tapi sebagai laki-laki, kita harus menunjukkan wibawa kita. Mengerti?"
Lagi-lagi aku mengangguk.
"Nah. Cara praktisnya adalah begini. Rumusnya: X + Y = Cinta. X harus melakukan permutasi dengan menjadi O + W = TP. O adalah observasi dan W adalah wibawa. Hasilnya TP atau tebar pesona. Kemudian, TP + Skill : Pengorbanan = perkenalan. Nah, di sini, Perkenalan harus dikuadratkan menjadi keberanian. K atau keberanian harus berbanding lurus dengan waktu dan emosi. Kalau sudah terpenuhi, tinggal cari waktu dan nyatakan cintamu. Buat dia tergila-gila padamu. Tunjukkan potensimu. "
Reno lalu memberi ide untukku. Aku mempercayainya. Aku memberanikan diri untuk membuktikan hipotesisnya. Dan hari itu, aku mengawali petualangan baru, menjadi orang baru yang sekaligus juga aneh.
***
"Bagaimana hasilnya?" tanya Reno dan kawan-kawan menghampiriku. Aku berjalan lesu.
"Dia menolakmu?" desak mereka lagi.
Aku menggeleng. Mereka berkerumun dan sibuk bertanya pada diri mereka sendiri.
"Sudahlah. Hidup harus berjalan," rajuk Reno. Ia duduk di sampingku. Suasana menjadi sepi. Teman-temanku yang lain menggerutu dengan diri mereka sendiri. Banyak di antara mereka tidak percaya. Setelah hampir 3 bulan, aku sudah menjalankan ide Reno. Awalnya berjalan manjur, dan….
"No, kamu menipuku," bibirku terasa bergetar. Reno tersentak.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Kau memang betul dengan semua teorimu, tapi…tidak pantas untukku," kataku menahan sakit di hati. "Aku bukanlah orang yang tepat dengannya."
"Kenapa? Ada apa denganmu?" Reno mendesakku lagi. "Bukankah semua kulakukan untuk membantumu? Apa yang salah?"
Aku menarik nafas, mencoba mengingat kembali pertemuan kemarin.
Hujan masih belum reda saat aku mengunjungi rumahnya. Teori pertama yang dianjurkan Reno ternyata manjur. Perkenalan dengan keluarganya telah berhasil kuatasi. Variabel sampingannya telah sukses teratasi. Teori kedua tentang aura, juga sudah kulakukan. Tak butuh beberapa lama untuk meyakinkan dia mengenalku dan mau berteman denganku. Teori ketiga, teori momentum. Ini adalah teori terakhir yang tidak berhasil kulakukan.
"Teorimu yang ketiga tidak pas untukku, No," aku mendesis. Ia mendengarkan. "aku tidak sepenuhnya kecewa. Paling tidak, ada yang pantas kubanggakan yang akan kuberitahukan padamu."
Ia semakin bingung.
"Maksudmu? Kau ditolak tapi tetap senang?"
"Ya".
"Aneh. Kamu memang aneh. Akhir dari perjuanganmu memang seharusnya sedih. Tapi, aku tidak melihat kesedihan itu dalam wajahmu".
"Ya. Aku akan tetap tersenyum. Kau kan yang bilang begitu. Lagipula, cinta kan tidak bisa dipaksa dan tidak harus memiliki." Dalam hati aku menangis. Aku tidak bisa memilikinya.
"Ini, ada sesuatu untukmu," kataku sambil memberi dia selembar surat yang dibungkus dalam amplop putih.
"Surat? Surat dari siapa?" Dia sempat menolak.
"Bacalah setelah aku keluar dari ruangan ini. Gunakan logika dan kepintaranmu. Aku cuma meminta satu hal untukmu. Jangan mengecewakan dia." Lalu aku meletakkan surat itu di meja dan meninggalkannya.
Aku tahu, aku bukanlah laki-laki yang sedang dipilih cinta untuk menjadi kekasihnya. Meski gayung tak bersambut, aku tidak akan kecewa. Cinta memang tak harus memiliki sebab cinta juga pemilih. Hari ini, aku akhiri petualanganku dengan dia. Kulepaskan dia untuk temanku, Reno. Sejak dulu, dia ternyata memilih Reno ketimbang aku. Selama ini, ia hanya menginginkan Reno, sosok yang dia idamkan. Aku hanyalah pembuka jalan untuk memberitahu keinginannya. Pengakuannya yang jujur mungkin membunuhku tadi malam, namun kehidupan yang dia jalani ternyata tidak adil untuk dia. Tidak adil untuk aku juga. Dia telah menahan begitu banyak penderitaan, bertahan hidup karena sosok Reno. Penyakit yang dia derita sebenarnya sudah merenggut hidupnya sejak dulu. Namun, satu tahun silam, ia merasakan getaran hidup yang tak pernah dia rasakan sejak mengenal Reno. Ah, aku adalah laki-laki yang jatuh cinta pada ketiadaan, bayangan perempuan yang terenggut oleh cintanya pada orang lain.
Puber. Itu kata guru biologiku. Tapi, temanku, Jasmin, lebih senang menyebutnya mamalia, alias mengunyah untuk kedua kalinya. Jasmin memang paling ekstrim dan aneh. Segala sesuatu dalam pikirannya selalu unik, tak terduga.
"Kau baru dikunyah lagi!" katanya sambil mengunyah permen karet.
"Apanya yang dikunyah lagi?" tanyaku heran karena tidak mengerti maksudnya."Apa hubungannya orang sedang bingung dengan dirinya sendiri dengan mengunyah?"
"Ah, bodoh kau ini. Masak gitu aja tak mengerti?! Payah!" Dia lalu mengunyah permen karet yang kedua. "Begini," lanjutnya. "Semua yang ada di dunia ini saling berkaitan. Jadi, apapun bisa dihubung-hubungkan. Masih bingung kau?" dia melototi mataku yang masih heran. Aku menahan tawa dalam hati karena tingkahnya lucu sekali. Aku mengangkat bahu tanda tak mengerti.
"Bego kau ini, masak gitu aja ga mengerti?" Ia menghela nafas dan mengunyah permen karet itu lagi.
"Ibaratnya nih, kau sedang lahir kedua kalinya. Artinya, kelahiranmu yang pertama hanya sekedar membuka mata saja, ga mikir. Cuma nongol doang, lalu mutar-mutar sampai 14 tahun dan tidak tahu apa-apa. Makanya, matamu bersih kayak bayi, terlalu sering ditutupi sampe ga sempat cuci mata hahahha.." ia tertawa. Aku ikut tertawa.
"Huss…jangan ketawa. Ngerti ga maksudku?" katanya sambil menjuntul kepalaku. Aku hanya menggeleng. Sebenarnya, aku mengerti maksudnya, cuma tingkahnya membuatku melupakan logikaku dulu.
Karena tidak puas dengan jawabanku, Jasmin segera pamit dan pergi meski omelannya turut menghiasi wajahnya.
Beberapa hari yang lalu, aku tidak bisa tidur nyenyak. Di tengah malam, mataku susah untuk dipejamkan. Jangankan bermimpi, masuk ke alam tidur aja, susahnya minta ampun. Akibatnya, lingkaran hitam mengelilingi kelopak mataku. Hiasan hitam itu diperparah lagi dengan mataku yang selalu ngantuk saat jam pelajaran.
"Kekuatan mata itu hampir sama kinerjanya dengan listrik. Kalau dayanya sudah berkurang, maka bisa dipastikan cahayanya akan berkurang. Begitu juga dengan matamu!" teriak Pak Gilang menasehatiku setelah menangkap basah aku yang tertidur pulas saat jam pelajaran Fisika.
Aku dihukum berkali-kali oleh beberapa guru. Mulai dai cuci muka, menulis esei, sampai mengepel lantai ruangan. Tapi itu tidak seberapa. Yang membuatku tersiksa justru sesuatu yang mengganggu ini. Perempuan. Ya, perempuan. Aku menemukannya dalam mimpiku tadi siang, saat Pak Ihcsan memergokiku tidur saat pelajaran Sosial. Perempuan itu telah menampakkan wajahnya. Karena itu, aku bisa tertidur pulas. Aku senang sekaligus juga tersiksa.
"Barangkali, kau sedang jatuh cinta, Simon," begitu terang teman-temanku saat tahu aku tidak pernah konsentrasi.
"Biasanya, cinta itu membuat semuanya jadi kacau, apalagi kalau cintanya bertepuk sebelah tangan," tambah mereka lagi.
Aku semakin pusing. Apa betul ini yang namanya jatuh cinta? Ah, aku harus bertanya pada seseorang tentang ini. Akhirnya, kuputusakan untuk bertanya pada guru BP alias guru konseling.
"Apa???!!!" teriak Bu Lastri sambil berdiri. Matanya melototi aku dengan beringas.
Aku terperanjat melihat reaksinya. Padahal, aku cuma mengatakan satu kalimat.
"Kau tanya tentang cinta?" teriaknya lagi. Matanya coklat. Indah sekali. Namun tubuhnya, gemuk seperti tong sampah di sebelah rumahku. Tampangnya menakutkan. Namun, aku tertawa dalam hati melihat keterkejutannya.
"Sini kamu!" Ia menyuruhku mendekat. Aku setengah takut.
"ceritakan, apa maksudmu tentang cinta?" ia bertanya penasaran. Jarak antara aku dan Bu Lastri tidak lagi berjauhan. Kini tinggal satu meter. Ia mendongakkan kepala menunggu jawabanku. Alis matanya dimainkan, genit sekali.
"Saya cuma mau tanya, Bu. Bagaimana rasanya kalau jatuh cinta?"
"Lha, kamu sedang jatuh cinta ya, hayoo…" Bu Lastri jadi cengengar-cengingir.
Dia yang tadi setengah kaget, sekarang tersipu-sipu.
"Bu, kalau saya tahu, bagaimana mungkin saya ke sini?" jawabku kesal.
"Lalu siapa dong yang jatuh cinta?"
Aku jadi bingung. Jawabannya belum kutemukan. Mungkin saja aku.
"Anu Bu. Saya Cuma dibilangi teman-teman. Katanya, kalau orang sedang jatuh cinta, apa betul susah tidur?" tanyaku dengan polos.
Bu Lastri berpikir sejenak. Sejurus kedua bola matanya beralih ke kanan atas. Aku mengikutinya. Gayanya semakin keren tatkala ujung jari telunjuknya bergerak-gerak di bibirnya. Ia seperti komputer pentium 2, loading, alias sedang mikir. Aku menunggu sekitar sepuluh menit. Rasanya hampir setahun, setelah itu ia menjawab.
"hmmmm…dulu Ibu juga begitu," jawabnya. Aku terperangah. Setahuku, Bu Lastri belum kawin, apalagi punya pacar. Ya, bukan bermaksud mengejek sih. Badannya memang tidak menarik. Malah, ia dijuluki satpam sekolah. Tampangnya sangar seperti Tike Panggabean, badannya tinggi, gempal, dan….gemuk tak karuan. Kalau sedang berjalan, ia seperti kerbau dicucuk hidungnya. Lantai sekolah seringkali bergetar. Kalau sudah begitu, murid-murid pasti tahu keberadaannya.
"Hah?" aku bereaksi spontan. Reaksiku malah membuat Bu Lastri tersipu-sipu.
"Iya. Ibu dulu begitu. Kamu jadi mengingatkan saya tentang cinta pertama Bu Lastri saat kuliah dulu, Romantis sekali". Bu Lastri menjadi sumringah. Ia menebar senyum di bibirnya. Ia melangkah ke ujung ruangan, lalu membuka sebuah buku. Aku mengamati tingkahnya. Lalu, ia membolak-bolak buku itu dan berhenti pada satu halaman. Ia seperti terkubur di sana. Hanya senyumnya yang tak kunjung berhenti mengulum. Ia sedang kasmaran. Lalu, ia membawa buku itu padaku.
"Kau betul-betul mengingatkan Ibu tentang masa lalu". Ia menarik nafas dan membuangnya sembarangan. Uh..nafasnya bau sekali. Aku tidak tahan dan segera mundur. Namun, ceritaku menjadi pemantik keceriaannya. Ia tidak tahu kalau aku sedang menahan uap nafasnya yang bau.
"Ibu hanya bisa mengatakan bahwa cinta memang bisa membuat sesuatu menjadi aneh," terangnya lagi. Ia kemudian duduk lagi sambil memegang buku itu.
"Buku ini adalah kenangan masa laluku. Kau mengingatkannya kembali. Sudah begitu lama!" desahnya.
Aku tak habis pikir. Apa ia juga sedang jatuh cinta? Atau sedang jatuh cinta pada masa lalunya? Entahlah. Yang aku tahu, Bu Lastri menjadi asing bagiku. Ia sudah seperti momok bagiku. Namun, kali ini, ia menunjukkan sisi lain kepribadiannya. Kesimpulanku hari ini: cinta memang bisa membuat orang menjadi lain dan terkadang aneh.
"Bu," sahutku. Bu Lastri sibuk dengan lamunannya. Ia kemudian memandangiku setelah sadar dengan raut wajahkku yang kebingungan. Ia memperbaiki posisi duduknya dan mengajakku berbicara.
"Simon, cinta itu memang bisa mengakibatkan penyakit. Namanya penyakit cinta. Siapapun yang terkena virusnya, ia akan berubah menjadi lain. Salah satunya adalah pikiran yang tak pernah damai dan tenang. Perkataanmu tadi betul adanya. Bisa jadi kita tidak bisa tidur karena terlalu memikirkannya". Ia kemudian bercerita tentang cinta pertamanya. Kisahnya sangat romantis. Namun, akhir ceritanya tidak menyenangkan. Karena kehilangan kekasih, Bu Lastri memutuskan untuk tidak menikah. Ia tetap setia pada kekasihnya yang telah meninggal dunia. Ia memutuskan untuk menjadi lajang.
Setelah diakhiri dengan tangisan yang memilukan, ia memintaku untuk segera keluar dari ruangannya. Ia berpesan agar tidak membocorkan rahasianya. Aku menjadi heran.
***
Dia selalu saja hadir di sana, mimpiku. Aku memang mengenalnya. Namun tak memiliki keberanian untuk sekalipun berbicara dengannya. Perempuan yang juga menjadi siswa di kelas sebelah. Kelas 8. Aku sekarang duduk di kelas 9. Pertemuanku dengannya hanya kebetulan saja. Pertemuan antar ketua kelas menjadi kenangan pertama kami. Ia duduk di sebelahku saat ketua OSIS memimpin pertemuan.
Tak lama setelah itu, ia berpendapat tentang kegiatan sekolah yang akan diadakan bulan depan. Ia mengusulkan agar sekolah mengadakan pentas seni tentang budaya Indonesia. Idenya sangat brillian. Ia ingin mengadakan parade pakaian tradisional Indonesia dengan design modern. Semua siswa diminta untuk merancang sendiri pakaian daerah di Indonesia kemudian mewujudkannya dalam pagelaran pentas seni.
Aku senang melihat keberaniannya saat pertemuan itu. Ia sungguh luar biasa. Diam-diam aku mengaguminya. Ia sangat elegan dan cantik. Sejak saat itu, aku sangat merindukannya. Entah kenapa. Namun, aku hanyalah lelaki yang belum mengenal cinta. Semuanya terasa asing bagiku.
"Gila Kamu, Mon. Gitu aja dibikin pusing!" hardik Reno teman baikku. Dia terkenal playboy di sekolah. Menurut kabar, dia sudah berpacaran sebanyak 5 kali sejak SD. Tampangnya memang oke, apalagi otaknya, encer kayak air sungai. Ditanya apapun, dia langsung menyahut. Jawabannya sangat menyakinkan. Ga salah kalau cewek-cewek langsung naksir sama dia.
"Tenang aja. Dulu aku juga begitu. Tapi, sebagai laki-laki, jangan pernah menyerah. Urusan cinta mah kecil. Gampang! Tinggal bilang, yakinkan dan kejar terus. Yang penting, kita tetap berusaha. Kalau perlu, ga usah malu sekalian. Tembak terus, pasti dia bakalan menyerah. Kalau sampai ga, umumin kalau dia ga laku biar semua orang pada ga suka sama dia. Mau?"
"Gila kamu, No. Aku tidak mau pakai cara yang begitu. Itu namanya pemaksaan. Cinta tidak boleh dipaksa!" kataku tidak setuju.
"Itu bukan pemaksaan tapi pengorbanan. Kalau diam saja, ya percuma. Kamu yang sakit sendiri. Cinta itu butuh perjuangan. Jangan menyerah. Kalau tidak jadi pun ya pake prinsipku. Patah tumbuh hilang berganti. Satu mati tumbuh seribu!" jawabnya dengan pede.
"Ngawur kamu. Memangnya kita mau nanam pohon atau cinta. Salah kamu, No. Cinta memang butuh pengorbanan, tapi harus tetap menghargai wanita. Mereka juga kan manusia. Masak disamakan dengan pohon? Gila kamu!"
"Lho, yang nyamain dengan pohon siapa? Itu kan prinsip cintaku. Kalau kamu ga setuju juga gapapa. Tapi ingat, cinta bertepuk sebelah tangan itu..ibarat hidup setengah badan alias lumpuh, kaku, dan mati rasa. Hidup rasanya berjalan setengah. Kamu sekarang kayak gitu. Aneh dan pengecut. Masak nyelesaian itu ga berani? Mikir dong, Mon. Jantan dikit!" Ia mendesakku. Aku sedikit tersinggung.
"Ya juga sih. Kata teman-teman aku sedang jatuh cinta. Tapi..aku juga bingung. Apa ini yang namanya cinta?"
"Kalau bukan cinta, ya apalagi? Masak gejala sinting? Atau jangan-jangan kamu memang mau jadi sinting hahahhahah….!" ia tertawa terbahak-bahak. Aku menerima saja.
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu," katanya lagi. "Aku Cuma kasihan melihat kamu. Maklumlah, kamu kan belum berpengalaman. Tapi..aku mau membantumu keluar dari perkara ini. Sebenarnya gampang, asal kamu mau menurut. Perkara diterima atau tidak, kita harus bijaksana. Cinta tak boleh dipaksa, kan?" ia melirikku.
"Bagiku, cinta itu adalah pilihan. Kalau kita berhenti atau mundur, sama saja dengan hancur. Jangan mau lebur sebelum bertempur. Ingat itu. Mari buktikan. Cinta hanyalah perjalanan yang membawa kita mengenal perempuan. Manusia yang paling misterius." Ia tampak sangat bersemangat.
"Lalu, apa yang akan aku lakukan?"
"Tenang saja, kawan. Semua ada rumusnya. Cinta itu masalah matematika. Mainkan rumusnya, dapatkan hasilnya. Kalau salah rumus, cari rumus yang lain. Kalau tidak ketemu, pake rumus pytagoras. Semuanya akan menemukan sudut cintanya masing-masing. Tinggal koneksi aja. Kalau sudah pas, bilang saja."
"Aku tidak mengerti," kataku.
"Bodoh benar kau ini. Begitu saja tidak mengerti. Mau bahasa yang lebih sederhana? Gini maksudku.
"Cinta itu sama dengan x. Kamu variabel pertama dan dia variabel kedua. Nah, kalau mau menemukan x, maka samakan variabelnya. Itu baru namanya klop. Ngerti?"
Aku menggeleng. Ia menggerutu. Ia diam sebentar sambil berpikir.
"Nah, gini. Kalau sampe kamu tidak mengerti, maka kamu memang mahluk Tuhan yang paling botol alias bodoh dan tolol. Imut alias idiot tak bermutu. Ngerti kamu?" ia menggertak. Dia lalu membuka buku catatan dan menuliskan guratan hitam di sana. Di sana, terpampang gambar wanita dan laki-laki. Jaraknya berjauhan.
"Gelombang elektromagnetik, itu mampu membangkitkan getaran cinta. Nah, kamu kan sedang jatuh cinta nih, energimu cukup besar, namun tidak beraturan. Kamu harus fokus dan tenang. Jangan panik kalau bertemu dengan dia. Meski jantungmu deg-degan, tunjukkan kalau kamu berwibawa. Kalau sudah begitu, secara otomatis, energi cintamu akan berpindah ke dia. Ia akan merasakannya. Ingat, perempuan itu sangat peka dengan tatapan, perhatian, dan charming alias auramu. Jangan biarkan dia ilfil ketika melihat kamu. Sampai di sini mengerti?"
Aku mengangguk.
"Gitu dong. Dari tadi kek. Kita lanjutkan," katanya sambil mempresentasikan tips-tips cintanya.
"Kamu harus menyamakan frekuensimu dengan dia. Buat dia mengenal kamu secara tidak langsung. Setelah itu, pedekate alias pendekatan. Jangan langsung main hakim sendiri. Rasakan kehadirannya dan bawa dia mengikuti permainanmu. Bicaralah dengannya secara perlahan-lahan. Jangan menunjukkan sikap yang berlebihan. Biasa saja. Memang rasanya sulit, tapi sebagai laki-laki, kita harus menunjukkan wibawa kita. Mengerti?"
Lagi-lagi aku mengangguk.
"Nah. Cara praktisnya adalah begini. Rumusnya: X + Y = Cinta. X harus melakukan permutasi dengan menjadi O + W = TP. O adalah observasi dan W adalah wibawa. Hasilnya TP atau tebar pesona. Kemudian, TP + Skill : Pengorbanan = perkenalan. Nah, di sini, Perkenalan harus dikuadratkan menjadi keberanian. K atau keberanian harus berbanding lurus dengan waktu dan emosi. Kalau sudah terpenuhi, tinggal cari waktu dan nyatakan cintamu. Buat dia tergila-gila padamu. Tunjukkan potensimu. "
Reno lalu memberi ide untukku. Aku mempercayainya. Aku memberanikan diri untuk membuktikan hipotesisnya. Dan hari itu, aku mengawali petualangan baru, menjadi orang baru yang sekaligus juga aneh.
***
"Bagaimana hasilnya?" tanya Reno dan kawan-kawan menghampiriku. Aku berjalan lesu.
"Dia menolakmu?" desak mereka lagi.
Aku menggeleng. Mereka berkerumun dan sibuk bertanya pada diri mereka sendiri.
"Sudahlah. Hidup harus berjalan," rajuk Reno. Ia duduk di sampingku. Suasana menjadi sepi. Teman-temanku yang lain menggerutu dengan diri mereka sendiri. Banyak di antara mereka tidak percaya. Setelah hampir 3 bulan, aku sudah menjalankan ide Reno. Awalnya berjalan manjur, dan….
"No, kamu menipuku," bibirku terasa bergetar. Reno tersentak.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Kau memang betul dengan semua teorimu, tapi…tidak pantas untukku," kataku menahan sakit di hati. "Aku bukanlah orang yang tepat dengannya."
"Kenapa? Ada apa denganmu?" Reno mendesakku lagi. "Bukankah semua kulakukan untuk membantumu? Apa yang salah?"
Aku menarik nafas, mencoba mengingat kembali pertemuan kemarin.
Hujan masih belum reda saat aku mengunjungi rumahnya. Teori pertama yang dianjurkan Reno ternyata manjur. Perkenalan dengan keluarganya telah berhasil kuatasi. Variabel sampingannya telah sukses teratasi. Teori kedua tentang aura, juga sudah kulakukan. Tak butuh beberapa lama untuk meyakinkan dia mengenalku dan mau berteman denganku. Teori ketiga, teori momentum. Ini adalah teori terakhir yang tidak berhasil kulakukan.
"Teorimu yang ketiga tidak pas untukku, No," aku mendesis. Ia mendengarkan. "aku tidak sepenuhnya kecewa. Paling tidak, ada yang pantas kubanggakan yang akan kuberitahukan padamu."
Ia semakin bingung.
"Maksudmu? Kau ditolak tapi tetap senang?"
"Ya".
"Aneh. Kamu memang aneh. Akhir dari perjuanganmu memang seharusnya sedih. Tapi, aku tidak melihat kesedihan itu dalam wajahmu".
"Ya. Aku akan tetap tersenyum. Kau kan yang bilang begitu. Lagipula, cinta kan tidak bisa dipaksa dan tidak harus memiliki." Dalam hati aku menangis. Aku tidak bisa memilikinya.
"Ini, ada sesuatu untukmu," kataku sambil memberi dia selembar surat yang dibungkus dalam amplop putih.
"Surat? Surat dari siapa?" Dia sempat menolak.
"Bacalah setelah aku keluar dari ruangan ini. Gunakan logika dan kepintaranmu. Aku cuma meminta satu hal untukmu. Jangan mengecewakan dia." Lalu aku meletakkan surat itu di meja dan meninggalkannya.
Aku tahu, aku bukanlah laki-laki yang sedang dipilih cinta untuk menjadi kekasihnya. Meski gayung tak bersambut, aku tidak akan kecewa. Cinta memang tak harus memiliki sebab cinta juga pemilih. Hari ini, aku akhiri petualanganku dengan dia. Kulepaskan dia untuk temanku, Reno. Sejak dulu, dia ternyata memilih Reno ketimbang aku. Selama ini, ia hanya menginginkan Reno, sosok yang dia idamkan. Aku hanyalah pembuka jalan untuk memberitahu keinginannya. Pengakuannya yang jujur mungkin membunuhku tadi malam, namun kehidupan yang dia jalani ternyata tidak adil untuk dia. Tidak adil untuk aku juga. Dia telah menahan begitu banyak penderitaan, bertahan hidup karena sosok Reno. Penyakit yang dia derita sebenarnya sudah merenggut hidupnya sejak dulu. Namun, satu tahun silam, ia merasakan getaran hidup yang tak pernah dia rasakan sejak mengenal Reno. Ah, aku adalah laki-laki yang jatuh cinta pada ketiadaan, bayangan perempuan yang terenggut oleh cintanya pada orang lain.
Langganan:
Komentar (Atom)


