Cari Blog Ini

Laman

Powered By Blogger

Selasa, 25 Mei 2010

Home » Groups » Fantasi story
PERJALANAN BARU (fantasi 7)
User fane earned 5 points Total now is 80 points.

Matahari terik siang hari terasa menyengat di daerah letak pantai seperti Erda, namun panasnya sama sekali tidak menghalangi niat penduduk kota untuk datang berkumpul di sekitar halaman istana raja. Kerumunan itu membuat antrian panjang hingga pusat kota demi menantikan munculnya sang raja baru.

Penantian itu akhirnya terbayar begitu sosok gagah dalam jubah kebesaran dan mahkota di kepalanya muncul dari balik gordin balkon istana utama. Sorakan riuh rendah menyambutnya, sang raja yang baru saja dilantik.
Read more (2115 words)

Raja itu berpidato. Sorakan riuh rendah pun berhenti. Semuanya khusyuk mendengarkan suaranya yang penuh wibawa. Semua, kecuali satu sosok berkerudung coklat tua yang berdiri di dekat pintu gerbang kota. Penjagaan tidak seketat biasanya, sehingga dengan lincah dan mudah, sosok itu menyelinap keluar begitu penjaganya lengah. Baru ia berjalan beberapa meter meninggalkan kota, terdengar lah sorak sorai lagi. Nampaknya raja sudah selesai berpidato. Ia pun pun tersenyum sinis sambil menaikkan kerudung itu lebih lagi, supaya lebih menutupi wajahnya.

“Hari yang indah, bukan?”

Orang berkerudung itu menoleh dan mendapati seorang saudagar setengah baya duduk di atas kereta terbuka yang ditarik seekor kuda. Dari arah mereka menghadap, nampaknya sama sepertinya, saudagar itu baru saja meninggalkan Erda.

“Ya, hari yang indah,” balasnya. “Meninggalkan Erda di hari indah seperti ini, Tuan?”

Saudagar itu menganguk.. “Begitulah. Aku hendak pulang ke kampung halamanku di Mortary. Bisnis berkembang baik di ibukota ini, tapi aku rasa sudah waktunya aku memanjakan keluargaku.”

“Anda seorang yang baik, Tuan,” puji orang berkerudung itu. ”Ngomong-ngomong sudikah anda bila pengelana miskin seperti saya turut menemani anda sampai di Mortary?”

Saudagar itu tersenyum hangat. “Tentu saja, teman. Lompat dan naiklah ke keretaku. Perjalanan terasa lebih lama tanpa seorang teman.” Orang berkerudung itu pun melompat naik dari belakang kereta yang penuh dengan barang-barang. Ayo kemari dan duduk di sebelahku dan lepaskan saja kerudungmu itu. Kelihatannya panas.”

“Tentu, Tuan,” sahut orang itu. “Terima kasih.” Orang itu pun duduk di sebelah si saudagar dan melepaskan kerudungnya. Ia seorang pemuda berambut dan bermata hitam yang memiliki senyuman semanis malaikat.

Saudagar itu pun sedikit tercekat melihatnya. “Wah, ternyata seorang pemuda yang tampan.”

Pemuda itu pun tertawa. “Anda bisa saja.” Tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak di balik jubah yang dipakainya. Hal itu menarik perhatian sang saudagar.

“Apa itu?!”

“Oh. Ini piaraanku.” Pemuda itu pun melonggarkan sedikit jubahnya. Dari balik jubahnya, muncul kepala makhluk berbulu putih. “Anak serigala putih,” ujar si pemuda sambil tertawa.

Saudagar itu pun ikut tertawa. “Pujilah Sang Pencipta. Nampaknya aku tidak akan bosan sepanjang perjalanan ini.”
****

Tiga hari sebelumnya...

Jilatan lembut dan basah di pipinya, membawa Rafe kembali ke alam sadar. Ia mengerang karena jilatan itu semakin lama semakin mengganas. Tangannya pun mengibas untuk mendorong apapun yang menjilat basah wajahnya pergi, tetapi akibatnya pelaku penjilatan itu melompat dan menginjak tubuhnya untuk menghindar kibasannya.

“AUW!” erangnya. Segera dikenalinya, pelaku penjilatan itu ternyata anak serigala berbulu putih yang diselamatkannya. Ia mencoba bangun, tapi semerta-merta rasa nyeri menghantam bahu kirinya. Rafe mengernyit sambil meraba daerah yang terasa sakit itu. Dibalut perban dan masih berbercak merah darah.

Kemudian ia menyipitkan matanya bingung mencoba mengenali lingkungan sekelilingnya. Langit-langit kayu yang rendah dan hanya disinari oleh sebuah batu ilumina yang dipasang di salah satu sudut ruangan itu. Ah, ini salah satu ruangan di bawah tanah gudang kosong yang tidak pernah dipakai lagi. Ia dan anak buahnya biasa mengadakan pertemuan di tempat ini.

Begitu ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya, memori terakhirnya pun langsung kembali.

“Dasar kau pengkhianat!” serunya penuh amarah malam itu.

“Bagi rakyat, kau dan Ayah adalah pengkhianat yang sebenarnya,” sahut Ethan dingin. “Keegoisan kalian hanya akan membawa kematian bagi negeri ini!”

“Masih lebih baik daripada kau yang mau menjual negeri ini!”

Ethan mendengus penuh kebencian. “Kau memang susah diajak bicara baik-baik.” Tanpa banyak basa-basi lagi dan Ethan menyerangnya tanpa keraguan. Adu pedang tak terelakkan. Rafe menghindar tapi satu tebasan menyerempet arteri besar di bahu kirinya. Beruntunglah Nelsha bersamanya. Selain sangat membantu dengan menumpas habis para prajurit yang hendak membunuh mereka, Nelsha juga yang membawa Rafe kabur dari istana yang terkepung para pengkudeta itu.

Di saat Ethan lengah, gadis huma-anima itu mengeluarkan jurus menghilangnya dengan sebuah bom asap - jurus yang merupakan salah satu teknologi buatan huma-anima. Rafe hanya ingat ia bersama Nelsha yang memapahnya, berjalan terseok-seok dalam kegelapan malam menyusuri sudut-sudut kota Erda yang sudah mulai sepi. Entah berapa lama mereka berjalan, Rafe tidak tahu. Begitu sadar, ia ada di tempat ini.

Luka itu masih terasa sakit, namun tidak sesakit hatinya yang merasa dikhianati, memikirkan ayahnya yang mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini, dan... Al. Entah apa yang akan terjadi pada adik laki-lakinya yang polos dan manja itu. Tak sanggup rasanya Rafe membayangkannya. Tangannya mengepal erat saking geramnya.

Ia marah. Sangat marah terhadap keadaan yang memojokkannya seperti ini. Ia tidak memiliki apapun yang dapat digunakan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. “Sial... Sial! Sialan kau, Ethan!!”

Kemudian terdengar suara pintu dibuka, Nelsha muncul dari balik pintu membawa nampan berisi makanan dan minuman. Gadis itu nampak lega melihat Rafe. “Anda sudah bangun, Pangeran?”

Rafe tidak langsung menjawab. Tatapannya menatap gadis itu kosong. “Sudah berapa lama aku tertidur?”

“Dua hari, Pangeran.”

“Bagaimana keadaan di luar sana?”

Gadis huma-anima itu tidak langsung menjawab. Ia nampak gelisah.

“Katakan saja yang sebenarnya,” kata Rafe lagi tanpa emosi.

Nelsha menganguk. “Yang Mulia Raja dinyatakan wafat karena sakit dan Pangeran Ethanael naik tahta tiga hari dari sekarang. Sementara dirumorkan, Pangeran Alvaro akan pergi ke Verosha, ibukota Faran, untuk melaksanakan pertunangan dengan putri Faran.”

Tanpa sadar Rafe mengepalkan erat kedua tangannya hingga buku-buku jarinya nampak keputihan. “Lalu..” Mulutnya terasa kering. “Apa yang dikatakannya tentang aku?”

Nelsha semakin gelisah. “...anda.. dicurigai sebagai penyebab kematian Yang Mulia Raja..yang diduga karena... ehm... racun...”

Rafe pun tersenyum getir. “Sial....,” umpatntya. Ia terdiam. Rahangnya terkatup erat. Dicobanya mengendalikan emosi yang hampir meluap. Ya, Rafe sadar. Ini bukan saatnya bersedih atau marah pada situasi. Tetapi berita itu terasa sangat menyakitkannya, sampaikan ia lupa pada luka fisiknya. Dipejamkanlah kedua matanya sambil dua kali menarik nafas panjang. “Kau bilang penobatan si pengkhianat itu tiga hari dari sekarang?” Akhirnya ia berkata sesudah emosinya lebih bisa dikendalikan.

“Benar, Pangeran.”

“Kita berangkat di hari itu. Penjagaan pasti lebih longgar dari sekarang.”

“Baik, Pangeran.”

Tetapi Rafe sendiri belum tahu ia harus pergi kemana. Pikirannya diselimuti oleh kabut kesedihan. Ia tak dapat lagi berjumpa dengan ayahnya, bahkan tidak tahu apakah bisa berjumpa lagi dengan adiknya. Kemudian di sudut matanya, nampak olehnya Nelsha seperti ingin menyampaikan sesuatu. “Ada lagi yang ingin kau sampaikan?” Semoga saja bukan berita buruk.

Gadis itu diam sejenak. “Sebenarnya anda dan saya bisa tiba di tempat ini dengan selamat berkat pertolongan dua orang pengelana. Seorang gadis kecil dan seorang pria.”

Rafe pun mengernyitkan alisnya. Sekilas ia teringat kata-kata Danzel yang disampaikan Nelsha sesaat sebelum kudeta itu.

“Nampaknya Erich von Kiessel sedang mencari seorang pria dengan seorang anak yang diduga adalah keturunan permaisuri Faran pertama yang berhasil melarikan diri dari Lokia.”

Memang belum diketahui jenis kelamin anak permaisuri Faran pertama itu. Tapi insting Rafe mengatakan bahwa mereka adalah dua orang yang dicari itu.

“Lalu dimana mereka?”

“Mereka sudah pergi sejak semalam, Pangeran. Menolak untuk mengatakan tujuan mereka.” Nelsha diam sejenak. Raut wajahnya nampak kurang senang. “Anda mengenalnya, Tuan. Gadis kecil itu pemegang pedang Caltha Erda anda.”

Mata Rafe langsung membelalak lebar mendengar ucapan Nelsha. “Benarkah?! Fay? Apa namanya Fay?”

Nelsha membenarkan. “Tepatnya Fay Leen, pria pendampingnya bernama Lon.”

Entah kenapa, tiba-tiba saja rasa semangat timbul di dalam diri Rafe. Kesedihannya pada semua hal yang telah terjadi padanya, seakan diobati begitu mendengar Fay pernah ada di sini, bahkan menolongnya. Bukan. Rafe senang mendengar bahwa gadis kecil itu masih hidup. Gadis dengan kekuatan luar biasa yang ditemuinya di hutan itu.

“Apa anda tahu, Pangeran?” Ucapan Nelsha membuyarkan lamunan Rafe. “Gadis itu dengan tidak sopan berniat mengembalikan pedang pendek lambang cinta anda. Untunglah saya yang mencegahnya dengan mengatakan....”

Nelsha tidak melanjutkan kalimatnya. Ia mengerutkan dahinya melihat Rafe malah tertawa mendengar laporannya barusan. Walaupun pangeran yang satu ini suka sekali mempermainkan wanita, tetapi sebagai pria Zenithia yang sangat mencintai negara dan tradisinya, Rafe selalu menganggap serius makna pedang pendeknya itu. Bila memang pangeran playboy itu memberikannya pada seorang gadis, berarti sudah pasti gadis itu pastilah sangat istimewa baginya. Tetapi reaksi Rafe mendengar gadis itu berniat menolak cintanya itu malah diluar dugaan Nelsha. Apa mungkin saking syoknya, sang pangeran ini malah jadi gila? Apalagi melihat perubahan emosi tuannya yang terlalu drastis.

“Mengapa anda malah tertawa?” Tak tahan, akhirnya Nelsha bertanya juga.

Rafe mengeleleng masih dengan senyuman geli. “Tidak apa-apa. Yang penting, dia tidak mengembalikannya, bukan?” Ia berdeham. “Lalu apa dia meninggalkan pesan untukku?”

Nelsha menganguk. “Katanya bila kelak bertemu lagi, ia ingin mengembalikan sendiri pedang itu pada anda. Selain itu, ia berterima kasih karena telah menyelamatkan Felix dan memenuhi permintaan Rhata.”

“Felix? Rhata?”

Nelsha melirik ke arah anak serigala putih yang duduk manis di sisi temat tidur Rafe. “Katanya itu nama anak serigala ini. Kalau Rhata, saya tidak tahu, Pangeran. Maafkan saya.”

Rafe tersenyum-senyum mendengarnya. Sepertinya anak serigala putih itu sudah berbicara banyak dengan gadis kecil itu. “Hanya itu?”

“Nona Fay Leen juga meminta anda menjaga baik-baik anak serigala ini, karena anak serigala ini sudah memilih untuk mengikuti anda.”

“Benarkah?” Rafe bertanya pada Felix yang menguap lebar seakan tidak peduli. “Kau sudah memilih untuk mengikutiku?”

Felix menjilat-jilat bulu-bulunya cuek.

“Sepertinya aku diacuhkan.” Rafe tertawa lagi.

“Apa anda mengerti maksud pesannya, Pangeran?” tanya Nelsha penasaran.

“Tentu saja, anak kucingku yang manis. Bagaimana pun juga, seorang pria harus pengertian pada tunangannya.”

Nelsha menatap Rafe bingung dengan jawabannya yang tidak menyambung tapi tidak berkata apapun.

“Fay Leen adalah aset yang berharga bagi perjuangan kita,” lanjut Rafe. “Mungkin dia lah kunci keberhasilan kita mengalahkan Faran. Untuk itulah aku memberikan pedang pendek itu, Nelsha.”

“Apa maksud anda, Pangeran?”

Rafe menatap Nelsha tak percaya. “Apa kau tidak menyadarinya? Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa Faran sedang mencari seorang pria dan seorang anak yang lari dari Lokia?”

Gadis itu pun membelalakkan matanya terkejut. Menyadari maksud Rafe. “A..Apa..!”

“Hari aku bertemu dengannya di Lokia adalah hari paling beruntung dalam hidupku.” Rafe tersenyum lebar. Kepercayaan dirinya pulih penuh. “Pedang pendek membuat status kami sementara ini bertunangan. Sekutuku.”

“Saya kira anda mencintainya...”

Ucapan Nelsha langsung membuat tawa Rafe meledak. “Yah, kurasa aku memang cukup tertarik padanya. Ah, sudahlah soal ini.” Rafe langsung beralih topik. Kepalanya sudah cukup jernih untuk berpikir. “Aku rasa aku perlu menemui Kyle.”

“Maksud anda, Kyle putra kepala suku dwarf-Hvarthor?”

Rafe membenarkan. “Tapi aku akan pergi sendiri. Biar Felix saja yang menemaniku. Kau lanjutkan saja tugas yang pernah kuberikan padamu.”

“Maksud anda, menyelidiki tawanan perang yang dikumpulkan di El Sado?”

“Ya, pasti ada yang tidak beres bila Faran di belakang ini semua.”

Nelsha menunduk hormat, kemudian pamit untuk berlalu dari kamar itu. Sepeninggal Nelsha, Rafe menarik nafas panjang. Sudah sejak tadi bibirnya menyunggingkan senyuman lebar dan matanya bersinar penuh harapan. Kabut kesedihan yang tadi menyelimuti dirinya berganti dengan sinar pengharapan. Sekalipun memang ada sedikit kesedihan itu tersisa di dalamnya, tapi biarlah itu menjadi pemacunya untuk mewujudkan perdamaian ini.
****

Pemuda itu tersenyum simpul sambil melambaikan tangannya sekali lagi dan ia pun berlalu. Walau hanya sehari, ia senang bisa tinggal di antara kehangatan keluarga si saudagar yang baik hati itu dan di sebuah kota kecil yang tenang seperti Mortary.

Kemudian ia berjalan menuju sebuah pohon rindang yang besar tak jauh dari sana, yang diyakininya akan melindunginya dari pandangan. Dirogohlah benda yang tergantung di lehernya. Sebuah batu mungil sebesar kuku nampak rapuh dan berpendar hijau hampir redup. Oleh dua jemarinya, batu mungil itu diremuk dan sinar hijau itu pun langsung redup lenyap. Selanjutnya berangsur-angsur warna hitam rambut si pemuda mewarna pirang emas. Matanya yang hitam pun menjadi kebiruan. Kembali menjadi Rafe.

Betapa bersyukurnya ia, karena ia masih menyimpan sedikit batu magis di gudang persembunyian itu. Kalau tidak, tidak mungkin ia bisa melakukan sihir ilusi seperti yang barusan dilakukannya. Batu itu memperkuat kekuatan sihirnya.

Rafe pun menatap ke arah pegunungan yang berdiri tegak jauh di hadapannya. Perjalanan menuju gerbang kota dwarf, Ruhenheim, yang terletak di kaki pegunungan Baldur sekitar dua sampai tiga hari lagi. Bukan perjalanan yang mudah, mengingat jalanan yang mendaki. Tapi dalam dirinya saat ini, yang ada hanya rasa optimis dan semangat penuh.

Dari balik jubahnya, Felix merontakan kepalanya untuk menghirup udara luar. Anak serigala itu langsung menjilat sayang pipi majikannya dan dibalas dengan belaian lembut di kepalanya oleh Rafe. “Kau lihat, Felix? Itu Pegunungan Baldur yang tegak dan kokoh seperti tekadku.”

Felix seakan mengerti dengan perkataannya, karena mata anak serigala itu menatap lurus arah yang sama dengan Rafe kemudian meronta ingin keluar dari kehangatan jubah Rafe.

“Kau ingin berjalan sendiri?” Pertanyaan itu dijawab dengan gonggongan singkat. “Baiklah.” Rafe menurunkan anak serigala itu. “Ayo, berjalan di sampingku, kawan.”
****


karya: anggra_t http://kemudian.com/users/anggra_t

Tidak ada komentar: