Cari Blog Ini

Laman

Powered By Blogger

Kamis, 04 Maret 2010

antara kita

“Apa…!!” aku berteriak senada dengan hatiku.
Nania tersenyum. ”kaget ya...?” Tentu saja aku kaget setengah mati bukan karena kamu jatuh cinta pada Eksan tapi karena aku juga menaruh rasa yang sama sepertimu. Aku tak pernah berfikir karena persahabatan yang kita jalin akan membuat kita akan menyukai tipe cowok yang sama.
“Valent…” Nania mengguncang tubuhku. Aku tersenyum, mencoba menawarkan kekagetan dan mungkin saja perasaan tak rela.
“Kok bisa kamu suka sama cowok kaya’ dia bukannya kemarin kamu benci setengah hidup sama dia?”
“Mmm...mungkin karena itulah aku merasa banyak sekali kelebihan dia dibalik sikap sombongnya.”
“Termasuk setelah kau tahu dia anak band?!” Aku tak menyangkal aku juga merasa kagum setelah tahu Eksan adalah anak band dan sekarang grup bandnya lumayan melejit sebagai band indie di kota ini.
“Ya..., you know lah...” Dia kembali tersenyum seolah menggelitik hatiku.
“Terus rencana kamu?” Aku berharap aku bisa bersikap professional untuk tidak memperlihatkan rasa cemburuku.
“Aku belum tau rencana apa yang mesti aku lakukan, yang jelas pedekate dong. Aku tak mau kalah lebih dulu dari Merry.”
“Merry..?!!” Aku kembali ternganga. Ada apa lagi dengan anak itu mungkinkah dia juga sama seperti kami.
“Wah kamu ga gaul sich, si Merry kan jelas banget pengen ngejar si Eksan.” Ternyata dugaanku tepat sekali. Cowok yang semula di benci gara-gara sikap dingin dan angkuh itu tiba-tiba menjadi idola, termasuk aku. Sekarang aku harus bagaimana…berebut cowok dengan sahabatku sendiri dan seorang cewek setajir dan sesexy Merry..
“Val...kok malah bengong sich!!” Nania protes melihat ulahku. Aku kembali terjaga dari lamunanku dan memperlihatkan kelanjutan kata-kata Nania.
“Mungkin ga’ ya aku bisa ngalahin si Merry, kamu tau sendiri kan siapa Merry...” aku tau apa yang ada dalam hatimu sobat. Sama seperti dalam hatiku.
“Val...” kembali Nania memanggilku marah, karena aku tak juga menjawab pertanyaannya.
“Santai aja, jangan menyerah sebelum mencoba. Belanda masih jauh girl, kesempatan menang masih banyak. Apalgi kalau kita tetap menjaga persatuan dan kesatuan..!!”
“Ughh...kamu itu! Aku kan serius kok kamu malah becanda, ga lucu tau!”
“Siapa juga yang becanda, kalau kita bersatu pasti kita bisa..!” Aku ga’ tau mengapa kata-kata itu bisa muncul begitu saja. Jujur dalam hatiku. Dan itu berarti, aku telah merelakan hatiku untuk Nania.
“Kita akan bersatu untuk berjuang merebut Excel dari kejaran Merry” meskipun aku tak yakin apakah aku tak akan terluka. Kata-kataku nasionalis banget ya. Maklum bulan agustus.
“Maksudnya bersatu...”
“Ughh..dasar telmi! Maksud aku, aku bantu kamu buat ngedapetin Excel, begete...”
“Ohh..kalau itu harus dong !!!” masak sih aku harus ngomong jujur kalau aku ingin kita bersatu untuk ngedapetin Excel dari Merry dan jika Excel sudah di tangan kita terserah Excel mo pilih aku atau kamu Nania. Ah, sudahlah bukankah aku sudah merelakan Excel untuk Nania. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan aku juga Nania. Dan satu lagi sampai kapanpun aku takkan rela jika excel mendapat cewek seperti Merry. Aku tak rellllaaaa…!!!
“Kok bengong terus sich Val...” aku kembali dibangunkan Nania. Aku tersenyum. Kamu adalah sobat terbaikku dan aku lebih suka merasakan luka daripada harus melihat kau yang terluka.
“ayolah...kelas sudah mulai tuh !” Nania menarik tanganku dan aku tak bisa untuk tidak menurut.
☼☼☼
“Duluan ya Val...” deny menyapa saat aku berdiri di luar toilet menunggui Nania. Aku tersenyum pada mereka. Deny dan Excel. Sedangkan Excel masih seperti biasa diam tak peduli. Dasar angkuh…
“Niaaaa..!, buruan pangeranmu lewat tuch !” aku menanggil Nania dengan suara tak begitu keras takut terdengar Excell dan Deny.
“Bruaak..” tiba-tiba pintu terbuka dengan keras. Dan wajah Nania nongol dengan ekspresi yang penasaran membuatku tersenyum.
“Heh..mana ?!!” ucap Nania marah.
“ya sudah lewat dong. Kamu sich di dalam kelamaan,” Aku kembali tersenyum geli. Ternyata jatuh cinta sedemikian hebohnya bagi Nania. Jauh berbeda denganku yang cenderung tak mau memperlihatkannya.
“Ughh...” runtuknya sambil menggaruk rambutnya, menyesal.
Sekarang giliran aku yang mendorongnya untuk segera melangkah pulang. Kami melangkah menuju parkiran, ternyata Excell, Deny, Anton dan Rio belum juga mau beranjak pergi. Aku tersenyum mencoba menyapa mereka.
“kok belum pada pulang?“ Tanya Nania. Aku yakin basa-basi untuk menggaet Excell dan pasti Nania berharap semoga Excell yang menjawab.
“sebentar lagi, nunggu Risky.” Ternyata yang jawab Deny lagi, hahaha...Aku tersenyum dalam hati karena Excell tetap saja diam. Matanya tak mau memandang kami dan itulah yang membuat kami mendedikasikan dia sebagai cowok paling nyebelin dan paling angkuh di kampus kami atau tepatnya di kelas kami. Aku melihat Nania kecewa persis seperti dugaanku. Aku paling malas berbasa-basi seperti ini dan mungkin juga cowok itu menganggap aku juga angkuh seperti Excell. Aku tak begitu peduli yang penting aku tidak seperti itu, buktinya aku yang lebih sering menyapa mereka duluan. Tapi biasanya aku langsung pergi sich..seperti sekarang.
“duluan ya, “sapaku sambil menarik nania. Dengan muka sewot nania mengikutiku, dan aku kembali tertawa dalam hati. Aku mengedarkan pandanganku untuk mencari sepeda motor berplat nomor AB 4950 WB milikku dan memaksa Nania untuk ikut mencari diantara ratusan motor di parkiran ini.
“Excell...” sebuah teriakan yang lumayan kencang terdengar jauh dari tempat kami berada. Aku menoleh sekedar ingin tau. Dan rupanya nania juga sama. Mungkin karena panggilan itu ditujukan untuk excell. Dari jauh kulihat Merry berlari kecil mendekati excell.
“Ugh... mau apa lagi mak lampir itu?” Nania tidak suka melihat merry
“Huss... cantik gitu dibilang kaya’ mak lampir,“ meskipun tak suka namun aku tak seekstrim Nania.
“Cantik sich, tapi...” Nania tersenyum. Aku diam saja karena sibuk mengeluarkan motorku dari jejeran motor yang lain.
“Suaranya yang sok manis malah mirip tawa mak lampir..hahaaa..” Nania meneruskan kata-katanya dan tertawa sendiri. Aku tersenyum menyetujui. Aku sempat menoleh ke arah Merry dan kerumpulan Excell. Entah apa yang mereka bicarakan sepertinya Merry merengek minta sesuatu. Aku tak bisa mendengar pembicaraan mereka sehingga aku lebih baik pergi saja. Aku menghidupkan mesin motorku dan bergerak pulang. Nania kaget dengan kepergianku dan berteriak memanggil. Salah sendiri siapa suruh hanya berdiri mematung saja.
Sesampainya di jalan mobil excell menyalip kami, dan sempat kulihat merry duduk tepat disamping kemudi excell, ughh...seharusnya kan aku. Semoga saja Nania tak tahu. Kalau saja dia tahu pasti terjatuh dari motor gara-gara menangis berguling-guling, hehe...dan dugaanku selalu benar. Dia tak menunjukkan reaksi apapun berarti memang tidak tahu, untung saja…
☼☼☼
Sejak nania memberitahuku perasaan sukanya pada Excell, mau tak mau aku harus selalu siap membantunya meskipun aku hatiku harus menangis perih. Tak jarang aku tersenyum mendapati kegagalan Nania mendekati Excell namun sesudahnya aku membantu lagi. Tak banyak yang bisa aku bantu, bukan karena aku tak rela jika akhirnya Excell menjadi pacar Nania, tapi bagaimana aku bisa membantunya kalau aku juga tak pernah bisa dekat atau sekedar bercakap dengan Excell. Aku terkenal tak suka banyak bicara dengan orang yang tak terlalu aku kenal seperti excell. Dan sepertinya Excell mempunyai sifat yang sama. Mungkin karena punya sifat yang sama itulah yang membuatku menyukai excell, jauh sebelum tahu kalau dia anak band. Jadi anak band bukanlah alasan aku jatuh cinta pada Excell. Aku telah terhipnotis oleh sikap baik yang pernah ditunjukkannya padaku beberapa waktu lalu. Saat aku sendiri, dia menyapaku ramah dan kami berbicara sebentar. Tak ada nada sombong yang salama ini melekat pada dirinya, justru waktu itu aku banyak menemukan kelebihan dia. Kepandaian, kedewasaan, dan sedikit banyak tentang keberadaanya sebagai seorang anak pejabat tanpa bermaksud menyombong sama sekali. Sekarang setelah aku tahu dia anak band rasa kagum itu menjadi melambung, bukan karena aku kagum pada ketenarannya tapi sebaliknya sebuah kerendahan hati untuk tidak mau memperlihatkan kelebihan dan ketenaran itu di lingkungan kampus dan teman-temannya. Tapi sekarang aku harus menghapus rasa itu demi sahabatku..

☼☼☼
“Val...kok dari tadi ga’ aktif terus sich, malah aku kena mailbox, wah pulsaku habis dong..pinjam Hp mu buat miscall ya? “ pinta nania malam itu di kos kami. Kami memang tinggal di kos yang sama, kuliah di fakultas, jurusan dan angkatan yang sama. Itulah membuat hubungan kami erat melebihi pertemanan biasa bahkan cenderung seperti saudara. Aku mengangguk.
“Tapi awas kalau kena mailbox lagi...!! kamu harus mengganti pulsanya” ancamku tak sungguh-sungguh.
“Gampang lah nanti kalau jatah bulananku datang meskipun pulsamu ga’ berkurang pasti aku isi!” Aku tersenyum.
“Gombal kamu...” aku menepuk pundaknya. Dia juga tersenyum dan tak lama dia mendelik kegirangan. Dari bahasa isyaratnya aku tahu kalau telpon itu masuk.
“Sorry Cell, ini Nania bukan Valent” Aku diam mencoba mengikuti apa yang akan mereka bicarakan.
“Ga’ ada apa-apa kok. Cuma iseng aja. Lagi ngapain?” Ternyata mereka benar-benar ngobrol tanpa ada alasan khusus untuk di omongkan.
“Asyik dong? boleh dong ikutan? ”
“bener loh..”
“kapan..?”
“bener loh aku pasti datang. Jarang-jarang aku dapat tawaran kaya begitu. ”
“ada, ni ada disampingku..” Nania melirik ke arahku, aku mengernyit penasaran.
“Ya pasti aku sampaikan salam manisnya.” Aku tersenyum. Wah berarti aku dapat salam nich..
“Ya sudah, met malam ya met latihan semoga besok sukses.” kalimat itu mengakhiri percakapan mereka. Dan nania bersorak dan bercerita padaku dengan girangnya. Besok Excell maen di lapangan Megaria dan meminta Nania datang. Aku jadi ngiri, mengapa Nania tidak mengajakku. Tapi tak apalah asal Nania senang pasti aku juga senang. Lagipula jika aku ikut bukankah aku hanya dijadikan sebagai obat nyamuk, daripada menangis darah bukankah lebih baik aku membalut lukaku dengan nonton tv atau apalah. Aku sungguh Tak menduga ternyata semudah itu untuk mendekati excell.
☼☼☼
Aku berjalan tergesa-gesa. Nania sudah duduk dan kulihat tak ada tempat lagi untukku. Mau tak mau aku melangkah agak kedepan mencari kursi lain yang kosong.
“huuuuh...” aku mengeluarkan napas lega. Aku duduk paling ujung deretan ketiga dari depan dan harus berpisah dengan orang-orang terbaekku di kelas ini. Semoga disini aku bisa insaf mengikuti kuliah dengan baik soalnya jika didekat gengku pasti cekikan sendiri. Aku mencoba mencari posisi duduk senyaman mungkin. Aku menoleh kesamping kiriku karena di samping kananku tidak ada kursi lagi hanya pembatas antara deretan bangku kiri dan kanan. Upps..ternyataEexcell. Aku kaget dan girang bukan kepalang. Pasti kalau Nania tahu memakiku habis-habisan. Excell juga menoleh dan tersenyum padaku. Oh my GOD, aku tak tahan. Aku balas senyum dan memilih mencoba focus ke depan. Aku tak ingin rasa suka itu menyerangku habis-habisan. Excell bersikap sama.
“Huaaaaah…” aku menutup mulutku karena kantuk mulai menyerang. Rasa malas mengikuti kuliah selalu saja menjadi penyakit menahun bagiku. Kalau saja aku disamping sahabat-sahabatku, pasti aku sudah tertawa cekikikan. Ngerjain teman-teman atau saling berbagi cerita seru dan lucu. Aku mencoba menoleh ke belakang tempat Nania dan gengku yang lain. Samara-samar aku mendengar tawa mereka sama seperti kebiasaanku. Aku mencorat-coret kertas yang seharusnya aku pakai untuk mencatat kuliah. Menggambar, berkreasi membuat tulisan yang unik sampai membuat cerita lamunan.
“Buat diary...?” tiba-tiba sebuah pertanyaan mendarat di kupingku. Aku kaget dan menoleh kearah excell.
“Hmm…..bukan diary tapi belajar nulis ja.” Jawabku jujur dan malu-malu.
“Suka nulis cerpen ? ”
“Ga’ cuma sekedar iseng aja kok.” Aku menjawab dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya, sedangkan Excell cukup serius dengan pertanyaanya. Aku semakin malu tapi senang..
“Biasanya cewek suka nulis diary ya?” loh kok dia malah ikut-ikutan ga ngikuti kuliah.
“Kebanyakan sich seperti itu, tapi ga’ semua, termasuk aku.” Aku lihat dia setengah manggut tanda mengerti. Tiba-tiba mataku menangkap sebuah majalah dikursinya tepat dibawah kertas yang digunakannya untuk mencatat. Dasar anak band, kuliah saja bawa majalah kaya’ gitu.
“boleh pinjam majalahnya ga?” lumayan buat mengusir rasa bosan. Tanpa menjawab dia sudah mengulurkan majalah itu. Aku mencoba menggeser posisi dudukku agak mendekat kearah excell takut ketahuan. Da aku mulai asyik membuak lembar demi lembar majalah musik. Aku tersenyum senang saat menbaca sebuah lirik lagu. Dari pada ketahuan aku tidak mencatat aku mengganti catatanku dengan lirik lagu itu.
“Suka dengan lagu itu..” Excell bertanya lagi. Aku mengangguk.
“Oh ya...kok kemarin ga’ ikut Nania?” Dahiku berkerut berpikir. Ikut kemana? Tapi dalam sekejap aku ingat nania menonton konser band Excell sendiri dan pulang kecewa karena tak bisa bertemu Excell. Kok dia bisa tau kalau aku ga’ ikut, bukankah mereka ga’ ketemu.
“Emangnya aku juga di undang, ga’ kan ? ” aku tersenyum protes.
“ya tentu dong..aku ngundang kalian berdua.” jawaban excell juga bisa dipercaya dan membuatku heran kok bisa Nania tak mengatakannya, yah sudahlah..
“Maaf waktu itu aku lagi ada acara..” aku berbohong (acara tidur maksudnya..) dan percakapan kami terhenti karena dosen telah meninggalkan kelas bersamaan dengan teriakan Nania memanggilku dan aku harus menghindarinya..
☼☼☼
Sebuah petikan nada di dendangkan Excell, tumben banget biasanya dia paling ogah disuruh memainkan gitar di kampus atau disekeliling teman-temannya. Mungkin saja acaranya hanya kumpul bareng anak-anak sekelas, anak biologi angkatan 05 jadi ga ada salahnya dia sekedar nyumbang lagu. Kemarin pas acara pengakraban maru, dia benar-benar ga mau disuruh maen gitar dan pergi begitu saja membuat panitia geleng kepala tak mengerti. Sekarang tanpa disuruh dia sudah meminta gitar dan memainkan kepiawainnya. Aku diam mencoba menebak lagu yang dibawakannya. Dari melodinya aku sudah tak asing lagi..
“hello my fren we meet again..” tuh kan ternyata lagu Creed. Aku paling tak bisa bahasa inggris tapi habis mencatat liriknya kemarin aku jadi hafal. Haaah...bukannya lagu itu yang aku catat dari majalahnya kemarin. Jangan-jangan lagu itu memang dinyanyikan buat aku. Ceilee…kok aku jadi kege-eran begini. Aku mencoba menepisnya. Dari sampingku kulihat Nania ikut bernyayi mengikuti suara Excell. Pasti seneng banget tuh anak. Merry berjingkrak-jingkrak tak berapa jauh dari Excell. Ugh..membuatku malas dan aku bergegas pergi menjauh dan berkumpul dengan temanku yang lain duduk lesehan sambil menikmati segelas es teh. Aku kembali terkejut saat tiba-tiba Excell ikut bergabung dengan kami. Tak biasanya bukankah biasanya dia lebih senang ngobrol bareng Deny dan kawan-kawannya yang lain daripada dengan kami. Bahkan pernah kami menganggapnya tak mau berteman dengan kami karena status kami hanyalah orang biasa, tak gaul dan tajir seperti teman-temannya. Sekarang aku tak berfikir seperti itu, Excell bukan seperti itu.
“wah Excell permainan gitar kamu bagus banget loh..“ tiba-tiba Nania datang dan duduk tepat disebelah Excell.
“Terima kasih” jawab Excell lugas. Tiba-tiba dia berdiri sambil membawa gelasnya. Tanpa pamit, hanya sekedar tersenyum kearah kami.
☼☼☼
“Val...excell tak ada.” Kata nania sore itu saat kami mencoba mengubungi excell lewat no kosnya. HP nya tidak aktif sehingga kami mencari alternatif lain untuk menghubunginya. Dan dari teman kosnya nania tahu kalau excell tidak ada di kos. Kemana sich itu anak.
“Sabarlah nia.” Aku mencoba meredakan kegelisahan Nania.
“Aku harus mendapatkan keputusan itu sekarang!“ Aku diam membenarkan kata-katanya. Besok adalah ulang tahun Nania dan dia ingin merayakan bareng Excell. Menurut kami Excell takkan mau jika tanpa teman-temannya. Nania berencana mengajak semua teman Excell agar Excell mau. Nania hanya ingin Excell dan tanpa Excell dia tak ingin merayakan ulang tahunnya. Semua tergantung Excell, jika sekarang Excell bilang tidak mau percuma saja dia mengajak teman Excell.
“Nia sudahla, sebentar lagi mungkin Hpnya aktif atau dia sudah pulang ke kos dan menghubungi kamu. “ Aku mencoba menghibur meskipun tak yakin dengan kata-kataku sendiri. Bagaimana mungkin Excell menghubunginya jika kemarin saja dia mengaku tak ada di kos, saat nania menghubungi kosnya. Padahal kami sempat mencium gelagat bohong ketika bertanya siapa yang mencarinya. Aku cukup yakin excell ada di kos waktu itu. Aku tak mengerti mengapa Excell setega itu tak mau menerima telpon Nania. Mungkin saja Nania terlalu agresif mengejar excell. Ah semoga saja excell mau datang di ulang tahun Nania. Air mata Nania menetes membuatku ikut larut dalam kesedihanya. Ingin rasanya aku memaki Excell. Rasanya pengorbananku sia-sia sudah. Tangis Nania adalah tangis untukku juga. Aku mencoba menghubungiEexcell dengan Hpku. Terdengar nada sambung dan sebelum diangkat aku mendengar tanda panggilan itu ditolak. Mengapa dia juga tak mau menerima telponku juga, ah..aku makin sedih.
☼☼☼
“Excell..”panggilku saat kami berpapasan. Dia terus saja melangkah pergi tak peduli dengan panggilanku.
“Excell..”aku mencoba memanggilnya sekali lagi. Aku berlari mengikuti langkah kakinya. Tapi aku tak berhasil. Tubuh jangkungnya telah membuatnya langkahnya terlalu jauh untuk kukejar.
Aku berhenti dan terengah-engah namun aku tetap memanggilnya pasrah “Excell..please dengarkan aku.” pintaku memelas. Excell berhenti dan menoleh kearahku. Aku berlari mendekati.
“Excell..apa salahku sehingga kamu tak mau ngomong sama aku.“ Tanyaku tak suka dengan tingkahnya.
“Kamu tak salah..”jawabannya mengambang.
“Terus kenapa kamu tak mau ngomomg sama aku?” Excell diam tak mau menjawab. Aku tak peduli dia mau ngomong sama aku apa tidak, yang jelas demi Nania aku harus berhasil merayunya agar mau datang.
“Excell..” Aku mencoba mengatur nafasku.
“Kamu mau kan datang ke acara ultah Nania ?” Excell masih saja diam membuat aku tak sabar. Tapi menghadapi cowok ini aku harus sabar.
“Please excell...” pintaku memelas. Andai saja ada orang lain yang melihat. Mukaku lebih memelas daripada seorang pengemis yang tidak makan selama 3 hari. Excell menatapku. Semoga ia masih punya rasa iba.
“Kenapa aku harus datang, bukankah yang lain masih banyak.” Aku terhenyak. pertanyaannya benar-benar menohokku. Aku diam. Jika aku mengatakan sesungguhnya aku takut Excell malah ga’ mau datang atau bisa membuat Nania malu.
“Ultahnya kan diadakan di puncak, sementara kita kebingungan soal transportasi. Jadi mungkin kita bisa bawa mobil kamu.” Meskipun masuk akal aku takut jawaban ini justru jadi boomerang bagi Nania. Excell diam lagi.
“Please excell..meskipun kami butuh mobil kamu tapi kedatangan kamu lebih membahagiakan dari semuanya.” Sekali lagi aku kembali berharap semoga hatinya tergugah.
“Ya sudah bawa saja mobilku..! Aku masih ada acara.” jawabnya ketus membuatku ingin menamparnya. Dia sama sekali tak mempedulikan permohonanku.
“Please kamu jangan salah paham. Tanpa mobil kamu pun kita bisa pergi. Nania butuh kamu datang Excell..” Aku tak peduli di anggap memutar balikkan kata-kata.
“Maaf Val, jangan pernah paksa aku. Aku sendiri tak bisa memaksa perasaanku dan kamu juga tak berhak. Aku sama sekali tak ingin pergi. Jika memang kalian ingin bawa mobilku, bawa saja dan bilang sama Nania selamat ulang tahun!” Aku terperanjat dengan kata-katanya. Kembali aku harus merasakan patah hati tapi buka untukku tapi untuk sahabatku.
“Excelll...” Aku mendengar suara mak lampir datang menghampiri kami.
“Excell aku numpang lagi ya?” Excell berlalu dari hadapanku, begitu juga Merry. Mobil excell berlalu meninggalkanku dengan pikiran kalut bagaimana caraku mengatakan pada Nania.
Sementara suara nyaring mak lampir itu masih kudengar ”Excel…tunggu…” teriak Merry dengan wajah pias, penuh jengkel.

Tidak ada komentar: